Koperasi Merah Putih Jogja Siap Produksi 65 Ribu Batik Segoro Amarto
KKMP Jogja siapkan produksi 65 ribu batik sekolah, dorong UMKM dan perajin batik semakin berkembang.
Salah satu mural karya para seniman di Jogja yang dihapus orang tak dikenal. /Istimewa.
Harianjogja.com, JOGJA—Mural berisi kritik yang merupakan karya sejumlah seniman di Jogja dirusak oleh orang tak dikenal. Perusakan terhadap mural tersebut diduga kuat untuk menghilangkan isi pesan kritik sehingga tidak tersampaikan kepada masyarakat.
Salah satu seniman yang turut membuat mural tersebut dengan nama samaran Kinky20 mengeluhkan tindakan pihak-pihak terkait yang diduga merusak mural tersebut dengan cara menghapus agar pesan tak tersampaikan ke publik. Ia berharap semua pihak memberikan ruang berekspresi bagi seniman untuk menyampaikan aspirasi melalui karya seni.
Adapun mural yang dirusak tersebut bertuliskan mural bertuliskan Reset Menggila(s) dan Awas Intel. Ia bersama beberapa seniman membuat mural di Jembatan Kewek pada 31 Agustus 2025 dan di Pojok Beteng Wetan pada 1 September 2025. Karya tersebut memang berisi kritik sosial terkait peristiwa meninggalnya seorang pengemudi ojek online (ojol) dalam aksi demonstrasi terjadi di sejumlah daerah dan kritik terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak pada rakyat.
BACA JUGA: KAI Beri Diskon Tiket Kereta 20 Persen di September 2025
"Jadi beberapa jam setelah selesai dibuat, karya itu hilang dan diduga dihapus oleh sekelompok orang. Harapannya kami tidak dibungkam ketika menyampaikan aspirasi,” ujarnya, Selasa (2/9/2025).
Ia menceritakan saat proses pengerjaan mural di Pojok Beteng Wetan, pihaknya sempat didatangi sekitar 20 orang dengan menggunakan baju tanpa identitas.
“Mereka awalnya mengintimidasi, meminta kami hanya melukis yang indah-indah. Padahal seni itu relatif, dan mural adalah bentuk kritik sosial,” katanya.
Sebelum menggambar, seniman tersebut telah meminta izin kepada pemilik mural sebelumnya. Seniman tersebut memiliki etika dalam berkarya. Sehingga menurutnya tindakannya tersebut tidak menyalahi aturan. “Kami tidak asal menimpa karya orang lain. Ada etikanya,” katanya.
BACA JUGA: Sering Kecelakaan, Jalan Sleman-Gunungkidul Butuh Penambahan Rambu
Setelah itu mural-mural tersebut dirusak dengan ditimpa cat lain sehingga tidak terbaca lagi tulisannya pada Selasa (2/9/2025). Ia menyayangkan tindakan penghapusan mural yang dianggap sebagai bentuk pembungkaman terhadap kritik masyarakat.
“Jogja itu kota budaya, kota seni. Sultan pun tidak pernah melarang mural di jalanan. Harapan kami sederhana: jangan mengintimidasi para seniman. Berikan ruang untuk berekspresi, karena seni adalah bagian dari kebebasan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
KKMP Jogja siapkan produksi 65 ribu batik sekolah, dorong UMKM dan perajin batik semakin berkembang.
Pengurusan SKKH di Sleman masih sepi jelang Iduladha 2026. DP3 tingkatkan pengawasan karena ancaman PMK masih ada.
Lima WNI ditahan Israel saat misi kemanusiaan ke Gaza. Pemerintah RI mendesak pembebasan dan perlindungan.
UMKM di RTP Bulak Tabak Kulonprogo mengeluh sepi pembeli saat musim haji 2026, dampak ekonomi dari embarkasi belum terasa.
Polda DIY lakukan asistensi kasus Shinta Komala di Sleman. Dua perkara diusut, polisi pastikan penanganan sesuai SOP.
DPRD DIY memastikan tidak ada pemberhentian guru non-ASN. Penugasan diperpanjang hingga 2026, kesejahteraan tetap dijaga.