Advertisement
Dua Bundaran di GT Purwomartani Disiapkan, Antisipasi Macet Jogja-Solo
Direktur Utama PT Jasamarga Jogja-Solo (JMJ), Rudy Hardiansyah menunjukkan desain akses Bokoharjo dan bundaran di Jalan Jogja-Solo pada Sabtu (25/4/2026) di Tol Jogja-Solo. - Harian Jogja // Catur Dwi Janati
Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN—Upaya mengurai potensi kemacetan di jalur nasional Jogja-Solo mulai dimatangkan seiring hampir rampungnya pembangunan Tol Jogja-Solo Segmen Prambanan–Purwomartani. PT Jasamarga Jogja-Solo (JMJ) menyiapkan rekayasa lalu lintas berupa pembangunan dua bundaran di sekitar Gerbang Tol (GT) Purwomartani guna mencegah persilangan kendaraan yang berisiko menimbulkan kepadatan.
Direktur Utama PT Jasamarga Jogja-Solo (JMJ), Rudy Hardiansyah, mengungkapkan progres konstruksi ruas tol tersebut telah mencapai 94% dan ditargetkan selesai secara fisik pada Juni 2026. Namun, pekerjaan tidak berhenti pada badan jalan tol, karena pengembang juga harus menyiapkan infrastruktur pendukung di jalan arteri untuk mendukung manajemen lalu lintas.
Advertisement
“Insyaallah Juni selesai, tapi di luar konstruksi di segmen jalan tolnya sendiri, kami masih harus melaksanakan pembangunan bundaran di arteri Solo-Jogja untuk manajemen traffic-nya,” terang Rudy, Sabtu (25/4/2026).
Pembangunan bundaran ini menjadi solusi utama untuk menghindari titik crossing kendaraan di kawasan pertemuan jalan tol dan jalan nasional Jogja-Solo. Nantinya, kendaraan yang keluar dari GT Purwomartani tidak bisa langsung bersilangan dengan arus utama, melainkan harus dialihkan terlebih dahulu ke arah timur.
BACA JUGA
“Jadi karena nanti begitu keluar dari Purwomartani ini, supaya tidak langsung crossing dengan lalu lintas Jogja-Solo yang ada, itu nanti akan dialihkan dulu. Yang mau ke Jogja itu ke kiri dulu ke arah Solo, di situ ada bundaran, baru putar baliknya di bundaran,” tandasnya.
Dua bundaran akan dibangun masing-masing di sisi timur dan barat GT Purwomartani, dengan jarak sekitar 600 meter dari titik pertemuan gerbang tol dengan jalan arteri. Skema ini berlaku dua arah, baik kendaraan dari Jogja maupun dari Solo atau Klaten.
Rudy menjelaskan, kendaraan dari arah timur yang hendak masuk tol juga tidak bisa langsung berbelok ke gerbang tol, tetapi harus melaju terlebih dahulu ke arah barat dan memutar di bundaran.
“Iya, jadi nanti kalau yang mau ke Jogja itu tidak langsung belok ke sini, tapi putar di sini [bundaran] baru ke sini. Begitu juga sebaliknya, yang dari Solo atau Klaten masuk ke tol, ya juga putar di sini [bundaran],” ujarnya.
Meski demikian, pembangunan bundaran tersebut saat ini masih terkendala proses pembebasan lahan yang belum sepenuhnya rampung. Rudy mengakui ada potensi keterlambatan, namun pihaknya tetap optimistis seluruh proses bisa diselesaikan dalam tahun ini.
“Bundaran itu yang masih dalam tahap pembebasan tanah. Nah, ini yang kelihatannya agak mundur. Tapi berdasarkan koordinasi kami dengan Tim Pengadaan Tanah, masih diyakini bahwa tahun ini masih bisa diselesaikan,” ungkapnya.
Akses Baru ke Bokoharjo Disiapkan
Selain bundaran, JMJ juga menyiapkan alternatif rekayasa lalu lintas melalui pembangunan akses jalan menuju Bokoharjo sebagai solusi tambahan untuk mengurangi beban kendaraan di sekitar GT Purwomartani.
Jalan tersebut dirancang melintas di atas Jalan Jogja-Solo dan mengarah ke selatan menuju wilayah Bokoharjo. Akses ini dinilai penting karena GT Purwomartani akan menjadi titik keluar utama saat ruas tol baru dioperasikan.
“Pada saat jalan tol Jogja-Solo dioperasikan, mungkin sampai Purwomartani, maka Purwomartani ini akan menjadi titik terjauh dari ruas yang beroperasi. Otomatis semua traffic yang menuju Jogja akan keluar di situ,” ujarnya.
Kondisi ini membuat fungsi GT Purwomartani berubah dari sekadar gerbang keluar menjadi pusat distribusi arus kendaraan, terutama saat momen puncak seperti Natal dan Tahun Baru maupun Lebaran. Oleh karena itu, pembangunan akses tambahan menjadi krusial untuk mengurai kepadatan.
“Khususnya pada momen-momen Nataru dan Lebaran itu [lalu lintas] bisa tertangani, sehingga kami mengusulkan untuk melanjutkan jalan akses itu nyebrang jalan tol nyambung ke jalan yang di Bokoharjo itu,” terangnya.
Rudy menambahkan, akses menuju Bokoharjo sebenarnya masuk dalam rencana jangka panjang. Namun, mempertimbangkan progres pembangunan tol yang sudah hampir selesai serta masukan dari Pemerintah Daerah DIY, proyek tersebut didorong untuk dipercepat.
Dari jalur ini, kendaraan nantinya dapat terdistribusi ke arah Gunungkidul, sehingga tidak seluruh arus terpusat di Jalan Jogja-Solo.
Direktur Utama PT Jasamarga Jogja-Solo (JMJ), Rudy Hardiansyah menunjukkan desain akses Bokoharjo dan bundaran di Jalan Jogja-Solo pada Sabtu (25/4/2026) di Tol Jogja-Solo. /Harian Jogja-Catur Dwi Janati.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Talud Sungai Jogja Rapuh, Rp4 Miliar Disiapkan untuk 5 Titik Prioritas
- Jadwal KRL Jogja-Solo Senin 27 April 2026, Tarif Rp8.000
- Gunungkidul Bangun 16 Jembatan Garuda Inisiasi Presiden Prabowo
- Pemkot Jogja Segera Cari Daycare Aman Pengganti Little Aresha
- Kronologi Terbongkarnya Kekerasan Anak di Daycare Little Aresha Jogja
Advertisement
Advertisement









