Tawon Jadi Fauna Khas Gunungkidul, Bukan Belalang Goreng
Tawon resmi menjadi fauna khas Gunungkidul menggantikan anggapan belalang sebagai ikon daerah, sesuai Perda Nomor 3 Tahun 1999.
Panen raya program pertanian berkelanjutan di Desa Kemudo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. - Harian Jogja/ist
Harianjogja.com, SLEMAN—Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman mendorong di setiap padukuhan bisa terbentuk Kelompok Wanita Tani (KWT). Program ini tidak hanya untuk memperkuat ketahanan pangan, tapi juga bisa sebagai upaya menambah nilai pendapatan dalam keluarga.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman, Suparmono mengatakan, lahan pertanian non sawah di Sleman luasannya mencapai 19.958,87 hektare. Luasan ini didominasi jenis tegalan atau kebun yang mencapai 15.536,7 hektare.
BACA JUGA: Gagal Panen, 5 Kelompok Tani Dapat Klaim Asuransi Puluhan Juta Rupiah
“Ada juga perkarangan yang bisa disulap menjadi lahan produkif sehingga memperkuat ketahanan pangan di Kabupaten Sleman,” kata Pram, sapaan akrabnya, Senin (11/11/2024).
Menurut dia, optimalisasi lahan non sawah ini merupakan peluang yang sangat bagus. Pram pun mendorong agar keberadaan KWT bisa dioptimalkan dan jaringannya dapat lebih diperluas.
Ia tidak menampik hingga sekarang baru terbentuk 492 kelompok. “Harapannya di satu padukuhan ada satu KWT sehingga total bisa ada 1.212 kelompok dan kami akan terus mendorong agar KWT bisa hadir di setiap padukuhan,” katanya.
Ditambahkan Pram, konsep dalam pengembangan KWT tidak hanya fokus di sektor cocok tanam. Pasalnya, dalam upaya pengelolahan kebun atau perkarangan bisa dibuat sistem pertanian terpadu dengan mengkombinasikan perikanan maupun peternakan.
“Jadi di lahan terbatas ini bisa dioptimal sehingga hasilnya juga maksimal. Sebab, tidak hanya ketahanan pangan terbentu, tapi juga bisa menjadi sumber penghasilan yang dapat menambah pendapatan dalam keluarga,” katanya.
Anggota KWT Padukuhan Ngangkrik, Triharjo, Sleman, Endang mengatakan, upaya menyulap perkarangan menjadi lahan produktif sudah dilakukan. Adapun hasilnya juga sudah bisa dirasakan oleh anggota KWT.
“Kami manfaatkan untuk menaan sayuran mulai dari terong, tomat, pare hingga cabai dan hasilnya sudah bisa dinikmati,” katanya.
Menurut dia, dengan pembentukan KWT memberikan banyak manfaat. Pasalnya, dari sisi kegiatan banyak mendapatkan pendampingan serta pelatihan dalam upaya pemanfaatan lahan tidur menjadi lebih produktif.
“Ada bantuan juga dan yang terpenting dari hasil panen ini, ibu-ibu juga bisa mendapatkan penghasilan karena bisa dijual panenya,” kata Endang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Tawon resmi menjadi fauna khas Gunungkidul menggantikan anggapan belalang sebagai ikon daerah, sesuai Perda Nomor 3 Tahun 1999.
Persib Bandung resmi juara Super League dan cetak hattrick. Bobotoh rayakan kemenangan meriah di Stadion GBLA.
Dua pria ditangkap usai diduga tabrak lari di Solo. Mobil menabrak tiang dan pohon, pelaku sempat diamuk massa.
Lima dosen UPN Jogja disanksi setelah terbukti lakukan pelecehan verbal. Kampus tegaskan komitmen lingkungan bebas kekerasan.
Pemerintah bongkar mafia pangan, dari beras oplosan hingga pupuk palsu. Kerugian rakyat ditaksir puluhan triliun rupiah.
Wapres Gibran dorong digitalisasi sekolah di Papua dan NTT. Fokus pada teknologi pendidikan dan peningkatan skill generasi muda.