Pemerintah Dukung Telur Bebas Sangkar, Pasokan Jadi Tantangan
Pemerintah mendukung transisi telur bebas sangkar, tetapi kesiapan pasokan, harga, distribusi, dan kesadaran konsumen masih menjadi tantangan.
Wardoyo dan Wardilah sedang menunjukkan lokasi sumber air yang muncul setelah rekahan tanah di Padukuhan Siraman II, Siraman, Wonosari, Gunungkidul, Senin, (7/10/2024). Harian Jogja/ Andreas Yuda Pramono
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Lahan milik warga Padukuhan Siraman II, Kalurahan Siraman, Wonosari, Kabupaten Gunungkidul bernama Wagiyono membuat gempar masyarakat Wonosari lantaran ada rekahan panjang yang memunculkan sumber air sejak dua pekan lalu.
Adik Wagiyono bernama Wardoyo menceritakan rekahan tersebut muncul setelah gempa berkekuatan 5,8 skala richter mengguncang Bumi Handayani pada Senin, (26/8/2024). Rekahan tanah tersebut melintang lahan pekarangannya.
Tiga pekan setelah gempa, rekahan tersebut basah seolah ada orang yang menyiram. Merasa penasaran, Wagiyono menggali tiga titik di sekitar ujung rekahan tersebut dan muncul air.
Hingga hari ini, air tersebut tidak surut. Meskipun dikuras pada sore hari, air tersebut akan muncul lagi pagi hari dengan debit yang sama. Wardoyo tidak tahu pasti sumber air tersebut.
Dia menampik air tersebut berasal dari tangki septik yang berada di sekitar rekahan. Pasalnya, air yang muncul jernih tanpa bau. Dia juga mengetes kualitas air secara manual dengan memasukkan ikan nila.
Ikan nila diketahui sebagai jenis ikan yang sensitif terhadap kualitas air. Ikan ini akan mati apabila dimasukkan ke air dengan kualitas buruk. Kenyataannya, ikan nila ini tidak mati setelah dimasukkan sepekan lalu.
Hal lain yang membuat Wardoyo masih penasaran adalah di ujung lain rekahan tersebut terdapat pohon bambu yang tumbuh sumur dengan tunas baru yang bermunculan. Padahal tidak jauh dari pohon ini ada juga pohon bambu lain namun dalam keadaan kering. Dia menduga masih ada sumber air lain di sekitar rekahan tanah tersebut.
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Handayani dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul juga telah mendatangani sumber air tersebut. Hanya, belum ada tindak lanjut lagi setelah kedatangan tersebut.
Kakak Wagiyono bernama Wardilah mengatakan tanaman alpukat yang sebelumnya kering dan akan mati justru menghijau setelah sumber air tersebut muncul. Dia berencana menggunakan sumber air tersebut untuk mengairi tanaman bawang merah yang akan dia tanam.
“Di sana [20 dari rekahan] ada sumur gali juga sebenarnya. Kedalaman 25 meter. Tapi ada juga sumur gali yang tidak keluar air dekat rekahan ini,” kata Wardilah ditemui di lokasi, Senin, (7/10).
Kepala DLH Gunungkidul, Antonius Hary Sukmono mengatakan pihaknya telah melakukan pemeriksaan awal terhadap kualitas air tersebut. Dia menduga munculnya air itu akibat rembesan dari sumber air lain.
Adapun, Direktur Umum PDAM Tirta Handayani Gunungkidul, Sulistyo Aribowo menegaskan air tersebut bukan dari pipa PDAM. Saat ini, pihaknya masih melakukan kajian atas fenomena tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemerintah mendukung transisi telur bebas sangkar, tetapi kesiapan pasokan, harga, distribusi, dan kesadaran konsumen masih menjadi tantangan.
Jadwal KRL Jogja-Solo Kamis, 29 Oktober 2026 tersedia dalam 15 perjalanan. Simak jam keberangkatan setiap stasiun dan tarif Rp8.000.
Anggaran infrastruktur Kulon Progo dalam KUA 2027 mencapai Rp425,2 miliar, dengan fokus pemeliharaan rutin dan rekonstruksi jalan.
Pemprov Jateng berkoordinasi dengan BKN, PPATK, dan OJK untuk menelusuri ASN yang diduga terlibat judi online serta menegakkan aturan disiplin.
Daya beli melemah, UMKM DIY dituntut beradaptasi. Jumlah usaha mencapai 347.744 unit, sementara KUR tersalur Rp3,31 triliun hingga Juli 2026.
DPRD Sleman mendorong program Rumah Ibadah Ramah Anak untuk memperkuat nilai spiritual, sosial, dan pembentukan karakter generasi muda.