Rumah Studi De Britto Jadi Ruang Belajar Karakter di Tengah Era AI
Rumah Studi SMA Kolese De Britto di Sleman diresmikan Sultan HB X sebagai ruang pendidikan karakter dan refleksi di era AI.
Foto ilustrasi Waste to Energy. - Freepik
Harianjogja.com, SLEMAN—Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman memutuskan membatalkan rencana pengadaan insinerator yang sebelumnya akan dikerjakan bersama pihak ketiga. Langkah ini diambil setelah Pemerintah Provinsi DIY memastikan akan membangun Pengolahan Sampah Energi Listrik (PSEL) di kawasan Kapanewon Piyungan, Bantul.
Bupati Sleman Harda Kiswaya menjelaskan rencana pembangunan PSEL di tingkat provinsi sekaligus menguatkan keputusan untuk tidak melanjutkan proyek Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Moyudan.
“Terkait penanganan sampah, Kabupaten Sleman ikut dengan Pemerintah Provinsi DIY. Kami sudah sepakat dengan Pemda DIY. Insinerator batal dan TPST Moyudan juga tidak jadi. Kita syukuri saja,” ujar Harda seusai rapat di RR Paripurna DPRD Sleman, Kamis (27/11/2025).
Pemkab Sleman kini terus melakukan koordinasi dengan Pemda DIY bersama pemerintah kabupaten/kota lain. Salah satu yang dibahas adalah penentuan kuota pembuangan sampah residu setiap daerah.
Sleman harus menyiapkan strategi untuk menangani sampah yang tidak terkelola melalui TPST, TPS3R, maupun bank sampah, termasuk residu dari pengolahan sampah rumah tangga. Hal itu penting mengingat PSEL Piyungan diperkirakan mulai dibangun pada pertengahan 2026 dan baru beroperasi pada 2028, sementara TPA Piyungan ditutup total pada Januari 2026.
Pelaksana tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman Sugeng Riyanto mengungkapkan volume sampah residu yang tercatat dari Januari hingga September 2025 mencapai 2.051 ton. Data tersebut berasal dari tiga TPST—Tamanmartani, Minggir, dan Donokerto—serta tiga depo transfer di Panasan, Kragilan, dan Lempongsari.
Mengingat penutupan TPA Piyungan tinggal hitungan bulan, Sleman harus mencari pola pengelolaan residu secara lebih mandiri, meski masyarakat sudah cukup aktif melakukan pemilahan sampah.
Empat kapanewon menjadi penyumbang terbesar timbulan sampah, yakni Depok, Ngaglik, Gamping, dan Mlati. Keempat wilayah yang berada di kawasan aglomerasi Jogja itu menghasilkan sekitar 235,99 ton sampah per hari.
Berdasarkan kajian masterplan persampahan 2023, sebagian besar sampah di Sleman berasal dari rumah tangga dengan porsi 68,67%, disusul fasilitas publik 19,16%, dan pasar 9,34%. Jenis sampah yang paling mendominasi adalah sisa makanan, mencapai 46,5%.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Rumah Studi SMA Kolese De Britto di Sleman diresmikan Sultan HB X sebagai ruang pendidikan karakter dan refleksi di era AI.
Paus Leo XIV kembali menyerukan perdamaian di Timur Tengah dan mendesak semua pihak segera membuka kembali jalur dialog dan diplomasi.
Donald Trump membuka peluang kesepakatan damai dengan Iran, tetapi AS mengancam akan kembali menyerang jika negosiasi gagal.
KPK mendalami temuan uang di rumah Plt Gubernur Riau dalam penyidikan kasus dugaan pemerasan di Pemprov Riau.
Toy Story 5 dikabarkan menembus pendapatan global lebih dari USD1 miliar dan menjadi salah satu film terlaris 2026. Kesuksesan ini memperpanjang rekor waralaba
Ibu dan dua anak di Wates, Kulonprogo, tertimpa pohon tumbang akibat angin kencang saat mengendarai sepeda motor. Ketiganya dilarikan ke RSUD Wates.