Survei SPPG Bantul Dimulai Akhir September, MBG Dipantau Ketat
Pemkab Bantul menyiapkan survei berkala untuk mengevaluasi SPPG dan pelaksanaan MBG, termasuk jumlah, distribusi, kemasan, dan waktu konsumsi.
Lokasi wisata green village di Desa Mertelu, Gedangsari. /David Kurniawan-Harian Jogja.
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Sejumlah destinasi wisata berbasis masyarakat di Kabupaten Gunungkidul hingga kini masih mati suri usai terdampak pandemi COVID-19. Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Dinas Pariwisata Gunungkidul, Supriyanta menyebut, penurunan drastis kunjungan terjadi khususnya di destinasi yang dikelola kelompok masyarakat.
"Pandemi COVID-19 sangat berdampak terhadap aktivitas pariwisata. Hampir semua destinasi mengalami penurunan kunjungan dan mati suri terutama yang dikelola langsung oleh masyarakat," ujar Supriyanta Selasa (5/8/2025).
Beberapa destinasi yang disebut masih lesu atau mati suri antara lain Wisata Klayar dan Kedungpoh di Nglipar, serta Green Village di Kalurahan Mertelu dan Gunung Gentong di Kalurahan Ngalang, Kapanewon Gedangsari.
BACA JUGA: Tol Jogja-Solo: Konstruksi Ruas Klaten-Purwomartani Capai 87,9 Persen
Supriyanta mengakui kunjungan wisatawan ke destinasi tersebut sangat menurun bahkan hingga nyaris tidak ada. Meski demikian, pihaknya tidak tinggal diam. Dinas Pariwisata Gunungkidul saat ini tengah mendorong kebangkitan destinasi tersebut melalui peningkatan promosi serta penguatan sumber daya manusia (SDM) pelaku pariwisata.
"Kami upayakan peningkatan promosi dan peningkatan SDM, termasuk sertifikasi pelaku dan usaha wisata," ungkapnya.
Pengelola wisata Green Village Gedangsari Nursiyamtoro mengungkapkan kondisi yang tak jauh berbeda. Ia menyebut sejak pandemi melanda, aktivitas wisata di sana langsung terhenti dan tak pernah pulih kembali.
"Dulu saya ikut pengurus, tapi sejak pandemi sampai sekarang sudah tidak aktif lagi. Wisatanya sepi sekali," ucapnya.
Green Village Gedangsari dibuKa pada 2017 yang dulunya menawarkan panorama alam berupa pemandangan matahari terbit dan terbenam serta beberapa atraksi semacam flying fox. Sebelum pandemi, kunjungan bisa mencapai ratusan orang per akhir pekan. Namun sekarang kondisinya sudah terbengkalai dan banyak fasilitas yang tak terawat.
BACA JUGA: Viral Kabar Polisi Geledah Rumah Jampidsus, Ini Kata Polda Metro
"Kalau weekend bisa sampai ratusan pengunjung. Hari biasa puluhan. Tapi sekarang saya sudah tidak ikut lagi, tidak tahu kondisi terkini," katanya.
Ia menambahkan, pengelolaan Green Village sebelumnya dilakukan oleh kelompok sadar wisata (Pokdarwis). Namun, informasi terkait pengurus saat ini maupun upaya reaktivasi destinasi tersebut tidak ia ketahui lantaran sudah lama tidak terlibat.
Sejumlah pelaku wisata berharap ada intervensi nyata dari pemerintah daerah, tidak hanya dari sisi promosi tapi juga pendampingan teknis dan permodalan agar destinasi berbasis masyarakat ini bisa bangkit kembali.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Bantul menyiapkan survei berkala untuk mengevaluasi SPPG dan pelaksanaan MBG, termasuk jumlah, distribusi, kemasan, dan waktu konsumsi.
PKH tahap 4 2026 segera memasuki periode Oktober-Desember. Simak cara daftar lewat Perlinsos Digital, syarat, nominal, dan cara cek status.
Bayi gajah sumatra jantan lahir di Tesso Nilo diberi nama Ganesha. Ini merupakan anak keenam Lisa dari perkawinan dengan gajah liar.
Stok MinyaKita menipis? Pedagang Bantul bisa mengajukan pasokan ke Bulog dengan syarat NIB, KTP, email, dan nomor telepon.
Pedagang pasar Jogja menghadapi tekanan daya beli dan pedagang keliling. Disdag menyiapkan event, keringanan retribusi hingga live selling.
KPK menyebut Ombudsman dapat melaporkan dugaan pungli di lapas dan rutan jika data lengkap, termasuk temuan di Cibinong dan Pondok Bambu.