Keracunan MBG di Jetis, Dinkes Bantul Temukan Bakteri Bacillus sp dalam Galantin
Dinkes Bantul menemukan bakteri Bacillus sp pada menu bistik galantin dalam kasus keracunan MBG di Jetis yang menimpa 53 orang.
Aksi sejumlah elemen masyarakat dan petugas gabungan saat menangkap ikan predator dan invasif di Kalibayem, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Kamis (7/5/2026). Sebanyak 131 kg ikan sapu-sapu berhasil ditangkap di area itu untuk melestarikan habitat ikan lokal. Dokumentasi Istimewa
Harianjogja.com, BANTUL—Ratusan kilogram ikan sapu-sapu berhasil ditangkap dalam aksi pengendalian spesies invasif di Rawa Kalibayem, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Kamis (7/5/2026). Langkah ini dilakukan untuk menekan populasi ikan predator yang dinilai mengancam kelestarian ikan lokal di perairan DIY, khususnya Kabupaten Bantul.
Aksi pembasmian ikan sapu-sapu tersebut melibatkan unsur pemerintah, masyarakat, aparat keamanan, hingga kalangan perguruan tinggi. Petugas terlihat menggunakan jaring dan perahu karet untuk menangkap ikan invasif yang selama ini berkembang pesat di kawasan rawa.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan DIY, R. Hery Sulistio Hermawan, mengatakan kegiatan tersebut menjadi langkah awal pengendalian ikan sapu-sapu yang diharapkan dapat diperluas ke sejumlah titik perairan lainnya di DIY.
Menurut Hery, kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk memastikan keberadaan ikan invasif tidak semakin merusak keseimbangan ekosistem perairan dan mengancam populasi ikan lokal.
“Kolaborasi ini untuk melihat apakah ikan sapu-sapu yang hidup di perairan Kalibayem ini masih bisa layak dikonsumsi atau tidak dan nantinya akan diteliti,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, total ikan sapu-sapu yang berhasil ditangkap mencapai 131 kilogram. Hery menilai jumlah tersebut sudah cukup membantu menekan populasi meskipun pengendalian masih berada pada tahap awal.
“Ada sebanyak 131 kg yang ditangkap. Ini sudah bisa menurunkan populasi yang ada, meskipun baru tahap awal. Kapal dari Lanal dan Polairud juga masih ditinggal. Rencana akan dilanjutkan oleh masyarakat dalam beberapa hari ke depan,” sambungnya.
Sebagian sampel ikan sapu-sapu yang ditangkap akan diteliti oleh Fakultas Biologi UGM untuk mengetahui kandungan nutrisi dan tingkat keamanannya apabila dimanfaatkan sebagai bahan konsumsi maupun kebutuhan lain. Sementara ikan hasil tangkapan lainnya langsung dikubur oleh petugas di lokasi kegiatan.
Hery menjelaskan hasil penelitian nantinya akan menentukan kemungkinan pemanfaatan ikan sapu-sapu sebagai bahan pakan ternak atau tepung ikan untuk kebutuhan budidaya perikanan.
“Untuk pengujian mungkin ikan itu nanti bisa digunakan sebagai pakan atau tepung ikan yang mungkin bisa disiapkan untuk kegiatan budidaya ikan kita, dibuat pakan pelet, kemudian bisa dimanfaatkan,” jelasnya.
Namun, apabila hasil penelitian menunjukkan adanya kandungan berbahaya, masyarakat diimbau tidak mengolah ikan sapu-sapu menjadi bahan pangan karena dikhawatirkan dapat menimbulkan risiko kesehatan.
“Karena mungkin terdapat kandungan zat tertentu yang berbahaya bagi tubuh, sehingga harus dihindari,” ujarnya.
Hery menilai keberadaan ikan sapu-sapu yang tidak terkendali dapat menyebabkan populasi ikan lokal terus menyusut. Oleh sebab itu, dibutuhkan gerakan berkelanjutan antara pemerintah dan masyarakat untuk menjaga keseimbangan ekosistem perairan di Bantul maupun wilayah DIY lainnya.
“Pekerjaan rumah kita ke depan adalah bagaimana mengurangi populasi ikan invasif yang ada di perairan Kalibayem ini serta menjaga dan mengawal ikan-ikan lokal agar tetap bisa lestari,” ungkapnya.
Sementara itu, Pengawas Perikanan Ahli Muda DKP Bantul, Irawan Waluyo Jati, menyebut penyebaran ikan sapu-sapu di sejumlah perairan darat Bantul saat ini semakin mengkhawatirkan. Spesies tersebut dikenal memiliki daya tahan tinggi dan berkembang biak dengan cepat sehingga sulit dikendalikan.
“Ikan sapu-sapu ini termasuk spesies invasif yang mengganggu keseimbangan ekosistem. Populasinya sangat cepat meningkat dan membuat ikan lokal semakin terdesak,” katanya.
Ia menambahkan, kegiatan pembasmian ikan sapu-sapu yang melibatkan DKP DIY, masyarakat, aparat keamanan, dan perguruan tinggi menjadi langkah awal yang dinilai efektif untuk menekan populasi ikan predator tersebut. Kegiatan serupa juga direncanakan dilakukan secara berkala di sejumlah titik perairan lain di Kabupaten Bantul.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dinkes Bantul menemukan bakteri Bacillus sp pada menu bistik galantin dalam kasus keracunan MBG di Jetis yang menimpa 53 orang.
Houthi mengklaim melancarkan serangan ke Riyadh dan fasilitas Aramco di Yanbu. Arab Saudi menyatakan rudal balistik berhasil dicegat.
Serapan pupuk subsidi Bantul baru sekitar 70% hingga September 2026. Penebusan diperkirakan meningkat saat musim tanam akhir tahun.
Changan mulai menyerahkan Nevo Q05 kepada konsumen Indonesia. SUV listrik ini mencatat lebih dari 1.000 SPK dan dibanderol mulai Rp349 juta.
Cleberson menyebut dukungan suporter menjadi kekuatan PSS Sleman saat menghadapi Dewa United di Banten International Stadium.
Kemenkeu mengungkap perkembangan pengalihan saham PSBI dan pembayaran utang Whoosh yang kini memasuki tahap finalisasi.