Mahasiswa UII Latih Pasien RS Grhasia Membuat Jamu

Sejumlah mahasiswa Farmasi UII yang tergabung dalam PKM-Masyarakat melakukan pengabdian masyarakat di RS Grhasia Pakem. - Ist/UII
16 Juli 2018 05:17 WIB Sunartono Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-Sejumlah mahasiswa Farmasi Universitas Islam Indonesia (UII) memberikan sosialisasi dan pelatihan sederhana cara membuat jamu tradisional bagi pasien di Rumah Sakit Grhasia pada akhir Juni 2018 lalu. Kegiatan tersebut mendapat sambutan positif dari para pasien dan pihak rumah sakit. Pelatihan itu termasuk salah satu implementasi yang dilakukan sekelompok mahasiswa ini melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Masyarakat Kemenristekdikti 2018.

Tim PKM-M ini diketuai Topan Juniardy beranggotakan, Satria Dwi Setiawan, Firda Shafira Nurfadila, Dinasari Bekti P dan Farhan Imam Ramadhan. Kegiatan tersebut mengangkat tema Pengolahan Tanaman Khas Indonesia Sebagai Jamu dan Bersedekah untuk Kesehatan, sebagai Pengembangan Diri dan Proses Peningkatan Kualitas Hidup Terhadap Sesama untuk Pasien Rumah Sakit Jiwa Grhasia Sleman.

Topan Juniardy menjelaskan, pengabdian kepada masyarakat itu dikemas dengan menyasar pasien rumah sakit jiwa, melalui kerjasama dengan pihak RS Grhasia Pakem, Sleman. Pihaknya memilih pasien RSJ, karena ingin memberikan motivasi, bahwa mereka bisa hidup produktif setelah keluar dari rumah sakit. Selain itu, pengabdian masyarakat dengan kontak langsung bersama pasien RSJ tergolong jarang dilakukan. Timnya sekaligus ingin merubah image bahwa pasien RSJ jangan dikucilkan, tetapi harus dirangkul untuk diajak berkarya. Adapun bentuk kegiatannya memberikan sosialisasi kepada pasien RSJ tentang berbagai jenis tanaman herbal di Indonesia, serta memberikan pelatihan pembuatan jamu tradisional beras kencur dan kunyit asam kepada mereka.

"Sebelum kami menetapkan jamu apa yang akan diberikan, lebih dahulu tim kami membuat formulasi kira-kira jamu apa yang cocok. Jadi ada uji pendahuluan untuk mendapatkan komposisi yang tepat dan dapat diterima masyarakat serta aman, kemudian ditetapkan dua jamu tersebut [kunyit asam dan beras kencur]," ungkapnya, Sabtu (7/7/2018) lalu.

Dinasari Bekti menambahkan, pihak rumah sakit melakukan seleksi lebih dahulu pasien yang akan diikutsertakan dalam pelatihan. Dengan memprioritaskan pasien yang mampu memberikan respon dan timbal balik dalam berkomunikasi. Menurutnya, para pasien tersebut sangat antusias mengikuti pelatihan, mulai dari membantu menyiapkan bahan hingga mengikuti proses pembuatan. Ia tidak menampik, sempat merasa khawatir dan sedikit takut saat sebelum memberikan pelatihan, tetapi respon pasien sangat baik dalam mengikuti.

"Terutama pasien wanita ini sangat respons banget, lebih kritis bertanya dan memberikan saran, misalnya perlu ditambahkan ini itu, kurang gula dan lainnya. Kalau yang pasien pria, lebih pada antusias mencoba jamu tersebut," imbuhnya.

Firda Shafira mengatakan, resep buatan timnya yang disajikan dalam pelatihan itu adalah setiap satu liter menggunakan bahan 50 gram kencur, 20 gram tepung beras atau beras putih yang harus direndam semalam, gula pasir dan gula jawa masing-masing 100 gram. Variasinya ditambahkan jahe seitar lima gram agar terasa hangat. Sedangkan untuk kunyit asam menggunakan 100 gram kunyit, 100 gram asam jawa dan 300 gram gula pasir dan 100 gram gula jawa. Hanya saja bahan gula dan jahe tersebut menyesuaikan dengan selera.

Adapun hasil pembuatan jamu beras kencur tersebut kemudian disumbangkan secara gratis kepada masyarakat dan sejumlah dosen serta mahasiswa FMIPA UII. "Selain mereka bisa minum jamu yang sehat, juga bisa berbagi antar sesama dari hasil pembuatan jamu tersebut," kata dia.