Advertisement
Dari Gang Sempit, Si Komat Ubah Sampah Jadi Cuan
Penyerahan unit Si Komat di Giwangan, Umbulharjo, beberapa waktu lalu. Ist - Dok. Maggot Ndalem Sawo
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA— Inovasi pengolahan sampah berbasis maggot kini berkembang pesat di Kota Jogja. Program bernama Si Komat (Inovasi Kotak Maggot) yang lahir dari kawasan di Kelurahan Cokrodiningratan, Kemantren Jetis, mampu mengubah sampah organik rumah tangga menjadi bernilai ekonomi.
Dikembangkan oleh komunitas Maggot Ndalem Sawo, sistem ini memungkinkan warga mengolah sampah langsung dari rumah dengan cara yang lebih sederhana. Hingga kini, ratusan unit telah digunakan di berbagai titik, mulai dari permukiman hingga sektor usaha.
Advertisement
“Inovasi kita Si Komat, singkatan dari Inovasi Kotak Maggot. Tujuannya agar masyarakat Jogja bisa mengolah sampah organik langsung di rumah tangga masing-masing menggunakan maggot,” ujar pengelola Maggot Ndalem Sawo, Satrio Herlambang, Senin (6/4/2026).
Ia menyebut sekitar 500 unit Si Komat kini telah tersebar dan dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat. Penggunaannya tidak hanya di lingkungan rumah tangga, tetapi juga di UMKM, asrama, hingga rumah makan.
BACA JUGA
“Di berbagai kelurahan ada, di UMKM ada, di asrama, dan rumah makan juga bisa. Komunitas juga ada. Total mungkin sudah sekitar 500 Sikomat yang tersebar,” katanya.
Satrio mengungkapkan, inovasi ini lahir dari tantangan teknis dalam pengelolaan maggot yang selama ini dinilai rumit. Tidak semua warga mampu mengelola maggot secara konsisten karena kendala bau hingga kekhawatiran terhadap serangga tersebut.
Melalui pengembangan bertahap, komunitas kemudian merancang sistem yang lebih ramah bagi rumah tangga. Si Komat kini diklaim mampu mengatasi persoalan bau sekaligus membuat pengelolaan lebih aman dan praktis.
“Awalnya banyak tantangan, seperti maggot yang naik dan masalah bau. Jadi inovasi kami bertahap. Sampai sekarang Si Komat sudah bisa mengatasi masalah bau, aman di rumah tangga, dan ibu-ibu yang takut maggot bisa tetap mengolah sampah tanpa harus melihat maggotnya,” jelasnya.
Selain membantu mengurangi sampah, program ini juga membuka peluang ekonomi bagi warga. Maggot hasil pengolahan bisa dijual atau dimanfaatkan sebagai pakan ternak alternatif.
“Bermacam-macam, tergantung anggotanya. Ada yang ingin sampahnya selesai, maggotnya kami ganti secara sirkular dari prepupa jadi bibit lagi. Ada juga yang untuk menambah nilai ekonomi, maggotnya kami tampung untuk dijual,” ujarnya.
Dalam satu kali panen, produksi maggot disebut bisa mencapai 5 hingga 7 kilogram, tergantung jenis dan jumlah pakan yang digunakan.
Hasil panen tersebut kemudian disalurkan ke mitra peternak ikan dan ayam, serta dimanfaatkan langsung oleh warga sekitar sebagai pakan.
“Kami ada mitra budidaya ikan dan ayam, jadi kami salurkan ke sana. Ada juga warga sekitar yang langsung memakai untuk pakan lele, jadi mereka tidak perlu beli pelet lagi,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Aliran Uang Korupsi K3 Kemenaker Terkuak di Sidang, Capai Ratusan Juta
Advertisement
Mekar Hanya Beberapa Hari, Bunga Bangkai di Palupuh Diserbu Turis
Advertisement
Berita Populer
- Pemkab Bantul Terapkan WFH bagi ASN Mulai Pekan Ini
- Digugat ke PTUN, Pemkab Bantul Sebut Pemecatan Dukuh Seloharjo Sah
- Sultan HB X Tekankan Pentingnya Mawas Diri dalam Pengambilan Keputusan
- WFH ASN Bantul Dibatasi, Tidak Semua OPD Bisa Terapkan
- Empat Nama Berebut Kursi Ketua PKB Kulonprogo lewat UKK
Advertisement
Advertisement







