Advertisement
Kelola 2.000 Ton Sampah Organik, Pemkot Jogja Tambah 400 Biopori Jumbo
Foto ilustrasi sampah organik. / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA— Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta mempercepat pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat dengan menambah ratusan lubang biopori jumbo pada 2026. Langkah ini disiapkan untuk meningkatkan kapasitas pengolahan sampah rumah tangga sekaligus mendorong manfaat ekonomi bagi warga.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menyampaikan, tahun ini Pemkot menargetkan penambahan 400 lubang biopori jumbo. Dengan tambahan tersebut, jumlah biopori jumbo yang beroperasi di Kota Jogja mencapai sekitar 1.000 unit. Setiap biopori jumbo diperkirakan mampu mengolah hingga dua ton sampah organik.
Advertisement
“Kalau ada seribu biopori jumbo, secara teoritis bisa menahan sekitar 2.000 ton sampah. Itu jumlah yang sangat besar,” katanya, Jumat (23/1/2026).
Menurut Hasto, sampah organik rumah tangga yang dimasukkan ke biopori jumbo akan diproses menjadi kompos. Pemkot turut memberikan dukungan berupa penyediaan obat atau aktivator agar proses pengomposan berlangsung lebih cepat, sekaligus membantu tenaga panen kompos yang membutuhkan keahlian khusus.
BACA JUGA
“Pemerintah membantu memanen dan mempercepat proses kompostingnya. Setelah itu hasil panen bisa dipakai sendiri atau dijual, monggo silakan. Pemerintah tidak mengambil uangnya, sepenuhnya untuk masyarakat,” katanya.
Hasto menambahkan, kompos hasil olahan sampah organik memiliki nilai ekonomi yang cukup menjanjikan. Harga kompos di pasaran bisa mencapai Rp1.000 per kilogram. Selain menekan volume sampah, program biopori jumbo ini juga dinilai mampu mendorong kemandirian ekonomi warga.
Pengembangan biopori jumbo tersebut terintegrasi dengan Integrated Farming Program serta pembangunan Unit Pengolah Pupuk Organik (UPO). Pada 2026, Pemkot Jogja membangun tiga sentra UPO yang berlokasi di sekitar Pasar Pasty, Tegalgendu, dan Tegalrejo.
“Di Tegalgendu dan Tegalrejo itu bisa sekaligus untuk pertanian. Bahkan di Tegalrejo ada sawahnya,” katanya.
Ia juga mendorong pengembangan pertanian lorong atau lorong sayur sebagai solusi keterbatasan lahan di wilayah perkotaan. Menurutnya, konsep tersebut efektif memanfaatkan ruang sempit namun tetap produktif.
“Lorong sayur ini bagus. Saya sarankan diperbanyak, ibu-ibunya digerakkan. Harapannya bisa mengurangi belanja cabai, karena cabai sering jadi penyumbang inflasi,” katanya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Subur Makmur Lestari Kelurahan Mantrijeron, Sumarsini, menjelaskan pemanfaatan biopori jumbo di RW 05 Kampung Mangkuyudan telah berjalan sejak 2021. Pada tahap awal, hanya tersedia dua unit biopori jumbo untuk mengolah sampah organik rumah tangga warga.
“Warga kami sosialisasikan untuk pilah sampah dari rumah. Sampah organik dibuang ke biopori, sedangkan anorganik ke bank sampah,” katanya.
Sampah organik yang dimasukkan ke dalam biopori secara rutin diberi tetes tebu dan EM4 guna mempercepat proses pembusukan. Setelah sekitar enam bulan, sampah tersebut dapat dipanen menjadi kompos dan dimanfaatkan sebagai media tanam.
Sumarsini menyebut kompos hasil biopori jumbo dimanfaatkan KWT untuk membudidayakan berbagai jenis sayuran dan buah meski tanpa lahan luas. Lorong-lorong kampung dimaksimalkan sebagai area tanam produktif.
“Sekarang warga bisa menikmati sayuran hasil panen sendiri, lebih sehat, dan mengurangi pengeluaran rumah tangga,” katanya.
Saat ini, sekitar 100 kepala keluarga di RW 05 telah aktif memanfaatkan biopori jumbo. Dari satu unit biopori, sampah organik yang tertampung bisa mencapai dua ton sampah basah dengan hasil panen sekitar 550–600 kilogram kompos.
Hasil uji laboratorium menunjukkan kompos tersebut telah memenuhi standar, dengan pH netral 7, kandungan organik sebesar 10 persen, serta unsur hara nitrogen (N) dan fosfor (P) yang tergolong tinggi dan aman untuk pertanian.
“Komposnya hitam seperti tanah, aman digunakan dan tidak meracuni tanaman,” katanya, seraya berharap keberhasilan pemanfaatan biopori jumbo di Kampung Mangkuyudan dapat direplikasi di wilayah lain guna memperkuat pengelolaan sampah organik sekaligus mendukung ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Tujuh Tewas dalam Longsor Disertai Banjir Bandang di Cisarua Bandung
Advertisement
Diawali dari Langgur, Cerita Wisata Kepulauan Kei Dimulai
Advertisement
Berita Populer
- BMKG: Cuaca Ekstrem Berpotensi Landa DIY hingga 25 Januari
- Depo di Jogja Tak Terima Sampah Organik, Bumijo Fokus Olah Mandiri
- Tebing Labil Seusai Hujan, Batu Timpa Rumah Warga Bokoharjo Sleman
- Masih Ada 982 Guru dan Tenaga Kependidikan Honorer SMA-SMK di DIY
- Warga Kalibawang Diduga Tewas, Kerangka Ditemukan di Gunung Tugel
Advertisement
Advertisement



