Kawasan Industri Gunungkidul Diperluas Jadi 1.500 Hektare
Kawasan industri Gunungkidul diperluas menjadi sekitar 1.500 hektare untuk menarik investasi dan perusahaan besar serta menyerap tenaga kerja.
Sebuah perahu membawa penumpang sedang menyusuri area Telaga Jonge di Kalurahan Pacarejo, Semanu. Foto diambil Selasa (21/12/2022)/Harian Jogja-David Kurniawan\r\n\r\n
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kondisi ratusan telaga di Gunungkidul memprihatinkan dikarenakan mengalami pendangkalan akut. Meski demikian, pemkab belum bisa melakukan revitalisasi dikarenakan keterbatasan anggaran yang dimiliki.
Data Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Gunungkidul mencatat ada 359 telaga yang tersebar di Bumi Handayani. Meski demikian, ratusan telaga mengalami pendangkalan sehingga tidak berfungsi dengan baik.
Adapun yang masih berfungsi dengan baik, alias tidak mengering selama musim kemarau hanya ada 20 telaga. Kepala Bidang Sumber Daya Air, DPUPRKP Gunungkidul, Sigit Swastono mengatakan, ada ratusan telaga yang perlu diperbaiki karena masalah sedimentasi yang aku.
Hanya saja, ia mengakui, proses revitalisasi atau pemeliharaan tidak berjalan dengan baik karena masalah anggaran. Ia mencontohkan, di tahun ini ada banyak kegiatan yang terpaksa ditunda karena program efisiensi anggaran dari Pemerintah Pusat.
“Anggarannya terbatas sehingga proses perbaikan belum bisa dilakukan,” kata Sigit, Kamis (1/5/2025).
Menurut dia, perbaikan telaga terakhir dilaksanakan di 2023 berlokasi di Telaga Pudak di Kalurahan Giriwungu, Panggang. “Untuk selanjutnya belum ada telaga yang diperbaiki lagi,” katanya.
BACA JUGA: Musrenbang RPJMD Gunungkidul Fokus pada Penguatan Sektor Unggulan hingga Pemberdayaan
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, sudah mendapatkan laporan berkaitan dengan kondisi di Bumi Handayani. Ia mencatat ada ratusan telaga yang tak berfungsi dengan baik, karena dari catatan DPUPRKP hanya ada 20 telaga yang masih berfungsi saat kemarau.
“Lainnya pada mengering semua,” katanya.
Disinggung mengenai revitalisasi telaga, Bupati menekankan untuk tidak asal-asalan. Pasalnya, didalam merevitalisasi telaga harus dilaksanakan kajian dan riset yang mendalam.
“Harus ada riset dan teori bagaimana menahan air agar tidak habis, ini juga bisa dilakukan oleh Badan Riset. Apakah harus diperbaiki menggunakan geo membran atau ada teknologi lain yang bisa efektif agar telaga berfungsi dengan baik,” kata dia.
Menurut dia, sudah ada upaya pelestarian dengan model kearifan lokal. Sebagai contoh di Kalurahan Kepek, Saptosari melakukan kegiatan Edrek melibatkan ratusan warga untuk menangkap ikan di Telaga Dondong yang mengering.
Harapannya dengan adanya injakan-injakan dari aktivitas penangkapan dapat menutup pori-pori tanah sehingga tidak mengering. “Hal sama dilakukan di Telaga Ploso di Kalurahan Giritirto dengan tradisi Ngguyang Sapi di telaga, diharapkan dapat membantu dalam pelestarian. Tapi, kami tetap berkomitmen untuk revitalisasi, namun harus melalui kajian terlebih dahulu,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kawasan industri Gunungkidul diperluas menjadi sekitar 1.500 hektare untuk menarik investasi dan perusahaan besar serta menyerap tenaga kerja.
Pajak marketplace atau PPh 22 berlaku 1 November 2026. Ekonom mendorong pemungutan otomatis dan terintegrasi agar ramah UMKM.
DPRD Sleman mengevaluasi kampus mitra Program Beasiswa Sleman Pintar untuk memastikan program efektif dan mahasiswa lulus tepat waktu.
Soft tenis beregu putra Indonesia meraih perunggu Asian Games Aichi-Nagoya 2026 setelah kalah 0-2 dari Jepang di semifinal.
PBB dan GCC mengecam serangan Houthi ke Arab Saudi yang menyasar fasilitas sipil. Rudal menuju Riyadh berhasil dicegat pertahanan Saudi.
Industri furnitur membidik ekspor US$6 miliar pada 2031, tetapi keterbatasan modal kerja dan akses pembiayaan masih menjadi tantangan.