Advertisement
Padat Karya Mulai Digelar di Empat Lokasi Kabupaten Sleman
Masyarakat mulai menggarap talut jalan di Lemahabang, Mangunan, Dlingo melalui program padat karya, belum lama ini. - Istimewa/Kelompok Padat Karya Lemahabang
Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN--Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Sleman menyampaikan program padat karya di Sleman telah berjalan di empat kalurahan. Ada perubahan rencana pelaksanaan padat karya tersebut.
Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja Disnaker Sleman, Sumaryati, mengatakan pelaksanaan padat karya yang sebelumnya direncanakan berhenti sementara dan dilanjutkan setelah bulan puasa tidak lagi berlaku. Kelompok masyarakat saat ini telah mulai dan terus mengerjakan proyek.
Advertisement
“Padat Karya Tahap Pertama sudah mulai. Mereka tetap mengerjakan meski bulan puasa,” kata Sumaryati dihubungi, Senin (3/3/2025).
Empat lokasi yang Sumaryati maksud tersebut, antara lain Padukuhan Mlakan, Sambirejo, Prambanan dengan usulan cor blok jalan. Lalu, Padukuhan Salam, Wukirsari, Cangkringan dengan usulan talut jalan. Kemudian, Padukuhan Jodag, Sumberadi, Mlati dengan usulan talut. Ada juga di Padukuhan Jlegongan, Marogorejo, Tempel dengan usulan talut jalan.
Adapun total lokasi padat karya ada tujuh. Tiga sisanya masih pengerjaan tahap kedua. Tiga tersebut, antara lain Padukuhan Bayeman, Bangunkerto, Turi dengan usulan cor blok jalan; Padukuhan Bedilan/ Bolu, Margokaton, Seyegan dengan usulan saluran irigasi; dan Padukuhan Watuadeg, Jogotirto, Berbah dengan usulan cor blok jalan.
Sumaryati menjelaskan per lokasi padat karya, kelompok masyarakat atau sub lembaga pemberdayaan masyarakat (lpm) padukuhan atau lpm kalurahan mendapat pagu anggaran sekitar Rp160 juta. Total pelaksanaan padat karya menggunakan APBD Sleman sebesar Rp1,12 miliar.
Anggaran tersebut juga mencakup komponen upah tenaga kerja. Hari orang kerja (HOK) berbeda-beda untuk setiap posisi. Mandor mendapat Rp95.000 per hari, tukang mendapat Rp90.000 per hari, dan pekerja Rp85.000 per hari. Dalam satu lokasi ada dua mandor, delapan tukang, dan sisanya pekerja. Minimal durasi bekerja per hari selama lima jam. Upah diberikan sepekan sekali.
Dukuh Jodag, Suwignyo, mengatakan padat karya tersebut dilakukan untuk saluran irigasi pertanian di dua kanan dan kiri badan jalan. Masing-masing 200 meter.
“Mulai pekerjaan pukul 07.00 WIB sampai 12.00 WIB. Padat karya memang hanya lima jam tiap harinya,” kata Suwignyo.
Suwignyo berharap dengan pembangunan/ rehabilitasi saluran irigasi pertanian tersebut, tidak ada luapan air yang melimpas di badan jalan. Saluran irigasi dalam kondisi baik dapat berdampak pada akses/ mobilitas warga sekitar.
Dia juga mengaku warga yang masuk dalam kategori pengangguran dalam berkontribusi dalam meningkatkan perekonomiannya.
“Puasa begini kan juga mungkin ada yang job-nya kurang. Ke depan kami akan mengusulkan padat karya lagi, kalau masih bisa. Masih banyak yang berlum diperbaiki saluran irigasinya,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Bioskop Nyaman Rp5 Ribu di Museum Sonobudoyo Masih Sepi Peminat
Advertisement
Berita Populer
- Puluhan Telur Piton Ditemukan di Selokan Permukiman Warga Gunungkidul
- Libur Lebaran Ramai, Kamar Hotel DIY Justru Banyak Kosong
- Catat, Ini Lokasi dan Tarif Parkir Resmi Kota Jogja Tahun 2026
- Pengolahan Mandiri Efektif, Sampah Residu di Demangan Jogja Berkurang
- Kelelahan, Polisi Kapospam Tugu Jogja Meninggal Dunia Saat Bertugas
Advertisement
Advertisement






