Tak Ada Erupsi, Mengapa Status Merapi Masih Waspada?

Gunung Merapi Waspada, Selasa (22/5/2018). - Harian Jogja/Desi Suryanto
13 Juni 2018 04:50 WIB I Ketut Sawitra Mustika Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Selama 11 hari terakhir, terhitung dari 1 Juni 2018, Gunung Merapi tak mengalami erupsi sama sekali. Meskipun begitu, status tetap waspada karena aktivitas kegempaan masih terdeteksi. Radius tiga kilometer masih tetap harus steril dari aktivitas manusia.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida mengatakan, dibandingkan dengan kondisi sebelum-sebelumnya, aktivitas Gunung Merapi saat ini tidak mengalami perubahan yang signifikan, baik dari kegempaan, geokimia dan deformasi atau perubahan bentuk badan gunung api akibat pergerakan magma.

Ia menyatakan, status Gunung Merapi tetap masih waspada atau level II. Meski tidak ada letusan selama 11 hari terakhir, tapi menurutnya aktivitas kegempaan masih cukup signifikan.

Dari data yang dirilis BPPTKG, sejak tanggal 1 hingga 7 Juni, terjadi lima gempa vulkano tektonik dalam (VTA), lima kali gempa vulkano tektonik dangkal, 18 kali gempa mutltiphase, 60 kali gempa guguran dan 16 kali gempa tektonik. Gempa VTA adalah gempa yang mengindikasikan adanya pergerakan magma. Semua gempa VTA terjadi pada tanggal 1 Juni, yang ketika itu terjadi tiga kali letusan dalam sehari.

Sementara pada 8 Juni ada gempa guguran sebanyak 10 kali, tiga kali gempa hembusan dan satu kali gempa tektonik jauh. Sehari setelahnya, ada 13 gempa guguran, satu gempa hembusan dan satu gempa tektonik jauh.

Kemudian pada 10 Juni terjadi satu kali gempa vulkanik dalam, sekali gempa guguran dan dua kali tektonik jauh. Adapun pada pengamatan tanggal 11, antara pukul 18.00-24.00 WIB ada satu kali gempa guguran.

Seperti diketahui, sejak tanggal 11 Mei 2018, Gunung Merapi beberapa mengalami erupsi freatik. Sempat terjadi rentetan erupsi dari tanggal 21-24 Mei. Sempat berhenti, kemudian pada tanggal 1 Juni kembali terjadi letusan. Erupsi-erupsi ini menyebabkan terjadinya hujan abu di sekitar Gunung Merapi.

"Untuk menurunkan status, kami menggunakan semua parameter monitoring, baik instrumentasi maupun visual, yang digunakan untuk mempertimbangkan status," tambah Hanik.