Advertisement
Kasus DBD Gunungkidul Turun, 2025 Nihil Korban Jiwa
Nyamuk / Ilustrasi Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL — Kabar menggembirakan datang dari sektor kesehatan Kabupaten Gunungkidul. Sepanjang 2025, Dinas Kesehatan Gunungkidul mencatat tidak ada satu pun kasus kematian akibat demam berdarah dengue (DBD). Capaian ini menunjukkan tren positif dibandingkan dua tahun sebelumnya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Gunungkidul, Wanda Abrar, mengungkapkan jumlah kasus DBD terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.
Advertisement
Pada 2024 lalu, tercatat sebanyak 1.833 warga terjangkit DBD dengan empat korban meninggal dunia. Sementara pada 2025, jumlah penderita menurun menjadi 1.167 kasus tanpa disertai korban jiwa.
“Terjadi penurunan cukup signifikan dan yang paling menggembirakan, tahun 2025 tidak ada kematian akibat DBD,” ujar Wanda, Ahad (1/2/2026).
BACA JUGA
Meski demikian, ia menegaskan masyarakat tetap perlu waspada. Pasalnya, potensi penularan biasanya meningkat saat musim hujan seperti yang tengah berlangsung saat ini.
Dinas Kesehatan terus menggencarkan edukasi pencegahan melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) yang melibatkan kader kesehatan di tingkat kalurahan.
“Pola Hidup Bersih dan Sehat atau PHBS sangat penting. Ditambah olahraga rutin serta konsumsi makanan bergizi agar daya tahan tubuh tetap kuat,” jelasnya.
Selain edukasi, upaya pengendalian juga difokuskan pada pemberantasan sarang nyamuk. Warga didorong aktif memantau lingkungan sekitar untuk memastikan tidak ada genangan air yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti.
Targetnya, angka bebas jentik nyamuk minimal mencapai 95 persen.
Langkah konkret yang terus disosialisasikan meliputi menguras tempat penampungan air, menutup wadah air dengan rapat, serta mengubur barang-barang bekas yang bisa menampung air hujan.
“Upaya sederhana ini sangat efektif jika dilakukan rutin oleh seluruh masyarakat,” imbuh Wanda.
Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono, menambahkan capaian tanpa korban jiwa di 2025 mengulang catatan positif yang pernah terjadi pada 2018.
“Setelah 2018, sejak 2019 sampai 2024 selalu ada korban meninggal akibat DBD. Alhamdulillah tahun 2025 kita kembali nol kematian,” katanya.
Ia menilai keberhasilan tersebut tidak lepas dari respons cepat tenaga medis dalam menangani pasien sejak gejala awal terdeteksi. Kesadaran masyarakat untuk segera memeriksakan diri juga berperan besar.
“Kunci utamanya tidak boleh ada keterlambatan penanganan. Kolaborasi masyarakat dan tenaga kesehatan sangat menentukan agar pasien bisa cepat sembuh,” pungkas Ismono.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Wisata ke Meksiko Dilarang Bawa Vape, Turis Terancam Penjara 8 Tahun
Advertisement
Berita Populer
- Bantul Usulkan Tiga SPAM Baru untuk Layanan Air Minum
- Target PAD Retribusi Pasar Bantul 2026 Dipatok Rp5,5 Miliar
- Disdikpora Bantul Matangkan TKA 2026 Jelang SPMB
- Hujan dan Angin Terjang Sleman, Pohon Tumbang hingga Angkringan Roboh
- Pemuda Indonesia Timur Siap Jaga Keamanan DIY Lewat Jalur Profesional
Advertisement
Advertisement




