Advertisement
Jalan Kelok 23 Bantul-Gunungkidul Ditargetkan Dibuka Juli 2026
JJLS Kelok 18 / Foto ilustrasi Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, BANTUL—Proyek pembangunan Jalan Kelok 23 yang menghubungkan Kabupaten Bantul dan Gunungkidul semakin mendekati tahap akhir. Jalan nasional strategis ini ditargetkan mulai dibuka untuk lalu lintas masyarakat pada Juli 2026, seiring progres pengerjaan fisik yang kini telah mencapai 89,317 persen.
Koordinator Lapangan 1.2 Satker Pelaksanaan Jalan Nasional (PJN) DIY, Kuswandi, mengungkapkan bahwa sisa pekerjaan sekitar 11 persen masih terfokus pada paket ketiga, meliputi pembangunan jembatan, pekerjaan bore pile, serta pengaspalan. Seluruh pekerjaan utama ditargetkan rampung pada Juli agar jalan bisa mulai difungsikan.
Advertisement
“Kalau pekerjaan jembatan dan aspal selesai Juli, maka Juli 2026 sudah bisa open traffic. Meski waktu kontrak sebenarnya sampai Agustus,” ujar Kuswandi, Rabu (21/1/2026).
Ia menjelaskan, tantangan utama saat ini berada pada pembangunan jembatan sepanjang 40 meter yang masih menunggu pengiriman girder dari Surabaya. Apabila pengiriman berjalan lancar, pembukaan Jalan Kelok 23 berpeluang dilakukan lebih cepat. Namun, jika terjadi keterlambatan distribusi girder, penyelesaian proyek berpotensi mundur hingga Agustus 2026.
BACA JUGA
Untuk ruas wilayah Bantul, Kuswandi memastikan seluruh pekerjaan telah tuntas. Sementara itu, di sisi Kabupaten Gunungkidul masih tersisa sekitar 1,9 kilometer, tepatnya di kawasan Girijati. Secara keseluruhan, konektivitas Bantul–Gunungkidul ditargetkan dapat berfungsi penuh pada pertengahan tahun 2026.
Meski belum dibuka secara resmi, jalan tersebut saat ini sudah dapat dilalui kendaraan kecil dalam kondisi tertentu, khususnya untuk kepentingan darurat. Namun demikian, jalan belum difungsikan untuk umum karena masih mempertimbangkan faktor keselamatan pengguna jalan.
“Kami sudah memasang empat portal sebagai pengamanan. Tebing di sekitar jalur masih rawan, dan jalan ini juga harus melalui uji kelayakan sebelum benar-benar dibuka,” jelasnya.
Seiring mendekatnya target pembukaan, dampak ekonomi mulai dirasakan. Kuswandi menyebut minat investor terhadap kawasan di sekitar Jalan Kelok 23 mengalami peningkatan. Hal itu ditandai dengan adanya pembelian lahan di sepanjang jalur tersebut. Bahkan, sedikitnya 11 titik telah dilirik untuk pengembangan sektor pariwisata, termasuk kawasan wisata Gua Jepang.
Sekretaris Komisi C DPRD DIY, Koeswanto, menegaskan pihaknya memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan pembangunan Jalan Kelok 23 tidak merugikan masyarakat sekitar.
“Kami punya beban moral kepada masyarakat. Pembangunan ini berdampak, misalnya lumpur yang mengalir ke desa di bawah. Walaupun ini jalan nasional, ketentuan pembangunannya tetap harus kita cek,” ujarnya saat meninjau lokasi proyek.
Sementara itu, Anggota DPRD DIY, Aslam Ridlo, menyoroti aspek keamanan dan lingkungan dari proyek Jalan Kelok 23. Menurutnya, pembangunan dengan anggaran besar yang membelah tebing harus diimbangi dengan jaminan keselamatan serta perlindungan lingkungan yang memadai.
“Kelok 23 ini mengorbankan daya dukung lingkungan. Maka ketika dimanfaatkan, keamanannya harus benar-benar terjamin, baik dari sisi konstruksi jalan maupun kondisi lingkungannya,” kata Aslam.
Ia berharap Jalan Kelok 23 mampu menjadi pengungkit ekonomi baru, khususnya bagi Kabupaten Bantul, melalui peningkatan aktivitas wisata dan daya beli masyarakat. Namun, ia juga menekankan pentingnya program pemulihan lingkungan sebagai konsekuensi dari pembangunan infrastruktur tersebut, termasuk upaya menutup dan memulihkan dampak lingkungan yang telah terjadi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Petugas Haji 2026 Jalani Latihan Semi Militer, Ini Tujuannya
Advertisement
Diawali dari Langgur, Cerita Wisata Kepulauan Kei Dimulai
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement



