Petani Gunungkidul Dapat Bantuan Program Mina Padi Rp1 Miliar
Sawah seluas sepuluh hektare di Kapanewon Ponjong akan mendapat bantuan pengembangan mina padi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan senilai Rp1 miliar.
Embun yang menempel di daun menjadi beku akibat cuaca dingin yang terjadi di Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung, Sabtu (7/7/2018)./Instagram @adalahkabbandung via Antara
Harianjogja.com, SLEMAN—BMKG Yogyakarta memrediksi fenomena bediding atau cuaca yang lebih dingin terjadi hingga Agustus mendatang. Hingga saat ini rekor suhu terendah mencapai 15 derajat yang terjadi pada 5 Agustus 2015 lalu.
Kepala Stasiun Klimatologi, BMKG Yogyakarta, Reni Kraningtyas mengatakan, fenomena bediding adalah suhu udara lebih dingin dari biasanya. Fenomena ini banyak dijumpai pada saat musim kemarau yang terjadi di setiap tahunnya.
BACA JUGA: Suhu di Jogja Terasa Dingin Padahal Musim Kemarau, Ini Penjelasan BMKG
Ia menjelaskan, bediding terjadi karena adanya pegerakan masa udara dari Australia yang membawa masa udara dinging dan kering menuju ke Asia. Fenomena ini juga melintas di atas wilayah Indonesia.
Di sisi lain, tutuapan awan relatif sediikit dan pantulan panas dari bumi yang diterima sinar matahari langsung terlepas ke angkasa. Sebagai dampaknya, kandungan air didalam tanah menipis, kandungan uap air di udara juga rendah, yang dibuktikan dengan redahnya kelembaban udara.
“Fenomena pergerakan masa udara dinging dari Australia ke Asia disebut juga dengan monsoons Australia. Jadi, hawanya lebih dingin dari biasanya,” kata Reni, Selasa (16/7/2024).
Dia menjelaskan, upaya monitoring terus dilakukan secara berkala. Hasil pemantauan sepuluh hari terakhir, suhu udara terendah di kisaran 19-23 derajat Celsius dengan kelembaban udara permukaan minimum 47-51%.
Meski turun hingga 19 derajat, namun Reni mengakui bahwa suhu tersebut belum masuk paling rendah. Pasalnya, berdasarkan catatan yang dimiliki, suhu terendah di wilayah Slema, Jogja dan sekitarnya sempat mencapai 15 derajat dan terjadi pada 5 Agustus 2015 lalu.
“Diprediksi suhu lebih dingin akan terjadi hingga Agustus mendatang,” katanya.
Adanya fenomena dingin ini, maka bisa berdampak pada Kesehatan. Oleh karenanya, Reni meminta Masyarakat meminta melakukan antisipasi dengan menjaga imunitas tubuh.
Salah satunya dengan mencukupi kebutuhan cairan agar tidak terjadi dehidrasi. Disarankan mencukupi dengan makanan dan minuman yang lebih hangat.
“Pada malam hari gunakan selimut atau pakaian yang lebih tebal. Untuk menghindari kulit kering juga bisa menggunakan krim pelembab,” katanya.
BACA JUGA: Suhu di DIY Dingin Beberapa Hari Terakhir. Ini Penyebabnya
Salah seorang warga di Kalurahan Donoharjo, Ngaglik, Catur Wibowo mengatakan, fenomena bediding sudah terjadi sejak beberapa hari lalu. Hawa dingin akan lebih terasa saat malam hari sehingga ia mengurangi aktivitas di luar rumah.
“Kalau tidak ada keperluan, maka tidak keluar rumah,” katanya.
Menurut dia, hawa dingin yang terjadi saat malam hari, juga membuatnya lebih sering buang air kecil. “Mungkin efek dari hawa dingin jadi sering buang air. Jadi, untuk antisipasi leih banyak minum juga sehingga berimbang,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sawah seluas sepuluh hektare di Kapanewon Ponjong akan mendapat bantuan pengembangan mina padi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan senilai Rp1 miliar.
Ribuan PPPK Gunungkidul hadapi ketidakpastian kontrak, Pemkab masih mencari solusi di tengah aturan batas belanja pegawai 30%.
NHTSA menutup investigasi Honda Odyssey setelah recall 441 ribu kendaraan berhasil mengatasi masalah airbag samping.
Korban tewas gempa Venezuela mencapai 1.430 jiwa. Gempa susulan terus terjadi dan menghambat proses pencarian korban.
Daftar lengkap 32 tim yang lolos ke babak gugur Piala Dunia 2026 setelah Austria dan Aljazair memastikan tiket terakhir.
Sleman mulai Pelatkab 2026 dengan 1.399 atlet menuju Porda DIY 2027, target juara umum lima kali berturut-turut.