Advertisement

Tata Ruang Yogyakarta Menjadi Cerminan Cara Hidup

Ariq Fajar Hidayat
Sabtu, 07 Maret 2026 - 21:07 WIB
Maya Herawati
Tata Ruang Yogyakarta Menjadi Cerminan Cara Hidup Raja Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB X membuka Pameran Smarabawana di Bangsal Pagelaran Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sabtu (7/3/2026). Harian Jogja - Ariq Fajar Hidayat

Advertisement

JOGJA—Raja Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menegaskan tata ruang Yogyakarta sejak awal tidak hanya dirancang sebagai susunan kota, tetapi juga sebagai cerminan pandangan hidup yang menghubungkan manusia dengan alam dan Tuhan.

Menurut Sultan, konsep tersebut sudah dirancang sejak berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada 1755 setelah Perjanjian Giyanti. Sri Sultan HB I saat itu tidak hanya membangun kawasan kerajaan di Hutan Beringan, tetapi juga menata ruang kota dengan mempertimbangkan filosofi kehidupan masyarakat Jawa. “Tata ruang tidak sekadar dipahami sebagai planologi. Ia juga menjadi cerminan kosmologi kehidupan yang membentuk nilai dan keyakinan suatu peradaban,” kata Sultan saat membuka Pameran Smarabawana: Tata Ruang Kasultanan Yogyakarta di Bangsal Pagelaran Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sabtu (7/3/2026).

Advertisement

Dalam kebudayaan Yogyakarta, pemahaman ruang juga memiliki dimensi spiritual yang kuat. Salah satu manifestasinya adalah Sumbu Imajiner yang menghubungkan Gunung Merapi, Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Laut Selatan. “Sumbu imajiner itu bukan sekadar garis geografis. Ia adalah simbol perjalanan eksistensial manusia yang dikenal dalam falsafah Jawa sebagai Sangkan Paraning Dumadi,” kata Sultan.

Konsep tersebut juga dikenal dalam kajian peradaban dunia sebagai axis mundi atau poros dunia, yaitu titik pertemuan antara langit, Bumi, dan kehidupan manusia. Struktur kosmologis khas Jogja bahkan telah mendapat pengakuan internasional ketika Sumbu Kosmologis Yogyakarta ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO pada 2023.

Sultan menilai pemahaman tata ruang berbasis kosmologi ini dapat menjadi pijakan dalam melihat perkembangan wilayah DIY ke depan. Tata ruang tidak hanya dipandang sebagai pembangunan fisik, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan peradaban.

Pengalaman Artistik

Penghageng KHP Nityabudaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, GKR Bendara, menjelaskan pameran Smarabawana mengangkat tema tentang arsitektur, tata ruang, dan perkembangan wilayah Kasultanan yang terus berkembang. Menurutnya, penyajian tema tersebut membutuhkan pendekatan khusus karena tata ruang tidak hanya berkaitan dengan bangunan, tetapi juga lanskap wilayah yang luas dan terus berubah mengikuti perkembangan sejarah.

“Topik arsitektur, tata ruang, dan wilayah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat menjadi gagasan utama yang memerlukan strategi khusus dalam penyajian pameran. Pasalnya, tata ruang dan wilayah merupakan benteng alam buatan dengan luasan lanskap yang terus bertumbuh dari masa ke masa,” kata GKR Bendara.

Menurutnya, pameran dirancang menggunakan pendekatan environmental artistic design agar pengunjung dapat merasakan pengalaman ruang secara lebih interaktif.

“Melalui pendekatan ini, setiap ruang pamer mengajak pengunjung dalam pengalaman artistik partisipatoris. Pendalaman dari setiap topik nantinya juga akan dibahas dalam Simposium Internasional Budaya Jawa pada Agustus 2026,” ujarnya.

Pameran Smarabawana dapat dikunjungi masyarakat mulai 8 Maret hingga 26 Agustus 2026 di Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Dalam pembukaan pada Sabtu, digelar peragaan busana Buron Wana diiringi penampilan acapella dari Yogyakarta Royal Choir di Bangsal Pagelaran Karaton.

 

 

 

BACA JUGA

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Stok Pencegat Rudal Israel Menipis

Stok Pencegat Rudal Israel Menipis

News
| Minggu, 15 Maret 2026, 10:37 WIB

Advertisement

Destinasi Wisata dengan Panorama Samudera dari Atas Karang Gunungkidul

Destinasi Wisata dengan Panorama Samudera dari Atas Karang Gunungkidul

Wisata
| Sabtu, 14 Maret 2026, 10:32 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement