CFD Gunungkidul Pindah ke Jalan Agus Salim, Ini Alasannya
CFD Gunungkidul resmi pindah ke Jalan Agus Salim. Lokasi baru dinilai lebih luas, tertata, nyaman, dan ramai pengunjung.
Prosesi pengiringan gunungan dalam tradisi rasulan yang berlangsung di Kalurahan Wonosari di Kapanewon WOnosari. Rabu (10/9/2025)./ Harian Jogja/David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Kebudayaan atau Kundha Kabudayan Gunungkidul mencatat ada sekitar 1.400 tradisi rasulan atau bersih desa yang berkembang di Masyarakat. Pelaksanaan tidak hanya sebatas untuk pelestarian, namun juga dapat dikembangkan dalam pengembangan di sektor kepariwisataan.
Kepala Dinas Kebudayaan Gunungkidul, Choirul Agus Mantara mengatakan, rasulan merupakan keraifan lokal di Bumi Handayani sudah sudah berlangsung secara turun menurun. Hasil identifikasi yang dilakukan, ada sekitar 1.400 lokasi penyelenggaraan rasulan tersebar di Kabupaten Gunungkidul.
Meski demikian, kata dia, tidak semua kegiatan dilakukan saban tahun. Pasalnya, ada tradisi rasulan yang diselenggarakan dalam rentang waktu dua tahun sekali.
“Jadi tiap tahunnya ada yang hanya 800 lokasi rasulan. Tapi, di tahun berikutnya meningkat menjadi 1.200 titik penyelenggaraan karena ada yang dilaksanakan dua tahun sekali,” kata Mantara saat dihubungi, Rabu (10/9/2025).
BACA JUGA: Dinas Pariwata Gunungkidul Susun Masterplan Pantai Krakal, Ini Tujuannya
Menurut dia, pelaksanaan rasulan disesuaikan dengan kearifan lokal. Beberapa pelaksanaan yang sudah terkenal seperti Rasulan Mbah Jobeh di Kapanewon Rongkop, Cing Cing Goling di Kapanewon Karangmojo hingga Bukaan Cupu Panjala di Kapanewon Panggang.
“Untuk pelaksanaan, kami juga rutin memberikan bantuan didalam penyelenggaraan rasulan,” katanya.
Mantara menambahkan, tradisi rasulan tidak hanya menjadi kegiatan Masyarakat untuk pelestarian seni dan budaya yang berkembang. Namun, juga ada potensi lain karena keunikan dari pelaksanaan sehingga dapat dikembangkan untuk pengembangan sektor kepariwisataan.
Hal ini sejalan dengan program besar dari Dinas Kebudayaan untuk menjadikan Kabupaten Gunungkidul menuju industry kebudayaan. Adapun tujuannya didalam pelestarian terdapat perlindungan, pengembangan, pemanfaatan dan pembinaan.
“Sekarang sudah ada tahap pemanfaatan sehingga smeua potensi kebudayaan bisa saling terkait. Harapannya bisa menjadi sumber pendapatan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan Masyarakat,” katanya.
Ketua DPRD Gunungkidul, Endang Sri Sumiyartini mengatakan, banyak tradisi rasulan yang berkembang di Masyarakat. Pelaksanaan tidak hanya sebagai sarana pelestarian terhadap seni tradisi dari nenek moyang, namun juga dapat berperan sebagai penggerak roda perkonomian Masyarakat.
“Pelaksanaan rasulan juga menunjukkan masih kentalnya kekerabatan dan gotong royong di Masyarakat,” katanya.
Menurut dia, dari sisi ekonomi juga ada potensi karena dalam kegiatan yang dilaksanakan terdapat keramaian sehingga memberikan peluang kepada warga. “Roda ekonomi berputar karena ada yang berjualan untuk mencukupi kebutuhan penonton yang datang. Di sisi lain, potensi ini juga dapat untuk pengembangan wisata berbasis seni dan budaya,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
CFD Gunungkidul resmi pindah ke Jalan Agus Salim. Lokasi baru dinilai lebih luas, tertata, nyaman, dan ramai pengunjung.
Mediasi tambang CV BKS dan warga Padukuhan Karang Kulon Progo menghasilkan titik temu. Pemda DIY menjelaskan legalitas perizinan.
Jadwal SIM Keliling Kulonprogo hari ini 30 September 2026, lengkap dengan lokasi, jam pelayanan, syarat, dan ketentuan perpanjangan SIM.
Jadwal KRL Jogja-Solo Rabu 30 September 2026 tersedia 15 perjalanan. Cek jam keberangkatan, kedatangan tiap stasiun dan tarif Rp8.000.
Dokter Yoga Yuniadi meluruskan anggapan obat hipertensi menyebabkan ginjal rusak dan menjelaskan pentingnya menjaga tekanan darah tetap terkendali.
Kuota LPG 3 kg 2027 dipangkas menjadi 8 juta ton. Pemerintah menyiapkan CNG, jargas, dan kompor listrik sebagai energi alternatif.