Advertisement
UMKM dan Koperasi Desa di Kulonprogo Perkuat Rantai Pasok MBG
Foto ilustrasi menu Makan Bergizi Gratis, dibuat menggunakan Artificial Intelligence (AI).
Advertisement
Harianjogja.com, KULONPROGO—Penguatan rantai pasok program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kulonprogo mulai menemukan kepastian pasar seusai Dinas Perindustrian, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah (DisperinkopUKM) Kabupaten Kulonprogo mempertemukan pelaku UMKM dan koperasi desa merah putih (KDMP) dengan pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam forum business matching. Forum ini mendorong kerja sama konkret agar produk lokal terserap dalam kebutuhan dapur MBG di wilayah tersebut.
Dalam forum tersebut, pelaku UMKM dan pengurus KDMP dipertemukan langsung dengan pengelola SPPG untuk menyelaraskan kebutuhan bahan baku, kapasitas produksi, serta standar kualitas yang dipersyaratkan dalam program MBG. Langkah ini sekaligus membuka peluang pasar yang lebih pasti bagi produk lokal Kulonprogo.
Advertisement
Kepala DisperinkopUKM Kulonprogo, Iffah Mufidati mengatakan, business matching menjadi strategi konkret untuk memperkuat pemanfaatan bahan baku lokal dalam program strategis nasional.
"Kami berupaya meningkatkan peran UMKM dan KDMP sebagai bagian dari rantai pasok program strategis nasional, khususnya untuk mendukung program MBG di wilayah Kulonprogo," katanya kepada wartawan, Kamis (29/1/2026).
BACA JUGA
Iffah menjelaskan, sebelum dipertemukan dengan para mitra MBG, produk-produk UMKM telah melalui proses kurasi ketat pada 19 Januari 2026 di Gedung Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT). Dari total 94 produk yang didaftarkan oleh 60 UMKM dan 5 KDMP, sebanyak 84 produk dinyatakan lolos kurasi. Produk tersebut mencakup bahan pangan segar, pangan olahan, produk setengah jadi, hingga bahan baku pendukung lainnya.
"Proses kurasi dilakukan dengan mempertimbangkan legalitas usaha, mutu, keamanan produk, kapasitas produksi, hingga aspek higienitas dan pengemasan. Hal ini penting untuk memastikan keberlanjutan pasokan ke dapur SPPG sesuai standar kualitas, harga, dan kuantitas yang ditetapkan," lanjut Iffah.
Dalam kegiatan business matching tersebut, hadir perwakilan dari 38 SPPG, 28 yayasan pengelola, serta 10 mitra program MBG. Pertemuan ini diharapkan mampu membangun komunikasi efektif sekaligus menyamakan persepsi antara penyedia bahan baku lokal dan pengelola program MBG terkait spesifikasi kebutuhan serta skema distribusi.
Sebagai simbol dimulainya kerja sama, dilakukan penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS) antara pelaku UMKM Tempe Putra dengan SPPG Palihan Temon, serta KDMP Sentolo dengan SPPG Banjararum Kalibawang. Penandatanganan ini menjadi langkah awal integrasi produk UMKM dan KDMP dalam rantai pasok MBG di Kulonprogo yang melibatkan dapur-dapur SPPG secara berkelanjutan.
Sementara itu, Koordinator Wilayah SPPG Kulonprogo, Aini Ambarwati, menyambut positif forum business matching tersebut karena dinilai mampu menjembatani kebutuhan rantai pasok program MBG sekaligus memastikan standar mutu tetap terjaga.
"Dengan melibatkan UMKM Kulonprogo, kita tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga sekaligus menggerakkan ekonomi rakyat," terang Aini.
Komitmen SPPG untuk memprioritaskan bahan baku dari UMKM dan KDMP lokal Kulonprogo ditegaskan tetap mengacu pada standar kualitas dan keamanan pangan, sehingga program MBG tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi, tetapi juga memperkuat ekosistem ekonomi daerah berbasis produk lokal.
BACA JUGA
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Wisata ke Meksiko Dilarang Bawa Vape, Turis Terancam Penjara 8 Tahun
Advertisement
Berita Populer
- Dana Desa Gunungkidul Masih Menggantung, Kalurahan Tunggu PMK
- PSIM Jogja Tantang Borneo FC, Van Gastel Soroti Evaluasi Usai Kalah
- Pemkab Sleman Salurkan 93 Bantuan Hukum Gratis untuk Warga Miskin
- Kapolda DIY Tunjuk Kombes Roedy sebagai Plh Kapolresta Sleman
- Marbot Masjid di Wates Temukan Pria Meninggal di Kamar Mandi
Advertisement
Advertisement




