Advertisement

Minat Generasi Muda Rendah, Produksi Batik di Bantul Tersendat

Kiki Luqman
Selasa, 21 April 2026 - 17:37 WIB
Abdul Hamied Razak
Minat Generasi Muda Rendah, Produksi Batik di Bantul Tersendat Pembatik - Ilustrasi - JIBI

Advertisement

Harianjogja.com, BANTUL — Industri batik di wilayah Bantul, khususnya di Dusun Gunting, menghadapi tantangan serius terkait regenerasi perajin. Minimnya minat generasi muda untuk menekuni seni membatik membuat keberlangsungan tradisi ini mulai terhambat.

Hal tersebut disampaikan oleh Tumilan, pemilik Batik Nayantaka yang juga menjabat sebagai Dukuh Gunting. Ia mengungkapkan bahwa saat ini mayoritas perajin batik di wilayahnya didominasi kalangan usia lanjut.

Advertisement

“Masalah regenerasi ini yang sekarang rodanya tersendat, tersendat sekali. Untuk generasi batik, banyak yang sepuh-sepuh saat ini. 90 persen ya sudah berusia, yang remaja-remaja sudah tidak ada sama sekali,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).

Menurutnya, keterampilan membatik sebenarnya tidak sulit dipelajari selama ada kemauan dan ketekunan. Namun, kurangnya ketertarikan generasi muda menjadi kendala utama dalam menjaga kesinambungan tradisi tersebut.

“Ya kita senang dulu, terus berlatih. Membatik itu bisa dipelajari, yang penting telaten,” tambahnya.

Sebagai upaya mengatasi persoalan tersebut, pihaknya mulai mengembangkan pendekatan edukatif melalui program kunjungan belajar atau field trip. Kegiatan ini menyasar pelajar, khususnya siswa sekolah dasar, agar lebih mengenal batik sejak usia dini.

“Sekarang kita buat area untuk field trip, kegiatan edukasi anak-anak biar senang. Mayoritas anak SD yang datang untuk belajar batik,” jelas Tumilan.

Dari sisi produksi, usaha batik di Dusun Gunting masih tergolong stabil. Di Batik Nayantaka, produksi batik tulis mampu mencapai sekitar 300 lembar per bulan. Selain itu, produk kombinasi batik cap dan tulis juga turut menopang jumlah produksi.

Harga produk yang ditawarkan pun bervariasi, mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah, tergantung pada bahan, tingkat kerumitan motif, serta proses pengerjaan.

“Wah harga variatif, dari 100 ribuan sampai jutaan ada. Tergantung bahan, tingkat kesulitan motif, sama prosesnya,” ujarnya.

Meski dihadapkan pada persaingan dengan batik printing, Tumilan tetap optimistis. Ia menilai batik tulis memiliki pasar tersendiri yang tidak tergantikan.

“Batik printing sama batik tulis itu segmennya beda. Batik tulis punya pasar khusus, jadi masih ada peluang,” katanya.

Saat ini, usaha batik di Dusun Gunting mampu melibatkan sekitar 40 hingga 60 warga dalam proses produksi, mulai dari tahap pembuatan hingga finishing. Selain menjadi sumber penghasilan, industri ini juga berperan dalam pemberdayaan masyarakat setempat.

Namun demikian, Tumilan menegaskan bahwa keberlanjutan industri batik tidak hanya bergantung pada produksi, tetapi juga pada ketersediaan sumber daya manusia di masa depan.

“Ini kan usaha, tapi nilai plusnya kita bisa memberdayakan warga. Harapannya ke depan ada generasi muda yang mau melanjutkan,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terkait

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

ESDM: Penggunaan Campuran Biodiesel B50 Berlaku 1 Juli 2026

ESDM: Penggunaan Campuran Biodiesel B50 Berlaku 1 Juli 2026

News
| Selasa, 21 April 2026, 20:37 WIB

Advertisement

Paspor Indonesia Bebas Visa ke 42 Negara, Cek Destinasinya!

Paspor Indonesia Bebas Visa ke 42 Negara, Cek Destinasinya!

Wisata
| Senin, 20 April 2026, 14:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement