Advertisement
DLH Sleman Siap Bangun Transfer Depo PSEL Piyungan 2026
Foto ilustrasi insinerator sampah. / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN—Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman menyatakan siap membangun infrastruktur pendukung berupa transfer depo sebagai bagian dari Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) TPA Piyungan pada 2026.
Pelaksana Tugas Kepala DLH Sleman Sugeng Riyanto mengatakan pihaknya telah menyiapkan lokasi pembangunan transfer depo, khususnya di kapanewon yang belum memiliki fasilitas tersebut. Proyek pembangunan akan dilelang tahun ini setelah seluruh aspek administrasi dan perizinan dipastikan rampung.
Advertisement
“Kami nanti akan melelang proyek pembangunan ini. Konstruksi tahun ini juga bisa dibangun,” kata Sugeng ditemui di Ramada by Wyndham Hotel Yogyakarta, Kalurahan Caturharjo, Sleman, Rabu (7/1/2026).
Pemkab Sleman mengalokasikan anggaran sebesar Rp4,5 miliar untuk pembangunan transfer depo dengan asumsi Rp750 juta per paket atau titik. Sugeng menyebut konstruksi fisik dimungkinkan mulai dikerjakan pada 2026.
BACA JUGA
Operasional PSEL TPA Piyungan diproyeksikan mulai awal 2028. Selama masa transisi dua tahun tersebut, Sleman harus memaksimalkan pengelolaan sampah secara mandiri, mengingat kuota pembuangan sampah residu ke TPA Piyungan telah habis pada awal 2026.
Sleman nantinya akan memperoleh kuota pengolahan PSEL sebesar 450 ton per hari. Sambil menunggu PSEL beroperasi, DLH mengoptimalkan peran TPST, TPS3R, transfer depo, dan bank sampah. Saat ini tercatat ada 44 TPS3R, tiga TPST, 14 transfer depo, dan 301 bank sampah di Sleman.
“Kalau kuota PSEL yang didapat Sleman 450 ton per hari. Tapi sementara ini menuju operasional PSEL, kami akan optimalkan TPST, TPS3R, transfer depo, dan bank sampah,” katanya.
Sugeng menekankan pentingnya peran masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah tangga. Ia mengakui masih ditemukan sampah bercampur di sejumlah transfer depo, sehingga edukasi menjadi kunci untuk menekan persoalan lingkungan.
“Masih ada di beberapa di transfer depo kami, sampah bercampur antara organik dan anorganik. Edukasi jadi solusi agar masyarakat paham dan mau mengerti kondisi saat ini. Mungkin belum terbiasa. Tapi, kalau sudah terbiasa jadi hal yang biasa,” ucapnya.
Sementara itu, Wakil Koordinator TPST Donokerto Johan Nur Rosyid mengungkapkan adanya peningkatan volume sampah yang masuk ke TPST Donokerto. Jika sebelumnya sekitar 12 ton per hari, kini meningkat menjadi 15 ton per hari akibat tambahan kiriman dari armada transfer depo dan armada lainnya.
“Biasanya hanya 12 ton saja. Ada kenaikan tiga ton. Penambahan terjadi dari kiriman armada transfer depo dan armada lain,” kata Johan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
10 Destinasi Terfavorit di Sleman Selama Libur Nataru, Ini Daftarnya
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement




