Jogja Expo 2026 Catat Potensi Perputaran Ekonomi Rp25 Miliar
Jogja Expo 2026 di JEC Bantul mencatat potensi perputaran ekonomi lebih dari Rp25 miliar dengan 121 tenant dan 5.382 peserta.
Petugas Kalurahan Bangunharjo menunjukkan fasilitas pengolahan sampah organik dengan metode komposter dan lubang biopori di kantor kalurahan setempat, Rabu (24/9/2025). /Harian Jogja-Yosef Leon.
Harianjogja.com, BANTUL—Pemerintah Kabupaten Bantul sedang menyiapkan program dalam menangani persoalan sampah, khususnya organik yang proporsinya mencapai 70 persen dari total timbunan harian.
Program itu nantinya akan mengintrusikan warga untuk mengolah secara mandiri sampah organiknya melalui lubang biopori atau komposter.
Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih mengatakan, sampah organik memang masih jadi salah satu persoalan di wilayahnya. Selama ini kebiasaan warga rumah tangga sulit untuk mengolah sampah jenis itu lantaran langsung dibuang saja ke tempat pengolahan sampah, padahal sulit untuk dibakar.
BACA JUGA: PLN Gelar Lomba Tata Kelola PDKB 2025 di Semarang
“Sampai hari ini saya belum menemukan mesin pemusnah sampah organik yang efektif, mampu menghancurkan dalam jumlah besar dengan cepat. Maka, jalan keluar yang paling realistis adalah setiap rumah tangga mengelola sampah organiknya sendiri,” ujar Halim, Rabu (24/9/2025).
Menurutnya, cara sederhana seperti membuat lubang biopori atau komposter terbukti mampu menyuburkan tanah sekaligus mengurangi timbunan sampah. Pihaknya dalam waktu dekat akan mengeluarkan instruksi kepada lurah agar dana program Pemberdayaan Pembangunan Berbasis Padukuhan (P2BMP) digunakan untuk mendukung pembuatan biopori di rumah-rumah warga.
“Seluruh kalurahan nanti kami minta punya alat bor biopori. P2BMP bisa dipakai membeli paralon untuk warga miskin. Sedangkan warga yang mampu, termasuk ASN, mestinya bisa membiayai sendiri,” kata Halim.
Pemkab Bantul berharap permasalahan sampah bisa dipangkas sejak dari sumbernya. Prinsipnya setiap warga bertanggung jawab atas sampah yang ia hasilkan, baik dengan mengelolanya sendiri maupun membayar pihak lain secara resmi bukan membuang sembarangan di sungai atau jalanan.
Lurah Bangunharjo, Nur Hidayat menyatakan, pengolahan sampah organik sudah mulai dijalankan di wilayahnya oleh para ASN dan perangkat desa setempat. Ia mengklaim setidaknya 40 aparatur di wilayahnya sudah memasang fasilitas pengolahan sampah organik di rumah masing-masing.
“Warga kami menghasilkan sekitar 4–5 ton sampah organik setiap hari. Kalau semua bisa dikelola di rumah, beban TPS akan sangat berkurang. Kami sudah beberapa kali mengadakan edukasi dan pelatihan, termasuk menyediakan komposter lewat dana P2BMP sebesar Rp50 juta,” kata Nur.
BACA JUGA: Beasiswa Cendekia Baznas Rusia 2025 Resmi Dibuka, Cek di Sini!
Ia menambahkan, ke depan pihaknya siap mendukung instruksi Pemkab Bantul untuk memperluas gerakan biopori hingga ke tingkat rumah tangga. “Kalau tidak selesai di rumah, permasalahan sampah tidak akan pernah tuntas. Ini butuh kesadaran bersama,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jogja Expo 2026 di JEC Bantul mencatat potensi perputaran ekonomi lebih dari Rp25 miliar dengan 121 tenant dan 5.382 peserta.
KPK menggeledah Bea Cukai Semarang dan Kanwil Bea Cukai Jateng-DIY, menyita dokumen, barang elektronik, serta uang tunai.
Kapolri dan Mendes PDT memperkuat kerja sama memberantas narkoba di desa melalui Desa Bersinar serta menyiapkan program Poliran.
Hujan mulai mengguyur Kulon Progo. BPBD mengingatkan warga mewaspadai pohon tumbang, genangan, angin kencang, dan gelombang tinggi.
Kejagung melelang 209.081,97 ton batu bara sitaan kasus Samin Tan senilai Rp264,08 miliar. Satu peserta dinyatakan sebagai pemenang.
PSIM Jogja mengajukan banding atas sanksi 10 pertandingan Mauro Caballero terkait dugaan rasisme terhadap pemain Bhayangkara FC.