Maba Sanata Dharma Belajar Kisah Perjuangan Aktivis Pendidikan

Ratusan maba USD saat menyimak pemamaparan dua aktivis bidang pendidikan anak dalam Insadha 2018 gelombang ketiga, Jumat (10/8/2018). - Harian Jogja/Sunartono
11 Agustus 2018 09:50 WIB Sunartono Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Dua pemuda yang bergerak sebagai aktivis bidang pendidikan memberikan ceramah dalam pelaksanaan Inisiasi Sanata Dharma (Insadha) 2018 bagi mahasiswa baru (Maba) Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, Jumat (10/8/2018). Keduanya adalah pendiri Sekokah Gajah Wong Faiz Fakhrudin dan Heni Sri Sundani mantan TKW yang mendirikan sekolah dan memberikan beasiswa bagi anak petani. 

Kegiatan Insadha 2018 kemarin merupakan gelombang terakhir pelaksanaan pengenalan kampus bagi mahasiswa baru USD, setelah dua gelombang sebelumnya menggelar kegiatan serupa dengan pemateri berbeda.

Dalam kesempatan itu Pendiri Sekolah Gajah Wong Yogyakarta Faiz Fakhrudin menjelaskan, awal mula ia mendirikan sekolah terinspirasi ketika menjadi relawan gempa 2006 di Bantul. Meski ia berpendidikan teknik dan tidak memiliki pengetahuan kurikulum pendidikan, ia lebih nyaman mendampingi anak-anak korban gempa di sekolah darurat.

Seiring berjalannya waktu, sekitar dua bulan lebih memberikan pendampingan kepada anak korban gempa, perlahan mendapatkan pengetahuan dan pengalaman tentang kurikulum pengajaran.

"Setelah jadi relawan, saya itu kan punya banyak teman pengamen, sering nongkrong, sata ngobrol mereka mengeluhkan hidupnya gini-gini aja, akhirnya saya sarankan kalau ingin berubah harus belajar, lalu bikinlah sekolah Gajah Wong itu dengan fasilitas seadanya di pinggiran sungai gajah wong," ungkapnya, Jumat.

Sekolah itu secara khusus menyasar kaum miskin kota yang sebagian besar tinggal di bantaran Sungai Gajah Wong. Melalui pendidikan, harapannya mereka dapat meningkatkan taraf hidupnya. Ia mengatakan, pada 2009, ia bersama para pemulung di bantaran sungai gajah wong memulai bergotong royong membuat batako, membangun gedung sekolah seadanya. Pada awalnya hanya satu kelas kemudian saat ini berkembang menjadi empat kelas.

Faiz memberi nama kelas akar untuk anak usia tiga hingga lima tahun, kelas rumput untuk anak usia lima hingga tujuh tahun, kelas ranting antara tujuh hingga sepuluh tahun dan kelas batang pada anak 10 hingga 15 tahun. Ia menyadari perjalanan sembilan tahun dengan hanya mendapatkan empat kelas itu memang tergolong lambat. Tetapi tidak mudah membangun pendidikan di tengah anak pemulung dan pengamen karena banyak kendala. Namun ia optimistis ke depan kelas itu akan bertambah sampai pada usia dewasa.

"Saya pernah bekerja di LSM bergerak di bidang pendidikan anak juga, sehingga kurilum kami susun sedemikian rupa dengan menyesuaikan kondisi siswa-siswa kami," katanya.

Sri Sundani mengatakan, dalam mengupayakan pendidikan anak, ia berusaha mengasah kemampuan berfikir. Ia menceritakan ada ratusan anak petani yang sekolah bersama di rumahnya. Membangun kebiasaan positif selalu diusahakan, karena masa kecil mereka cenderung singkat lantaran di usia 13 tahun sudah ada yang menikah.

"Di tiap daerah berbeda, di Lombok ada anak nelayan, Bogor ada kelas pertanian, kami ajarkan tidak hanya pertanian konvensional, tetapi urban farming ketrampilan dan lainnya. Serta ada kelas bahasa ada bahasa daerah bahasa Indonesia dan asing," katanya.

Ia tak lupa membangun karakter anak, mulai dari diajari membuang sampah pada tempatnya hingga menerima kondisi dan kekurangan masing-masing. Salah satu program unik di antaranya memberikan PR bagi siswa bukan dalam bentuk mata pelajara namun PR membantu orangtua di rumah.

"Suatu hari waktu di dalam rumah, kami mendengar ada anak-anak menyapu lalu saya tanya, kenapa menyapu di sini? mereka menjawab, tadi ada tugas PR dari kakak relawan katanya suruh menyapu membantu orang tua, kebetulan rumah saya kecil jadi cepet selesai sekarang saya pindah menyapu di halaman ibu [Heni Sri Sundani]," ucapnya sembari menirukan siswanya.