Penerapan Kurikulum 2013 Lemah di Proses

Kepala Disdikpora DIY Kadarmanta Baskara Aji. - Harian Jogja/Desi Suryanto
13 April 2018 23:37 WIB Sunartono Jogja Share :
Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia

Harianjogja.com, JOGJA-Penerapan kurikulum 2013 (K-13) di DIY masih lemah pada standar proses. Evaluasi itu merupakan hasil kajian antara Disdikpora DIY bersama Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP). Disdikpora DIY akan menggenjot guru untuk diberikan pelatihan dalam menguatkan K-13 pada standar proses.

Kepala Disdikpora DIY Kadarmanta Baskara Aji menjelaskan, pihaknya sudah melakukan kajian bersama LPMP terkait implementasi K13. Hasil evaluasi memang diperlukan penyegaran kepada guru untuk dapat melaksanakan K13 secara konsisten. Dari hasil kajian itu, item yang paling utama harus disegarkan yaitu di standar proses karena masih lemah, baik di jenjang SD, SMP maupun SMA/SMK. Kurikulum 2013 sendiri memiliki empat standar yaitu standar isi, penilaian, kelulusan dan standar proses.

"Di standar proses ini yang kami inginkan di sekolah bisa dilakukan konsistensi terhadap K13 sehingga pembelajaran menjadi menyenangkan dan bisa mendorong anak memiliki karakter yang baik," terangnya, Jumat (13/4/2018).

Ia mengatakan, sudah mengundang sekolah terkait evaluasi tersebut. Pihaknya meminta kepada fasilitator penerapan K13 agar sekolah mampu membangun standar proses dengan baik. Adapun fasilitatornya merupakan instruktur nasional.

DIY memiliki guru berkualifikasi instruktur nasional ada tujuh orang, instruktur provinsi ada 21 orang dan instruktur kabupaten ada sekitar 20 orang. Keberadaan instruktur ini sangat penting dalam rangka menerapkan K13. "Karena masih ada guru yang perlu dikembangkan kreatifitas mengajarnya," ungkap dia.

Baskara Aji menegaskan, standar proses akan terus dibenahi, terutama menanamkan proses pembelajaran yang tidak serta merta guru mengajar kemudian murid mendengarkan. Tetapi bisa dimodifikasi sedemikian rupa agar menyenangkan bagi siswa, mulai dari rotasi tempat duduk, hingga proses pembelajaran yang tidak harus dilakukan di dalam kelas, seperti di museum, perpustakaan atau halaman sekolah.

"Proses pembelajaran suatu saat tidak harus pegang alat tulis, bisa diskusi. Contohnya banyak pembelajaran yang menarik," kata dia.

Baskara Aji mengakui, membenahi standar proses tidak mudah karena harus mengubah kebiasaan mengajar para guru. Salah satunya kebiasaan tidak diperbolehkannya siswa secara tiba-tiba menyela saat guru sedang menjelaskan. "Merubah mindset ini yang susah," imbuhnya.

Pelatihan pada tahap pertama telah dilakukan beberapa pekan lalu dalam rangka penyegaran standar proses. Pelatihan lanjutan akan dilakukan pada tahap berikutnya dengan melibatkan guru dari SD hingga SMA/SMK.

Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia