Advertisement
Status Siaga Darurat Diperpanjang, BPBD DIY Minta Masyarakat Waspada
Ilustrasi petir di tengah cuaca ekstrem. - Pixabay
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY memperpanjang status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi pada awal 2026. Masyarakat diimbau untuk lebih waspada dan mengidentifikasi kondisi lingkungannya guna mengantisipasi potensi bencana.
Kepala Pelaksana BPBD DIY, Agustinus Ruruh Haryata, mengatakan berdasarkan prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), puncak musim hujan 2025–2026 diperkirakan terjadi pada Januari–Februari. “Curah hujan di dasarian dua berada pada kategori menengah–tinggi, lalu dasarian tiga menengah,” ujarnya, Minggu (11/1/2026).
Advertisement
Ia menegaskan BPBD DIY tetap siaga dan terus berkoordinasi dengan BPBD kabupaten/kota untuk memberikan dukungan jika terjadi bencana hidrometeorologi. “Tapi Januari ini sifatnya memang tidak ada yang ekstrem, semoga tidak ada masalah terkait curah hujan,” tambahnya.
Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi juga resmi diperpanjang hingga akhir Februari. “Perpanjangan SK ini merupakan langkah antisipatif menghadapi potensi bencana hidrometeorologi. Walau harapannya tidak terjadi, kami tetap harus siap,” jelasnya.
BACA JUGA
Ruruh mengajak masyarakat untuk melakukan identifikasi secara mandiri di lingkungan masing-masing. “Misalnya ada pohon tinggi yang rapuh, segera dipotong. Sudah beberapa kejadian pohon tumbang menimbulkan korban jiwa,” ungkapnya.
Ia juga meminta masyarakat memastikan saluran drainase tidak tersumbat agar aliran air tetap lancar saat hujan deras. “Bisa dilakukan kerja bakti. Ketika curah hujan tinggi, air bisa masuk drainase dan mengalir tanpa hambatan,” jelasnya.
Sumbatan drainase, katanya, dapat memicu banjir hingga longsor jika tidak diantisipasi. Untuk wilayah dengan kontur tanah tinggi–rendah, masyarakat diminta memperhatikan apakah terdapat retakan di lahan. “Kalau sudah mulai ada rekahan, segera informasikan kepada tim di lapangan, melalui Kalurahan Tangguh Bencana, Pos Aju, atau Portal Pamor. Nanti dilakukan asesmen, baik oleh kabupaten/kota maupun tim kami jika dibutuhkan,” tutur Ruruh.
Pos Aju merupakan posko operasional yang mempercepat respons, koordinasi sumber daya, dan logistik ketika terjadi kedaruratan. Pos ini menjadi penghubung antara posko utama dan lokasi kejadian agar penanganan lebih cepat dan efektif.
Sementara Portal Pamor adalah Disaster Management Information System yang membantu penanganan maupun pencegahan kejadian bencana di DIY. Sistem ini melibatkan Tim Respon Cepat (TRC), responder lapangan, hingga masyarakat sebagai pelapor.
“Sekarang masyarakat sudah mulai sadar bahwa kita tinggal di wilayah dengan potensi bencana yang cukup tinggi. Maka yang penting adalah menjaga lingkungan hidup, selalu waspada terhadap cuaca, dan segera menyampaikan informasi jika ada kejadian agar bisa segera ditindaklanjuti,” tegasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Malaysia Perkenalkan Panda Raksasa Baru Chen Xing dan Xiao Yue
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement




