PKB Bantul Kukuhkan Pengurus DPAC, Bidik Program Kerja Terukur hingga 2031
PKB Bantul mengukuhkan seluruh pengurus DPAC dan menyiapkan enam fokus pembenahan organisasi. Pembentukan pengurus ranting ditargetkan rampung Desember 2026.
Ilustrasi. /Freepik
Harianjogja.com, JOGJA - UPTD Balai Proteksi Tanaman Pertanian (BPTP) DIY mencatat ratusan hektare lahan perhatian di wilayah setempat terdampak kemarau berkepanjangan yang dirasakan sejak akhir Mei lalu sampai awal Agustus ini.
Kepala UPTD BPTP DIY Suharto Budiyono menjelaskan, ratusan hektare lahan pertanian yang mengalami kekeringan itu paling banyak tersebar di Kabupaten Gunungkidul lantaran usaha pertanian di wilayah itu merupakan tadah hujan, sehingga rentan kekeringan.
"Daerah lain juga ada seperti di Bantul dan Kulonprogo tapi sifatnya masih ringan," ujarnya, Selasa (6/8/2024).
Menurut Suharto, UPTD BPTP DIY memiliki petugas di setiap kecamatan atau kapanewon yang bertugas melaporkan kondisi lapangan lahan pertanian. Berdasarkan laporan petugas ada 367 hektare lahan padi, 135 hektare lahan jagung dan sejumlah lainnya tanaman kacang tanah yang terdampak kekeringan.
"Itu data pertengahan Juli 2024 lalu," ungkapnya.
Adapun lahan pertanian yang terdampak kekeringan itu di antaranya di Gedangsari, Semin, Ngawen, Ponjong, Nglipar, Patuk, Semanu dan Karangmojo untuk Gunungkidul. Sementara Bantul di Dlingo dan Kulonprogo masih kekeringan ringan.
"Sleman, Bantul dan Kulonprogo masih ada embung yang membantu mengairi lahan pertanian sehingga dampaknya tidak terlalu signifikan," katanya.
BACA JUGA: 242 Hektare Lahan Pertanian di Semin Gagal Panen, Kerugian Ditaksir Mencapai Rp1,6 Miliar
Suharto menerangkan, tanaman padi yang terdampak kekeringan itu merupakan komoditas yang ditanam pada musim tanam ketiga pada awal Mei lalu. Petani berspekukasi dengan kondisi cuaca saat itu yang masih terjadi hujan, tapi di akhir Mei hujan tak kunjung mengguyur DIY.
"Pas menanam masih ada hujan, kemudian pada fase vegetatif sudah tidak ada hujan yang turun. Jangankan untuk lahan pertanian, kebutuhan masyarakat saja kurang untuk air bersih," ujarnya.
Dia menambahkan, rencana modifikasi cuaca yang akan dilakukan BPBD DIY mungkin bisa menanggulangi sementara dampak kekeringan lahan itu. Hanya saja tentu tidak terlalu signifikan. Sumur bor dan keberadaan embung disebutnya malah solusi yang paling tepat untuk lahan terdampak kekeringan.
"Namun itu pun juga harus melihat keadaan cekungan di sana. Kalau embung yang ada mata air kan lebih enak dibandingkan embung yang cuma mengandalkan curah hujan," pungkas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PKB Bantul mengukuhkan seluruh pengurus DPAC dan menyiapkan enam fokus pembenahan organisasi. Pembentukan pengurus ranting ditargetkan rampung Desember 2026.
BGN mencatat realisasi anggaran MBG Rp165 triliun, menjangkau 58 juta penerima dan menyerap 1,03 juta tenaga kerja lokal.
DPRD Kota Jogja mengalokasikan Rp1 miliar-Rp1,5 miliar untuk integrated farming di Bener yang terintegrasi dengan pengolahan sampah organik.
El Nino memperpanjang kemarau dan memicu kenaikan harga cabai merah di DIY. Simak harga terbaru dan prediksi panen November 2026.
Sebanyak 33 negara mengimbau warganya menyiapkan stok makanan, air, obat-obatan, dan perlengkapan darurat untuk kebutuhan 72 jam.
Ferrari 550 Maranello 1997 bekas Michael Jordan terjual Rp48,9 miliar. Harga lelangnya jauh melampaui estimasi awal sebelum penjualan.