Libur Lebaran Restoran di Kulonprogo Sempat Penuh, Tak Seramai Tahun Lalu
Sejumlah restoran di Kulonprogo sempat dipenuhi pengunjung saat libur lebaran ini.
Petani melon di Kapanewon Panjatan mengecek kondisi buah yang ditanamnya agar tidak gagal panen, beberapa waktu yang lalu.
Harianjogja.com, KULONPROGO—Perubahan iklim yang terjadi dengan cuaca yang tak menentu berdampak pada pertanian lahan pasir di pesisir selatan Kulonprogo.
Hujan yang tiba-tiba turun atau angin kencang yang kerap melanda menyebabkan tanaman petani pesisir Bumi Binangun ini banyak yang roboh. Tanaman yang roboh karena hujan deras dan angin kencang itu antara lain cabai, melon, dan semangka.
BACA JUGA: Memasuki Musim Kemarau, Petani Bantul Mulai Panen Jagung dan Kacang Tanah
Salah satu petani pesisir Kulonprogo di Kapanewon Galur, Sunarji menyebut kejadian robohnya tanamannya menyebabkan produktivitas menurun. Menururnya, cuaca tak terprediksi itu kerap terjadi pada Agustus lalu.
"Kalau sekarang sudah lebih stabil, semoga di akhir bulan sampai Oktober nanti lebih terkendali cuacanya karena itu momen panennya," ungkapnya, Senin (16/9/2024).
Bila badai atau hujan dengan intensitas tinggi muncul saat panen, menurut Sunarji, kemungkinan besar akan terjadi gagal panen. Kemungkinan itu didasarkan pada pengalamannya pada 2022 silam, peristiwa dua tahun lalu itu menyebabkan banyak cabainya jadi busuk dan melonnya terbawa arus banjir.
Antisipasi gagal panen karena cuaca ekstrim, jelas Sunarji, juga sudah dilakukannya dengan membangun saluran air yang lebih dalam agar saat hujan genangan air tak terjadi dan dapat mengalir lancar.
"Kalau badai ini yang sulit antisipasinya, yang jelas patok tanaman untuk rambatan batang sudah ada semoga kuat dan tidak menyebabkan roboh," paparnya.
Pengetahuan untuk antisipasi cuaca ekstrim pada pertanian itu diperoleh Sunarji dari pelatihan perubahan iklim yang dilakukan Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprogo. Kegiatan serupa juga diikuti Sukarman, petani pesisir dari Kalurahan Bugel, Kapanewon Panjatan.
"Tapi antisipasi ini tetap tidak sepenuhnya menyelamatkan pertanian kami," ungkap ketua program Champion Cabai yang dibina Kementerian Pertanian itu.
Sukarman menerangkan perlu ada upaya yang lebih strategis dan komprehensif untuk antisipasi perubahan iklim pada sektor pertanian. "Karena memang sifatnya global dan tidak terprediksi, cuaca ekstrim ini memang sulit menanggulanginya jadi perlu diperhatikan bersama," terangnya.
Pasalnya jika perubahan iklim pada pertanian tak diperhatikan, sambung Sukarman, pasokan pangan akan terganggu. "Apalagi panen cabai November nanti dari pesisir ini untuk mencukupi kebutuhan nasional saat stok cabai menipis," tuturnya.
Mitigasi krisis iklim pada sektor pertanian, kata Sukarman, juga mesti melibatkan petani agar implementasinya sesuai perencanaan. "Kadang arahannya dari pusat seperti apa tapi prakteknya di lapangan bisa berbeda, seperti penanganan hama misalnya yang model atau obatnya itu perlu dipastikan bisa diterapkan dan tersedia di wilayah," tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sejumlah restoran di Kulonprogo sempat dipenuhi pengunjung saat libur lebaran ini.
Jadwal terbaru Prameks Jogja–Kutoarjo 2026 lengkap. Simak jam keberangkatan, tips hindari kehabisan tiket, dan jam sibuk penumpang.
Jadwal DAMRI Jogja ke YIA 2026 lengkap dengan tarif Rp80.000. Transportasi praktis, nyaman, dan bebas ribet menuju bandara.
Jadwal lengkap KA Bandara YIA 2026 dari Tugu Jogja ke bandara. Solusi cepat, bebas macet, dan tepat waktu untuk kejar pesawat.
Cek jadwal lengkap KRL Solo–Jogja 16 Mei 2026 dari Palur hingga Jogja. Tarif Rp8.000, berangkat pagi hingga malam.
Libur panjang akhir pekan dorong wisata Sleman naik. Merapi, Kaliurang hingga Prambanan diprediksi jadi tujuan favorit.