Bando Selamat Datang Wonosari Dicopot, Ini Alasannya
DPUPRKP Gunungkidul mencopot bando Selamat Datang Wonosari di Logandeng, Playen karena dinilai membahayakan setelah berusia lebih dari 10 tahun.
Ilustrasi LPG 3 Kg - Antara
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Sejumlah warga di Gunungkidul mengeluh karena kesulitan mendapatkan Liquefied Petroleum Gas (LPG) atau elpiji bersubsidi kemasan tiga kilogram. Kelangkaan terjadi sudah sejak dua minggu lalu sehingga harganya naik menembus Rp23.000 per tabung.
Salah seorang warga Sumbergiri, Ponjong, Amalia Damayanti mengatakan, warga kesulitan untuk mendapatkan gas melon kemasan tiga kilogram. Kondisi ini sudah terjadi sejak awal Februari dan berlangsung hingga sekarang.
“Awalnya mudah dan sejak dua minggu lalu, barangnya [gas melon] langka dan sulit didapatkan,” kata Amalia, Jumat (14/2/2025).
Kelangkaan gas bersubsidi terlihat dari kosongnya stok di warung-warung yang biasa menjual. Kamis (13/2/2025) malam, sempat mencari tabung gas ini, tapi di enam warung di Kapanewon Ponjong yang didatangi kehabisan stok.
BACA JUGA: KUR BRI, Ini Syarat dan Daftar Plafon Cicilan dari Pinjaman Rp1 Juta hingga Rp500 Juta
“Akhirnya dapat, setelah muter-muter. Tapi harganya mahal karena dijual Rp23.000 per tabung,” ungkapnya.
Menurut dia, di waktu normal harga gas melon tidak sampai Rp23.000. Pasalnya, berdasarkan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan sebesar Rp18.000 per tabung.
“Memang kalau beli di warung lebih mahal di kisaran Rp20.000-21.000 per tabung. Tapi, kalau langka bisa sampai Rp23.000 per tabung,” katanya.
Hal senada diungkapkan oleh warga Kalurahan Kepek, Wonosari, Suminah. Menurut dia, keberadaan gas melon sudah langka sejak seminggu terakhir.
“Sulit mendapatkan gas kemasan tiga kilogram. Wira-wiri ke warung, tapi stoknya tidak ada,” katanya.
Menurut dia, pada saat ada stok, harganya tidak hanya mahal. Namun, pembelian harus juga membawa bukti KTP-el. “Dikarenakan langka, harganya ikut naik. Saat ini dijual di kisaran Rp23.000 per tabung,” katanya.
Kepala Dinas Perdagangan Gunungkidul, Kelik Yuniantoro saat dikonfirmasi membenarkan adanya kelangkaan stok gas melon di Masyarakat. Upaya konfirmasi ke Pertamina telah dilakukan dan kelangkaan terjadi karena keterlambatan dalam proses pengiriman.
“Beberapa pekan ini terkendala pengiriman sehingga berdampak terhadap stok gas melon di Gunungkidul,” katanya.
Menurut Kelik, berdasarkan klarifikasi ke Pertamina, pasokan tersendat karena terkendala cuaca. Kapal-kapal pengangkut di Pelabuhan Semarang atau Cilacap sulit bersandar sehingga proses pendistribusian ikut terdampak.
“Kalau mau lebih detail bisa menghubungi pertamina langsung. Yang jelas, kami sudah coba konfirmasi dan ada kendala pengiriman sehingga berdampak terhadap stok di pasaran Gunungkidul,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPUPRKP Gunungkidul mencopot bando Selamat Datang Wonosari di Logandeng, Playen karena dinilai membahayakan setelah berusia lebih dari 10 tahun.
Jadwal KRL Jogja-Solo Senin 3 Agustus 2026 lengkap dari Stasiun Yogyakarta hingga Palur. Tarif Commuter Line tetap Rp8.000.
Oknum anggota Polres Tanjab Timur, Bripka SO, dipatsus usai video dirinya berada di arena judi sabung ayam viral. Kasus masih didalami Propam.
Menpar Widiyanti menilai desainer berperan penting memperkenalkan budaya Indonesia melalui wastra sekaligus mendorong shopping tourism.
Bumkal Sumberharjo Sleman sukses memanen melon premium di tanah kas kalurahan. Pemkab Sleman menilai inovasi ini berpotensi meningkatkan ekonomi desa.
Pemerintah mengungkap alasan Indonesia masih tertinggal dari Vietnam dalam pengembangan energi baru terbarukan meski memiliki potensi PLTS mencapai 7.700 GW.