WFH Tak Harus 50 Persen, Pemda DIY Sesuaikan Kebutuhan OPD
WFH ASN Pemda DIY memasuki pekan kedua. Skema fleksibel disesuaikan kebutuhan OPD, disertai kebijakan car free day tiap Jumat.
Anak belajar Matematika./Freepik
Harianjogja.com, SLEMAN—Rendahnya minat dan kemampuan matematika siswa di Indonesia dinilai tidak lepas dari metode pembelajaran yang masih berorientasi hafalan. Pendekatan ini disebut membuat siswa sulit memahami konsep dan berpikir kritis.
Data Programme for International Student Assessment 2022 menunjukkan kemampuan numerasi siswa Indonesia masih tertinggal. Skor yang dicapai hanya sekitar 366, jauh di bawah rata-rata Organisation for Economic Co-operation and Development yang mencapai 472. Bahkan, hanya sekitar 18 persen siswa yang mampu mencapai kompetensi minimum level 2.
Guru Besar Departemen Matematika FMIPA Universitas Gadjah Mada, Indah Emilia Wijayanti, menilai kondisi ini berkaitan erat dengan metode pembelajaran yang masih menitikberatkan pada hafalan. Akibatnya, siswa cenderung tidak memahami konsep secara mendalam dan kurang terlatih dalam berpikir kritis.
Menurutnya, peran guru menjadi faktor kunci dalam membangun minat siswa terhadap matematika. Guru tidak hanya dituntut menguasai materi, tetapi juga mampu menghidupkan suasana belajar melalui komunikasi yang efektif.
Ia menyebut pendekatan klasik ala Aristotle—yakni ethos, pathos, dan logos—dapat diterapkan dalam pembelajaran. “Jika guru menjaga kredibilitas, membangun ikatan emosional, dan menyampaikan materi secara logis, maka proses belajar akan lebih menarik,” ujarnya, Senin (20/4/2026).
Lebih jauh, kemampuan berpikir logis dan kritis dinilai sangat penting karena berdampak pada kualitas pengambilan keputusan di masa depan. Tanpa fondasi tersebut, siswa akan kesulitan menghadapi persoalan kompleks di bidang sosial, ekonomi, hingga kebijakan publik.
Selain sekolah, faktor keluarga juga memiliki peran besar. Masa usia dini atau golden age (0–5 tahun) menjadi fase penting untuk menstimulasi kemampuan berpikir logis anak. Pola asuh yang memberi ruang eksplorasi, menghargai pendapat, dan mendorong anak bertanya diyakini mampu memperkuat dasar kemampuan numerasi.
Indah menekankan bahwa sinergi antara keluarga, sekolah, dan lingkungan sangat diperlukan agar potensi anak dapat berkembang optimal sejak dini hingga dewasa.
Untuk meningkatkan minat belajar matematika, ia mengusulkan sejumlah langkah strategis. Mulai dari seleksi ketat calon guru, peningkatan kesejahteraan tenaga pengajar, hingga pemberian kebebasan bagi guru untuk mengelola kelas secara kreatif.
Selain itu, kurikulum juga perlu disusun secara realistis dan sesuai perkembangan siswa agar proses belajar menjadi lebih relevan dan efektif.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
WFH ASN Pemda DIY memasuki pekan kedua. Skema fleksibel disesuaikan kebutuhan OPD, disertai kebijakan car free day tiap Jumat.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menepis isu pengunduran diri dan menegaskan tetap menjalankan tugas sesuai arahan Presiden Prabowo.
BPS Kota Jogja memantau potensi inflasi Juni 2026 jelang tahun ajaran baru, terutama dari biaya sekolah dan perlengkapan pendidikan.
Psikolog jelaskan sindrom pasca haji yang membuat jamaah merasa rindu dan sulit beradaptasi setelah pulang dari Tanah Suci.
Pemerintah RI memproyeksikan tarif AS ke produk Indonesia bisa mencapai 18% usai investigasi Section 301 Trade Act. Ini penjelasannya.
Dalam rangka memperingati hari jadinya yang ke-11 pada 6 Juni 2026, Burz@ Hotel Yogyakarta menyelenggarakan serangkaian kegiatan Corporate Social Responsibility