Kasus DBD Terbanyak di Gunungkidul Ada di Ponjong, Capai 64 Kasus
Kasus DBD Gunungkidul mencapai 216 hingga September 2026. Ponjong menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 64 kasus.
Warga melintas di lokasi longsor di Kalurahan Tegalrejo, Gedangsari. Rabu (21/6/2023)/Harian Jogja-David Kurniawan\r\n\r\n
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—BPBD Gunungkidul menyiapkan anggaran Rp650 juta guna menghadapi dampak dari bencana hidrometeorologi. Selain itu, untuk mitigasi kebencanaan juga sudah ditetapkan status siaga darurat bencana.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono mengatakan, potensi bencana hidrometeorologi seiring masuknya musim penghujan semakin meningkat. Upaya mitigasi juga terus dilakukan mulai dari perluasan jaringan kalurahan Tangguh bencana hingga pembuatan peta kebencanaan di Gunungkidul.
Hasil pemetaaan rawan bencana, untuk banjir potensinya ada di sepanjang aliran Kali Oya dan beberapa titik di Kapanewon Girisubo. Adapun potensi longsor didominasi di zona utara Gunungkidul, meliputi Kapanewon Patuk, Gedangsari, Nglipar, Ngawen, Semin dan Ponjong.
“Untuk angin kencang potensinya menyebar di seluruh wilayah di Gunungkidul,” katanya, Kamis (6/11/2025).
Guna mengantisipasi ancaman ini, Purwono mengakui juga sudah mengalokasikan anggaran Rp650 juta untuk penanganan. Pagu disediakan dipergunaka dalam beberapa penanganan seperti sewa alat berat, bantuan stimulant rehabilitasi dan rekonstruksi bangunan rusak akibat bencana.
Di sisi lain, juga dapat dipergunakan dalam pembuatan bronjong talut yang rusak, penyediaan alat kerja bakti hingga paket permakanan. “Adanya dana siap pakai ini sebagai upaya memberikan respon cepat saat terjadi musibah bencana alam agar penanganan bisa optimal,” katanya.
Meski demikian, mantan Panewu Purwosari ini memastikan penggunaan anggaran kebencanaan tidak bisa sembarangan. Pasalnya, didalam prosesnya di setiap pengeluaran harus didasari oleh kejadian yang diperkuat dengan hasil validasi di lapangan.
“Penggunaan harus transparan dan akuntabel,” katanya.
Sebelumnya, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, BPBD Gunungkidul, Edy Winarta mengatakan, sudah menetapkan siaga darurat bencana hidrometeorologi. Kebijakan ini berlangsung mula November hingga akhir Januari 2025.
“Penetapan status siaga darurat bencana jadi bagian untuk mitigasi kebencanaan di Gunungkidul,” katanya.
Selain penetapan siaga darurat bencana hidrometeorologi, juga telah menyiapkan personel. Pada saat dibutuhkan, tim reaksi cepat siap terjun ke lokasi untuk membantu dan melakukan evakuasi pada saat terjadi musibah atau bencana alam.
“Sebagai bentuk kesiapsiagaan, personel BPBD sudah disiapkan untuk diterjunkan pada saat terjadi musibah yang dapat terjadi kapan saja,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kasus DBD Gunungkidul mencapai 216 hingga September 2026. Ponjong menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 64 kasus.
Alwi Farhan mengalahkan Chou Tien-Chen di perempat final Asian Games 2026 dan menyebut kontrol emosi sebagai kunci kemenangan.
Kakek asal Ngawi, Raden Mas Sri Parwasto, 68, meninggal setelah tertabrak kereta di Km 233+4 Kutorejo, Sragen.
Jonatan Christie tersingkir di perempat final Asian Games Aichi-Nagoya 2026 setelah kalah dari Loh Kean Yew karena stamina terkuras.
KPK menyita uang rupiah, dolar AS, dolar Singapura dan perhiasan saat menggeledah Kanwil BPN Jatim dalam kasus mafia tanah dugaan korupsi ATR/BPN.
Kemensos mendorong transformasi Puskesos Sleman menjadi pusat layanan dan pemberdayaan sosial. Sumberejo dipilih sebagai lokasi percontohan.