Petani Kalasan Yakin Harga Jual Tembakau Kering Bisa Mencapai Rp50.000 Per Kg

Suparjo sedang mengurusi lahan tembakau miliknya di Dusun Bulungasem, Desa Selomartani, Kalasan pada Agustus. - Harian Jogja/ Fahmi Ahmad Burhan
19 September 2018 06:17 WIB Fahmi Ahmad Burhan Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Petani tembakau di Kalasan, Sleman optimistis hasil penen mereka akan lebih baik dibanding tahun sebelumnya karena hujan yang minim. Para pembeli dari luar Sleman mulai mendatangi petani dan bersiap bersiap membeli hasil tanam dengan harga yang bersaing.

Petani tembakau dari Dusun Dalem, Tamanmartani, Kalasan Muslih mengaku optimistis hasil penennya bisa lebih baik dibanding tahun lalu. Menurutnya, hasil panen tembakau di tahun-tahun sebelumnya anjlok.

Ia mengatakan di 2016, dari modal tanam 5 hektare lahan tembakau miliknya yang mencapai Rp100 juta, ia hanya bisa mendapatkan keuntungan Rp80 juta.

Menurut Muslih, di tahun ini, pada musim tanam tembakau, intensitas hujan relatif minim. "Kalau cuacanya panas seperti ini saya optimis bisa meraup untung," kata Muslih pada Selasa (18/9/2018). Ia mulai menanam dari Juli.

Sementara itu, petani lainnya dari Dusun Bulungasem, Desa Selomartani, Kalasan Suparjo mengatakan lahan 2 hektare yang ia tanami tembakau dari Juni sudah dipesan oleh pembeli dari Temanggung. Menurutnya, pembeli itu akan membeli dengan kualitas yang baik karena diperkirakan harga jual tembakau di tahun ini akan lebih baik.

"Kira-kira harga tembakau di tahun ini pada kisaran Rp40.000 sampai Rp50.000 [per kilogram ktembakau kering] lah," ujar Suparjo. Tahun lalu, menurut Suparjo harga tembakau anjlok karena kualitas panen yang jelek.

Harga di tahun lalu ada pada sekitar Rp25.000. Suparjo mengatakan, harga yang rendah membuat petani merugi dan enggan menanam tembakau. Hal tersebut terjadi sejak 2015, karena intensitas hujan yang cukup tinggi mengganggu hasil panen tembakau.

Kepala Bidang Hortikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman Edi Sri Hartanto memperkirakan panen tembakau akan banyak dimulai di September. Meski demikian dirinya tidak mematok target panen tembakau.

Ia mengatakan tren di tahun-tahun lalu, harga jual tembakau Kalasan anjlok karena intensitas hujan tinggi, dan membuat petani beralih menanam tanaman hortikultura lainnya seperti jagung dan cabai. "Harga yang tidak menentu bisa sampai mahal bahkan bisa anjlok membuat petani enggan menanam tembakau," katanya.