Advertisement
Cegah Keracunan MBG Berulang, Ini yang Akan Dilakukan SPPG di Sleman

Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN—Mencegah berulangnya kasus keracunan siswa karena mengonsumsi makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tridadi Makmur, Sleman, menerapkan standar operasional prosedur (SOP) ketat
SOP ini mulai dari pemilihan bahan baku makanan hingga distribusi makanan ke penerima manfaat. Dapur SPPG yang terletak di Padukuhan Drono, Kalurahan Tridadi ini dimiliki Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tridadi Makmur. Sebagai mitra BGN, BUMDes memastikan makanan yang didistribusikan layak makan.
Advertisement
Direktur BUMDes Tridadi Makmur, Raden Agus Choliq, mengatakan pembelian bahan baku makanan dilakukan dengan cermat sesuai kebutuhan. Tidak ada banyak sisa bahan baku yang terbuang atau digunakan untuk bahan makanan di hari selanjutnya.
Sebab itu pembelian bahan baku setiap harinya akan membuat makanan menjadi lebih segar lantaran bahan bakunya yang baru.
Jadwal memasak pun dibagi menjadi tiga kloter. Kloter pertama dengan sasaran PAUD–TK, proses memasak dilakukan pukul 01.00 WIB dan mulai didistribusikan pukul 07.00 WIB. Kloter kedua dengan sasaran SD, proses memasak dilakukan pukul 03.00 WIB dan mulai didistribusikan pukul 08.00 WIB. Kloter ketiga dengan sasaran SMP–SMA, proses memasak dilakukan pukul 04.00 WIB–08.00 WIB dan mulai didistribusikan pukul 10.00 WIB–11.00 WIB. Pembagian ini juga memastikan makanan tetap segar.
“Lama waktu memasak itu sekitar dua hingga tiga jam, baik TK-PAUD, SD, SMP-SMA,” kata Choliq ditemui di Puri Mataram, Tridadi, Jumat.
BACA JUGA: Diduga Menabrak Driver Ojol, Tujuh Anggota Brimob Ditetapkan Melanggar Kode Etik
Meski begitu, ada satu aspek yang sangat memengaruhi kondisi atau kesegaran makanan dan sangat penting untuk diperhatikan yakni suhu makanan. Makanan selesai dimasak tidak boleh langsung dipacking dalam foodtray, harus ada pendinginan terlebih dahulu.
BUMDes Tridadi Makmur yang mengetahui pentingnya aspek suhu ini kemudian telah melengkapi dapur SPPG dengan pendingin ruangan. Pendinginan makanan pun dapat menjadi lebih cepat dan kontaminasi dapat dicegah lantaran memangkas lama waktu pendinginan.
“Kalau makanan masih panas dan langsung di-packing ke foodtray ini lah yang banyak menyebabkan kasus keracunan,” katanya.
Uap panas juga menyebabkan perubahan bentuk makanan. Perubahan bentuk ini memunculkan risiko racun dalam makanan, kandungan gizi berubah. Makanan juga lebih cepat basi.
Adapun jumlah penerima manfaat atau sasaran program MBG dari SPPG Tridadi Makmur saat ini menyentuh 3.600 orang. Choliq menarget ada penambahan 400 sasaran lagi. Sasaran ini telah mempertimbangkan jumlah ibu hamil, ibu menyusui, dan balita yang memang harus mendapat porsi 10% dari total penerima manfaat murid sekolah.
Ihwal tenaga kerja, ada 47 warga sekitar yang membantu dalam penyelenggaraan program MBG di dapur SPPG Tridadi Makmur. Tambahan tiga orang berasal dari seleksi BGN dengan posisi Kepala SPPG, Akuntan, dan Ahli Gizi.
Dengan fasilitas dapur yang lengkap dan tenaga kerja yang memadai, dapur SPPG Tridadi Makmur bisa memproduksi makanan hingga 5.000 pax per hari.
“Kami memang menetapkan standar tinggi dalam penyelenggaraan program MBG. Kalau ditanya dapur lain bagaimana, saya tidak tahu. Soalnya ada dapur yang memang menggunakan bekas rumah atau bekas restoran. SOP tentu beda juga,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement

Ini Identitas 7 Anggota Brimob yang Melindas Ojol Affan Kurniawan
Advertisement

Kebun Bunga Lor JEC Jadi Destinasi Wisata Baru di Banguntapan Bantul
Advertisement
Berita Populer
- Proyek JPO Kulonprogo Terhambat Izin KAI, Begini Penjelasan Daop 6
- Pelepasan Tukik Jaga Habitat Penyu di Bumi Handayani
- Balas Pukulan Tetangga, Petani di Gunungkidul Ini Dipenjara 4 Bulan
- Gebyar Keistimewaan Majukan Seni Tradisi & Dongkrak Ekonomi
- Jadwal KRL Solo Jogja Terbaru Hari Ini, Jumat 29 Agustus 2025
Advertisement
Advertisement