NYIA Akan Membuat DIY Semakin Istimewa

Foto ilustrasi bandara. - Bisnis Indonesia/Felix Jody Kinarwan
05 April 2018 05:17 WIB I Ketut Sawitra Mustika Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Bumi Mataram adalah daerah istimewa, tapi dengan dibangunnya New Yogyakarta International Airport (NYIA), kadar keistimewaan DIY dinilai akan semakin bertambah.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Utama PT Angkasa Pura 1 Faik Fahmi usai bertemu dengan Gubernur DIY Sri Sultan HB X di Kompleks Kepatihan, Rabu (4/4/2018). Turut hadir dalam pertemuan tersebut Sekretaris Daerah (Sekda) DIY Gatot Saptadi dan Pimpinan Proyek NYIA PT Angkasa Pura I Sujiastono.

NYIA, ucap Fahmi, akan menjadikan Kulonprogo sebagai ikon baru DIY, sebab nantinya desain bandara akan penuh dengan kearifan lokal. “Jadi akan menjadi semacam DIY kecil. Itu akan direfleksikan pada desain interior.”

Fahmi menambahkan, NYIA akan semakin membuat DIY jadi lebih istimewa berkat dampak ekonomi yang ditimbulkan. Dengan adanya bandara baru, pesawat-pesawat bermuatan besar yang membawa banyak turis bisa langsung mendarat di DIY. Tak seperti selama ini, pelancong asing yang ingin pelesir ke DIY mesti lewat Bali atau Jakarta.

“Sehingga dari sisi volume dampaknya siginifikan. Sekarang sedang negosiasi dengan beberapa airlines asing dan nasional yang tertarik. Jadi kalau selama ini jumlah turis [asing] yang datang ratusan, nanti bisa ribuan. Dari situ bisa dibayangkan dampak secara ekonominya seperti apa,” ujarnya.

NYIA, imbuhnya, juga akan membuat kegiatan ekspor jadi lebih menguntungkan. Menurutnya, selama ini DIY dan wilayah sekitarnya kesulitan mengekspor langsung komoditas karena penerbangannya mesti transit ke Bali atau Jakarta dulu sebelum diangkut ke luar negeri. Akibatnya, biaya yang dikeluarkan jadi lebih besar.

Pembangunan
Fahmi menargetkan pengerjaan fisik NYIA dilakukan pada Juni 2018. Konstruksi dibagi ke dalam dua kategori, yakni air side (runway) dan land side (terminal). Air side kemungkinan besar akan selesai pada Januari 2019. “Tapi air side dan land side dibangun secara bersamaan.”

Terkait masih adanya warga yang menolak, ia mengatakan tak seharusnya itu terjadi, sebab NYIA dibangun untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. PT. Angkasa Pura I berkomitmen menyelesaikan permasalahan ini dengan proses yang baik dan benar. Hingga kini, di lahan NYIA masih ada 37 rumah yang menolak pindah.

PT. Angkasa Pura I, sambunganya, telah membangun Help Desk guna menghindari problem komunikasi yang mungkin muncul dan untuk memberikan bantuan kepada masyarakat. Bagi warga terdampak yang bingung hendak memanfaatkan uangnya untuk apa, Help Desk terbuka untuk konsultasi dan pelatihan.

Gatot Saptadi mengatakan, meskipun saat ini ada warga yang enggan pindah dari lokasi proyek, proses konstruksi NYIA akan jalan terus. Tapi, saat pembangunan sudah mencapai lahan yang masih didiami itu, warga wajib keluar.

“Tetap untuk prosedur pengosongan jalan terus. Pak Bupati [Hasto Wardoyo] sudah koordinasi terus dengan Forkopimda.”