Guru SD di Kulonprogo Wafat Saat Jalani Ibadah Haji
Jemaah haji Kulonprogo Ngadikin wafat di Makkah usai sesak napas saat umrah sunah, dimakamkan di Tanah Suci.
Nelayan sedang bekerja sama mendorong kapal ke pantai, di Pantai Bugel, Panjatan, Kulonprogo. - dok/Harian Jogja
Harianjogja.com, KULONPROGO-Angin kencang dan ombak yang tinggi bikin nelayan Pantai Congot, Kulonprogo jarang melaut. Lantaran khawatir membahayakan keselamatan nelayan jika memaksakan melaut. Dari Agustus sampai hari ini rutinitas melaut nelayan di bawah rata-rata normalnya.
Nelayan Pantai Congot, Nur Ahmad mengatakan, hujan angin yang sering terjadi membuatnya enggan melaut. Ditambah ombaknya tinggi sehingga pekan lalu hanya melaut dua kali saja.
"Sedangkan di pekan ini baru sehari saja melaut menurut prediksi besok ombak gede lagi dua sampai tiga hari," katanya, Rabu (17/9/2025).
BACA JUGA: Perahu Nelayan di Kulonprogo Terbalik
Nelayan yang beralamat di Jangkaran itu menuturkan, dari Agustus memang curah hujan tinggi dan adanya musim angin timur. Menurutnya, sampai hari ini cuaca yang sulit diprediksi menjadi hambatan nelayan Pantai Congot untuk melaut mencari ikan. Nur Ahmad menyampaikan, kondisi ini tidak hanya dialaminya saja melainkan mayoritas nelayan di Pantai Congot juga jarang melaut.
"Normalnya sebulan rata-rata bisa 12 hari melaut. Tetapi Agustus lalu hanya tujuh hari melaut," ungkapnya. Sedangkan di sepanjang September ini baru lima kali melaut saja. Dia beranggapan di September ini bakalannya rata-rata melautnya akan di bawah 12 hari karena cuaca yang masih sulit diprediksi.
Koordinator Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah V Kulonprogo, Aris Widiatmoko menambahkan memang dalam beberapa hari terakhir pesisir selatan bumi Binangun gelombangnya besar ditambah anginnya kencang. Apalagi terkadang langit mendung seperti akan hujan. Kondisi tersebut mengakibatkan kegiatan nelayan yang biasa melaut tetapi gagal sehingga tidak bisa mencari ikan.
Dia mencontohkan, seperti Rabu (17/9/2025) pagi tadi banyak nelayan di Kulonprogi gagal melaut. "Gagal melaut maksudnya sudah persiapan hendak berangkat tetapi gelombangnya cukup tinggi jadi mengurungkan niat untuk melaut," ungkapnya. Aris mengungkapkan, pesisir selatan Kulonprogo dampaknya sangat terasa bagi banyak nelayan.
Menurutnya ketika mendung akan ada angin kencang sehingga nelayan berpikir dua kali untuk melaut. Nelayan berpatokan terhadap prakiraan cuaca. "Nelayan kalau cuaca tidak mendukung memilih tidak melaut," jelasnya.
Aris berujar kondisi tersebut tidak hanya terjadi pada nelayan Pantai Congot saja. Melainkan dialami seluruh nelayan di pesisir pantai selatan Kulonprogo.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jemaah haji Kulonprogo Ngadikin wafat di Makkah usai sesak napas saat umrah sunah, dimakamkan di Tanah Suci.
BPBD Bantul siapkan Rp20 juta untuk antisipasi El Nino. Potensi kekeringan dan kebakaran mulai dipetakan sejak dini.
Prabowo kunjungi Museum Marsinah Nganjuk, soroti sejarah buruh Indonesia dan perjuangan hak pekerja serta penghormatan pahlawan nasional.
BNNP DIY perkuat pencegahan narkoba dengan kearifan lokal dan sinergi masyarakat untuk wujudkan Yogyakarta bersih narkoba.
Kompetisi 76 Indonesian Downhill 2026 hadir lebih ekstrem di Bantul. Trek baru lebih curam, cepat, dan menantang rider elite.
Wisata Gunungkidul ramai 41.969 pengunjung saat libur panjang. PAD tembus Rp516 juta, pantai masih jadi favorit wisatawan.