Lurah Terpilih di Bantul Harus Rangkul Warga yang Berbeda Pilihan
Pilur Bantul di 30 kalurahan berjalan lancar. DPRD meminta lurah terpilih merangkul semua elemen dan menjaga kebersamaan warga.
Ilustrasi nelayan. – Foto dibuat oleh AI/Freepik
Harianjogja.com, BANTUL—Nelayan Pantai Depok, Bantul, menghadapi pilihan sulit dalam dua pekan terakhir. Gelombang pasang membuat aktivitas melaut lebih berisiko, sedangkan hasil tangkapan yang minim berpotensi membuat pendapatan tidak cukup untuk menutup biaya operasional.
Salah seorang nelayan Pantai Depok, Henri, mengatakan dirinya memilih mengurangi aktivitas melaut karena khawatir terhadap keselamatan, terutama ketika perahu kembali menuju pantai.
“Terlalu berisiko, lebih baik milih jarang melaut,” ujar Henri, Senin (12/10/2026).
Menurut dia, gelombang yang menghantam perahu saat mendekati daratan dapat menyebabkan kecelakaan laut. Jika perahu terbalik atau karam, nelayan berisiko kehilangan hasil tangkapan sekaligus mengalami kerusakan atau kehilangan perahu, mesin, dan alat tangkap.
Karena itu, Henri memilih lebih berhati-hati daripada memaksakan diri melaut dalam kondisi yang dinilai membahayakan.
“Ya kami cari amannya saja, jangan sampai terjadi laka laut dan hasil tangkapan ikan serta alat tangkap dan mesin hilang ketika perahu karam dihantam gelombang pasang,” katanya.
Nelayan Pantai Depok lainnya, Mistok, mengatakan sebagian nelayan masih berusaha melaut meski gelombang sedang pasang. Mereka mengandalkan mesin dengan tenaga lebih besar untuk mendukung perjalanan di laut.
Menurut Mistok, mesin berkekuatan 15 PK dinilai cukup ketika kondisi gelombang relatif baik. Namun, saat gelombang pasang, nelayan setidaknya membutuhkan mesin berkekuatan 30 PK.
Meski demikian, mesin yang lebih bertenaga tidak menjamin nelayan memperoleh hasil tangkapan yang sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Dalam kondisi tertentu, ikan yang didapat justru tidak cukup untuk menutup ongkos melaut.
Situasi itu membuat nelayan harus memperhitungkan dua risiko sekaligus, yakni keselamatan di tengah gelombang dan kemungkinan merugi setelah kembali ke daratan.
“Jadi serba salah, kalau melaut gelombang pasang, melaut malah tombok,” ujar Mistok.
Bagi nelayan, mengurangi aktivitas melaut menjadi salah satu pilihan untuk menekan risiko kecelakaan dan kerugian. Namun, keputusan tersebut juga berarti kesempatan memperoleh penghasilan dari hasil tangkapan menjadi lebih terbatas.
Sebelumnya, BMKG telah mengingatkan nelayan dan masyarakat yang menggunakan transportasi laut agar mewaspadai gelombang tinggi.
Gelombang dengan ketinggian 2,5–4 meter berpotensi terjadi di Samudra Hindia barat Lampung, perairan selatan Banten, perairan selatan Jawa Barat, hingga Nusa Tenggara Barat (NTB).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pilur Bantul di 30 kalurahan berjalan lancar. DPRD meminta lurah terpilih merangkul semua elemen dan menjaga kebersamaan warga.
Coventry City menang 4-1 atas Newcastle United di Liga Inggris 2026/2027. Hasil ini membawa tim Frank Lampard keluar dari zona degradasi.
DPRD Bantul dan Satpol PP mengedukasi pelajar SMPN 3 Pajangan tentang bahaya miras dan narkoba serta mendorong siswa berani melaporkan peredarannya.
Makeup saat olahraga tetap bisa digunakan, tetapi pemilihan foundation, sunscreen, dan produk sesuai jenis kulit penting untuk mengurangi risiko masalah kulit.
Pemerintah belum menetapkan karhutla sebagai bencana nasional. Menko Polkam Dudung Abdurachman menyebut penanganan masih mampu dilakukan.
Timnas Indonesia U15 masuk Grup G Piala Dunia dan Festival U15 FIFA 2026 di Azerbaijan pada 22–30 Oktober bersama lima negara lainnya.