Advertisement
Menyibak Makna Ukiran Karaton lewat Pameran Smarabawana
Kurator pameran, Fajar Wijanarko memaparkan sejarah yang ditampilkan dalam Pameran Temporer Smarabawana: Tata Ruang Kasultanan Yogyakarta di Kompleks Kedhaton Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Minggu (8/3/2026). - Harian Jogja - Ariq Fajar Hidayat
Advertisement
JOGJA—Di dalam kompleks Karaton Ngyogyakarta Hadiningrat, jejak-jejak arsitektur yang selama ini sering menjadi latar foto pengunjung ternyata menyimpan cerita panjang tentang filosofi, sejarah, dan cara pandang orang Jawa terhadap ruang. Melalui Pameran Temporer Smarabawana: Tata Ruang Kasultanan Yogyakarta, Karaton mengajak publik menelusuri kembali makna di balik ukiran, ornamen, dan tata ruang yang selama ini kerap dilihat sekilas.
Pameran yang dibuka untuk umum mulai Minggu (8/3) ini akan berlangsung hingga 26 Agustus mendatang. Setiap hari, pengunjung dapat menyambangi Kompleks Kedhaton Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat mulai pukul 08.30 WIB hingga 14.30 WIB.
Advertisement
Tema Smarabawana dipilih untuk mengangkat kembali pemahaman tentang tata ruang dan arsitektur Karaton yang tidak sekadar menghadirkan bentuk fisik bangunan. Lebih dari itu, tata ruang dipandang sebagai warisan pemikiran dan kebijaksanaan leluhur yang diwariskan lintas generasi. “Smarabawana ini menceritakan tentang tata ruang dan juga arsitektural yang ada di dalam Karaton, yang terkadang orang selfie dengan background-nya tapi tidak mengerti artinya apa sih, kenapa kok ada gambar itu, kenapa ada ukiran itu, dan lain sebagainya,” ujar Penghageng KHP Nitya Budaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat sekaligus Ketua Pameran, GKR Bendara saat ditemui di hari pertama pameran, Minggu.
Di dalam ruang pamer, pengunjung tidak hanya menemukan ukiran kayu yang selama ini menjadi ciri khas arsitektur Karaton. Sejumlah elemen arsitektur lain yang memiliki keterkaitan sejarah dengan Kasultanan Yogyakarta juga dihadirkan kembali.
Salah satunya adalah representasi ornamen dari Tamansari maupun Warungboto. Kehadiran elemen-elemen tersebut membuat pengunjung dapat melihat potongan-potongan arsitektur Karaton dalam satu ruang yang sama.
“Di dalam tidak hanya ada ukiran kayu, tapi juga ada yang kita hadirkan seperti dari Tamansari. Jadi arsitektural dari Tamansari itu kami hadirkan ke sini juga,” kata GKR Bendara.
Sebagian detail ornamen bahkan hanya bisa terlihat jika diperhatikan dengan saksama. Pada beberapa bagian, warna-warna lama dari lapisan cat arsitektur masih dapat muncul ketika disorot cahaya. “Kalau nanti melihat secara detail ke dalam-dalamnya, siapkan flashlight, bisa lihat nanti ada warna cat-cat yang akan muncul begitu, sudah diteliti. Tapi jangan menyentuh artefaknya,” jelasnya.
Jumenengan Dalem
Kurator pameran, Fajar Wijanarko, menjelaskan Smarabawana juga menjadi bagian dari rangkaian perayaan Tingalan Jumenengan Dalem. Melalui pameran ini, tim kurator mencoba menarasikan perjalanan tata ruang Kasultanan Yogyakarta dari sisi sejarah hingga filosofi Jawa. Pameran dimulai dengan ruang imersif yang memperkenalkan konsep kosmologi Jawa seperti Sedulur Papat Limo Pancer. Konsep tersebut selama ini banyak memengaruhi arah bangunan, penempatan ruang, hingga orientasi arsitektur tradisional Jawa.
Di bagian lain, pengunjung diajak menelusuri kembali perjalanan Pangeran Mangkubumi dalam Perang Mangkubumen yang berlangsung pada abad ke-18. Narasi ini menjadi pengantar menuju Perjanjian Giyanti yang menandai berdirinya Kasultanan Yogyakarta. Fajar menjelaskan perjalanan tersebut direkonstruksi dari berbagai sumber sejarah, salah satunya Babad Ngayogyakarta. Peta perjalanan yang ditampilkan menunjukkan wilayah-wilayah yang dilalui Pangeran Mangkubumi ketika memimpin perlawanan terhadap VOC. “Pengunjung bisa melihat wilayah yang dilalui oleh Pangeran Mangkubumi saat berperang. Kami membaca satu Babad Ngayogyakarta kemudian menemukan berbagai wilayah yang kemudian dilalui oleh Pangeran Mangkubumi sampai akhirnya terjadi Perjanjian Giyanti,” kata Fajar.
Di tengah peta tersebut, terdapat kisah menarik tentang kuda putih bernama Kyai Dhurma Sari yang dipilih Pangeran Mangkubumi sebagai tunggangan dalam perang. Pilihan itu disebut berkaitan dengan pengalaman sejarah yang memengaruhi keputusan sang pangeran.
“Dari sumber yang kami baca, ternyata Pangeran Mangkubumi membaca ketika Arya Penangsang memiliki kuda hitam yang kemudian kalah oleh Sutawijaya pada pada saat perang. Sehingga beliau memilih kuda berwarna putih sebagai kuda yang kemudian digunakan dalam Perang Mangkubumen,” jelas Fajar.
Pameran Smarabawana pada akhirnya tidak hanya menawarkan pengalaman melihat artefak. Ia mengajak pengunjung membaca kembali ruang-ruang yang selama ini mungkin dianggap biasa, tetapi sebenarnya menyimpan cerita panjang tentang perjalanan lahirnya Yogyakarta dan cara masyarakat Jawa memahami dunia di sekelilingnya. (Advertorial)
BACA JUGA
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
AS: Cabang Ikhwanul Muslimin di 3 Negara Ini Jadi Organisasi Teroris
Advertisement
Destinasi Wisata dengan Panorama Samudera dari Atas Karang Gunungkidul
Advertisement
Berita Populer
- Pemkot Jogja Siapkan Wisata Sungai, Pengerukan Dimulai Usai Lebaran
- DLHK DIY Siapkan Evakuasi 900 Ton Sampah Saat Lebaran 2026
- Kasus Campak Bantul Naik 17 Kasus, Banguntapan Tertinggi
- Pamit Bukber, Remaja Ditemukan Tewas di Jalur Ngobaran Gunungkidul
- Cek Waktu Buka Puasa Jogja Hari Ini Sabtu 14 Maret 2026
Advertisement
Advertisement




