PSIM Jogja Resmi Lepas Anton Fase Jelang Super League
PSIM Jogja resmi melepas Anton Fase jelang Super League 2026/2027. Cedera jadi faktor utama minimnya kontribusi pemain asal Belanda itu.
Penyerahan unit Si Komat di Giwangan, Umbulharjo, beberapa waktu lalu. Ist/ Dok. Maggot Ndalem Sawo
Harianjogja.com, JOGJA— Inovasi pengolahan sampah berbasis maggot kini berkembang pesat di Kota Jogja. Program bernama Si Komat (Inovasi Kotak Maggot) yang lahir dari kawasan di Kelurahan Cokrodiningratan, Kemantren Jetis, mampu mengubah sampah organik rumah tangga menjadi bernilai ekonomi.
Dikembangkan oleh komunitas Maggot Ndalem Sawo, sistem ini memungkinkan warga mengolah sampah langsung dari rumah dengan cara yang lebih sederhana. Hingga kini, ratusan unit telah digunakan di berbagai titik, mulai dari permukiman hingga sektor usaha.
“Inovasi kita Si Komat, singkatan dari Inovasi Kotak Maggot. Tujuannya agar masyarakat Jogja bisa mengolah sampah organik langsung di rumah tangga masing-masing menggunakan maggot,” ujar pengelola Maggot Ndalem Sawo, Satrio Herlambang, Senin (6/4/2026).
Ia menyebut sekitar 500 unit Si Komat kini telah tersebar dan dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat. Penggunaannya tidak hanya di lingkungan rumah tangga, tetapi juga di UMKM, asrama, hingga rumah makan.
“Di berbagai kelurahan ada, di UMKM ada, di asrama, dan rumah makan juga bisa. Komunitas juga ada. Total mungkin sudah sekitar 500 Sikomat yang tersebar,” katanya.
Satrio mengungkapkan, inovasi ini lahir dari tantangan teknis dalam pengelolaan maggot yang selama ini dinilai rumit. Tidak semua warga mampu mengelola maggot secara konsisten karena kendala bau hingga kekhawatiran terhadap serangga tersebut.
Melalui pengembangan bertahap, komunitas kemudian merancang sistem yang lebih ramah bagi rumah tangga. Si Komat kini diklaim mampu mengatasi persoalan bau sekaligus membuat pengelolaan lebih aman dan praktis.
“Awalnya banyak tantangan, seperti maggot yang naik dan masalah bau. Jadi inovasi kami bertahap. Sampai sekarang Si Komat sudah bisa mengatasi masalah bau, aman di rumah tangga, dan ibu-ibu yang takut maggot bisa tetap mengolah sampah tanpa harus melihat maggotnya,” jelasnya.
Selain membantu mengurangi sampah, program ini juga membuka peluang ekonomi bagi warga. Maggot hasil pengolahan bisa dijual atau dimanfaatkan sebagai pakan ternak alternatif.
“Bermacam-macam, tergantung anggotanya. Ada yang ingin sampahnya selesai, maggotnya kami ganti secara sirkular dari prepupa jadi bibit lagi. Ada juga yang untuk menambah nilai ekonomi, maggotnya kami tampung untuk dijual,” ujarnya.
Dalam satu kali panen, produksi maggot disebut bisa mencapai 5 hingga 7 kilogram, tergantung jenis dan jumlah pakan yang digunakan.
Hasil panen tersebut kemudian disalurkan ke mitra peternak ikan dan ayam, serta dimanfaatkan langsung oleh warga sekitar sebagai pakan.
“Kami ada mitra budidaya ikan dan ayam, jadi kami salurkan ke sana. Ada juga warga sekitar yang langsung memakai untuk pakan lele, jadi mereka tidak perlu beli pelet lagi,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PSIM Jogja resmi melepas Anton Fase jelang Super League 2026/2027. Cedera jadi faktor utama minimnya kontribusi pemain asal Belanda itu.
PT Astra Honda Motor (AHM) kembali menghangatkan dunia modifikasi Indonesia melalui gelaran modifikasi sepeda motor terbesar yakni Honda Modif Contest (HMC)
Cek jadwal KRL Jogja–Solo dari Tugu ke Palur. Simak jam keberangkatan lengkap dan imbauan penumpang.
Jadwal lengkap KRL Solo–Jogja dari Palur hingga Tugu. Simak jam keberangkatan terbaru dan imbauan KAI.
Di tengah impitan tekanan fiskal dan ketidakpastian geopolitik dunia, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berkomitmen penuh untuk memastikan setiap rupiah
Francesco Bagnaia membidik podium di MotoGP Jerman 2026 meski mengakui Sachsenring bukan sirkuit favoritnya. Hasil positif dibutuhkan untuk memperbaiki posisi k