Rencana Induk Kepariwisataan Jogja 20262045 Jangan Hanya Fokus Jumlah Wisatawan
DPRD Jogja meminta Rippar 2026–2045 tak hanya mengejar jumlah wisatawan, tetapi juga lama tinggal, belanja, tenaga kerja, dan lingkungan.
Jembatan Srandakan lama terputus akibat banjir. /Instagram.
Harianjogja.com, BANTUL—Jembatan Srandakan lama ambrol pada Kamis (6/2/2025) sekitar pukul 22.45 WIB. Kondisi itu berpotensi mengancam konstruksi jembatan baru jika tidak segera dilakukan penanganan.
Kepala BPBD Bantul, Agus Yuli menuturkan Jembatan Srandakan lama ambrol karena erosi aliran air Sungai Progo dan ambrolnya DAM Srandakan. Dia pun meminta agar dilakukan pembangunan ulang terhadap jembatan tersebut.
“Apabila tidak segera dilakukan penanganan, maka sisa tiang Jembatan Srandakan lama yang masih berdiri akan ikut ambrol,” ujarnya, Jumat (7/2/2025).
BACA JUGA : Penanganan Darurat Groundsill Sungai Progo yang Jebol Mulai Diperbaiki BBWSO
Selain itu, runtuhan Jembatan Srandakan lama yang ambrol jika terbawa arus sungai akan mengenai tiang Jembatan Srandakan baru yang hanya berjarak sekitar 100 meter. Di sisi lain, di sebelah timur Jembatan Srandakan lama pun telah ada jalan menurun dan dinilai membahayakan.
Dia menuturkan sebagian tanah di samping Sungai Progo telah mengalami pengikisan. Hal itu dikhawatirkan juga memperburuk kondisi kerusakan Jembatan Srandakan lama.
Agus menyampaikan hingga saat ini belum diketahui rencana tindak lanjut penanganan jembatan tersebut. Sementara DAM Srandakan yang sebelumnya ambrol telah dilakukan penanganan oleh Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO) selaku penanggungjawab DAM Srandakan.
Agus menuturkan kerusakan Jembatan Srandakan tersebut awalnya diketahui dari laporan warga setempat kepada BPBD Bantul. Kemudian, BPBD Bantul, bersama dengan Polsek Brosot menyisir lokasi kejadian. Dari kejadian tersebut tidak ada korban yang ditimbulkan.
“Saat ini sepanjang Jalan [Jembatan] Srandakan lama sudah ditutup agar tidak bisa dilalui oleh warga,” katanya.
Agus memetakan kerusakan Jembatan Srandakan sepanjang 27,5 meter dengan lebar 5,725 meter dan tinggi 6,465 meter. Jembatan yang sudah berdiri sekitar tahun 1925. Jembatan tersebut dulu digunakan sebagai jalan kereta yang kemudian dialihfungsikan sebagai jalan raya tahun 1951.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Jogja meminta Rippar 2026–2045 tak hanya mengejar jumlah wisatawan, tetapi juga lama tinggal, belanja, tenaga kerja, dan lingkungan.
DPRD Gunungkidul segera membahas tiga Raperda baru tentang rokok, pariwisata, dan jaminan sosial ketenagakerjaan.
Menhub Dudy Purwagandhi menyiapkan aturan keselamatan transportasi, termasuk asesmen direksi dan komisaris operator transportasi publik.
Pasangan muda di Mlati makin mempertimbangkan pendidikan, karier dan ekonomi sebelum menikah. Usia pendaftar terbanyak sekitar 25 tahun.
Sebanyak 25 daerah di Jatim mengajukan bantuan air bersih akibat kekeringan. Khofifah menyiapkan OMC, pipanisasi dan sumur bor.
Haul Solo ke-115 di Masjid Riyadh, Solo, berlangsung lancar. Panitia menyebut jemaah mencapai seratusan ribu orang.