Advertisement

Batik Pakualaman Diadopsi dari Naskah Kuno Berusia 200 Tahun

Yosef Leon
Minggu, 07 Juli 2024 - 17:57 WIB
Sunartono
Batik Pakualaman Diadopsi dari Naskah Kuno Berusia 200 Tahun Suasana pengenalan buku Batik Pakualaman: Antara Tradisi, Sastra dan Wastra oleh GKBRAA Paku Alam di Bangsal Kepatihan Pakualaman belum lama ini. - Istimewa.

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Kadipaten Pakualaman mensosialisasikan buku berjudul Batik Pakualaman: Antara Tradisi, Sastra dan Wastra oleh GKBRAA Paku Alam di Bangsal Kepatihan Pakualaman. Buku tersebut diharapkan bisa memperkaya referensi bagi pecinta batik dan masyarakat luas pada umumnya. 

GKBRAA Paku Alam X mengatakan, salah satu keistimewaan manuskrip Pakualaman adalah keberadaan aneka gambar yang menyertai teksnya. Dari pengalaman itulah terbesit sebuah keinginannya untuk mengalihkan gambar dari manuskrip kuno itu ke wastra batik.

Advertisement

BACA JUGA : Peringatan Hadeging Kadipaten Pakualaman ke-212 Jadi Ruang Pengisi Keistimewaan DIY

Ia mengakui untuk menjadikan selembar kain batik tidaklah mudah. Harus memikirkan gambar apa yang akan dibuat batik. Karena tidak semua iluminasi yang ada di naskah bisa dibatik. Ada syarat-syarat yang luar biasa seperti laku prihatin yang harus dilaksanakan seperti menep, hening, untuk melakukan giat membatik dari naskah menjadi batik.

“Bahkan, naskah-naskah kuno di Pakualaman ini umumnya berusia 200 tahun jadi saya menganggap bahwa naskah-naskah itu hidup, saya tidak bisa membatik sembarangan," katanya sebagaimana dikutip Minggu (7/7/2024). 

Pada kesempatan yang sama juga diperagakan kain-kain Batik Pakualaman di antaranya, Batik Sestra Lukita, Batik Indra Widagda, Batik Yama Linapsuh. Batik Surya Mulyarjo, Batik Bayu Krastala, Batik Wisnu Mamuja, Batik Brama Sembada, Batik Baruna Wicaksana dan Batik Asthabrata Jangkep. Batik-batik ini adalah sebagian kecil dari 120 Batik Pakualaman yang telah dibuat.

Salah seorang narasumber Nyi. M.T. Sestrorukmi saat sesi paparan menyampaikan, filosofi batik mencakup makna-makna mendalam yang terkait dengan budaya, sejarah, dan nilai-nilai yang terkandung pada motif dan teknik pembuatannya. Filosofi mencerminkan identitas dan nilai-nilai spiritual dari masyarakat yang menciptakan batik tersebut.

Dalam Adiwastra atau kain tradisional nan indah, terkandung makna dan simbol tersendiri, yang tersirat didalam wujud dan nama motifnya. Hal ini dikelompokkan dalam empat seri yaitu, Seri Asthabrata, Seri Nges Ruming Puri, Seri Pepadan, dan Seri Piwulang Estri.

BACA JUGA : Puluhan Delegasi Kerajaan Nusantara Hadir di Dhaup Ageng Kadipaten Pakualaman

Narasumber lainnya K.M.T. Widyo Hadiprojo menambahkan batik naskah merupakan sebuah upaya untuk memperkaya motif batik dan sekaligus merupakan tafsir baru atas motif-motif dekoratif lama dengan pemaknaan baru. Meski demikian, kontinuitas masih menjadi pertimbangan dalam penciptaan motif-motif baru. Motif-motif dekoratif lama dalam naskah dialihwahanakan sebagai motif baru batik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Gempa Magnitudo 5,7 Terjadi di Tuapejat Mentawai, Picu Kepanikan

Gempa Magnitudo 5,7 Terjadi di Tuapejat Mentawai, Picu Kepanikan

News
| Sabtu, 04 April 2026, 19:27 WIB

Advertisement

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Wisata
| Jum'at, 03 April 2026, 12:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement