Gunungkidul Bidik Pengurangan Sampah Organik hingga 40 Persen
DLH Gunungkidul menargetkan pengurangan sampah organik hingga 40% melalui Masgun Maos dan pengolahan sampah mandiri dari rumah.
Ilustrasi buaya. Antara
Harianjogja.com, BANTUL–Kemunculan seekor buaya di Sungai Progo, wilayah Juwono, Kalurahan Triharjo, Bantul, membuat warga resah. Namun hingga kini, belum ada langkah konkret dari pihak berwenang untuk mengevakuasi atau menangkap buaya tersebut.
Lurah Triharjo, Suwardi menyebut Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) DIY bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) sudah mendatangi lokasi kemunculan pada Selasa (3/6/2025) sore. Namun, kunjungan itu sebatas survei lokasi dan mewawancarai saksi mata yang pernah melihat buaya.
BACA JUGA: Buaya Kembali Muncul di Sungai Progo Bantul, Warga Diimbau Tak Beraktivitas Sendirian
“Petugas dari DKP DIY dan BKSDA Bantul kemarin ke lokasi, mengecek area kemunculan buaya dan mewawancarai tiga orang saksi,” kata Suwardi, Rabu (4/6/2025).
Ia mengatakan belum ada tindak lanjut berupa penangkapan atau pengamanan hewan liar itu. Warga, terutama yang beraktivitas di sekitar sungai, merasa khawatir.
“Kesimpulan dari kemarin itu masih akan dibahas di tingkat provinsi. Saat ini posisi kewenangan juga baru dilimpahkan dari BKSDA ke DKP,” jelasnya.
Menurutnya, masyarakat sudah meminta agar ada penanganan lebih lanjut, mengingat potensi ancaman keselamatan.
“Warga berharap buaya bisa segera ditangani karena mereka resah. Tapi kami masih menunggu arahan lebih lanjut dari DKP DIY,” ujar Suwardi.
Meski demikian, sebagian warga masih beraktivitas di pinggir sungai. Pemerintah kalurahan mengimbau agar warga tidak melakukannya sendirian.
“Tetap kami imbau jangan beraktivitas sendiri, apalagi dekat sungai,” katanya.
Suwardi menambahkan, dugaan sementara buaya muncul karena sedang mencari mangsa. Di sekitar lokasi sering terlihat kawanan burung, yang diduga menarik perhatian hewan predator tersebut.
“Beberapa warga melihat buaya itu muncul saat ada burung di pinggir sungai. Cara kemunculannya juga seperti sedang mengendap untuk memangsa,” ungkapnya.
Pihak DKP DIY sendiri belum memberikan pernyataan resmi terkait langkah selanjutnya dalam penanganan buaya tersebut. Kepala DKP DIY, Hery Sulistio Hermawan, belum merespons saat dihubungi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DLH Gunungkidul menargetkan pengurangan sampah organik hingga 40% melalui Masgun Maos dan pengolahan sampah mandiri dari rumah.
PSEL DIY ditargetkan mengolah 1.000 ton sampah per hari dan menghasilkan listrik 18-20 MW untuk sekitar 15.000 rumah.
KY memastikan seleksi hakim agung dan hakim ad hoc MA 2026 transparan. Publik bisa memantau proses dan memberi informasi rekam jejak calon.
Jadwal KRL Jogja-Solo Rabu 12 Agustus 2026 tersedia 15 perjalanan. Kereta pertama berangkat 05.05 WIB, tarif tetap Rp8.000.
PSEL Piyungan ditargetkan groundbreaking Desember 2026. Proyek senilai Rp2,5 triliun-Rp3 triliun ini mulai dibangun Januari 2027.
Polisi menyiagakan puluhan personel setelah massa membakar sejumlah kantor pemerintah di Ilaga, Puncak, Papua Tengah.