Advertisement
Matematika Dianggap Sulit, Dosen UGM Sebut Metode Hafalan Penyebabnya
Anak belajar Matematika. - Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN—Rendahnya minat dan kemampuan matematika siswa di Indonesia dinilai tidak lepas dari metode pembelajaran yang masih berorientasi hafalan. Pendekatan ini disebut membuat siswa sulit memahami konsep dan berpikir kritis.
Data Programme for International Student Assessment 2022 menunjukkan kemampuan numerasi siswa Indonesia masih tertinggal. Skor yang dicapai hanya sekitar 366, jauh di bawah rata-rata Organisation for Economic Co-operation and Development yang mencapai 472. Bahkan, hanya sekitar 18 persen siswa yang mampu mencapai kompetensi minimum level 2.
Advertisement
Guru Besar Departemen Matematika FMIPA Universitas Gadjah Mada, Indah Emilia Wijayanti, menilai kondisi ini berkaitan erat dengan metode pembelajaran yang masih menitikberatkan pada hafalan. Akibatnya, siswa cenderung tidak memahami konsep secara mendalam dan kurang terlatih dalam berpikir kritis.
Menurutnya, peran guru menjadi faktor kunci dalam membangun minat siswa terhadap matematika. Guru tidak hanya dituntut menguasai materi, tetapi juga mampu menghidupkan suasana belajar melalui komunikasi yang efektif.
BACA JUGA
Ia menyebut pendekatan klasik ala Aristotle—yakni ethos, pathos, dan logos—dapat diterapkan dalam pembelajaran. “Jika guru menjaga kredibilitas, membangun ikatan emosional, dan menyampaikan materi secara logis, maka proses belajar akan lebih menarik,” ujarnya, Senin (20/4/2026).
Lebih jauh, kemampuan berpikir logis dan kritis dinilai sangat penting karena berdampak pada kualitas pengambilan keputusan di masa depan. Tanpa fondasi tersebut, siswa akan kesulitan menghadapi persoalan kompleks di bidang sosial, ekonomi, hingga kebijakan publik.
Selain sekolah, faktor keluarga juga memiliki peran besar. Masa usia dini atau golden age (0–5 tahun) menjadi fase penting untuk menstimulasi kemampuan berpikir logis anak. Pola asuh yang memberi ruang eksplorasi, menghargai pendapat, dan mendorong anak bertanya diyakini mampu memperkuat dasar kemampuan numerasi.
Indah menekankan bahwa sinergi antara keluarga, sekolah, dan lingkungan sangat diperlukan agar potensi anak dapat berkembang optimal sejak dini hingga dewasa.
Untuk meningkatkan minat belajar matematika, ia mengusulkan sejumlah langkah strategis. Mulai dari seleksi ketat calon guru, peningkatan kesejahteraan tenaga pengajar, hingga pemberian kebebasan bagi guru untuk mengelola kelas secara kreatif.
Selain itu, kurikulum juga perlu disusun secara realistis dan sesuai perkembangan siswa agar proses belajar menjadi lebih relevan dan efektif.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Paspor Indonesia Bebas Visa ke 42 Negara, Cek Destinasinya!
Advertisement
Berita Populer
- Geng Remaja di Bantul Diduga Culik dan Siksa Korban hingga Tewas
- Remaja Tenggelam di Parangtritis Ditemukan Meninggal Dunia
- Ribuan Ikan Mati di Sungai Belik Pandes, Tercemar Limbah IPAL
- Disiapkan 12 Hektare, Proyek Kantor Terpadu Pemkab Gunungkidul Lanjut
- Embarkasi Hotel Kulonprogo Siap Dipakai Perdana Besok
Advertisement
Advertisement







