Baru Ada 2 Sekolah Aman Bencana di Jogja

Simulasi bencana alam, Selasa (3/4/2018). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
23 Oktober 2018 15:20 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Sekolah didorong untuk meningkatkan kesadaran membentuk SAB agar sewaktu-waktu siap menghadapi bencana. Hingga kini baru dua sekolah di Jogja yang menyandang status sebagai sekolah aman bencana (SAB).

Ketua Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Hari Wahyudi mengatakan saat ini dari 99 SD negeri dan 76 SD swasta di Jogja baru dua SAB yang dibentuk. Masing-masing adalah SD Negeri Bangunrejo di Jetis dan SD Negeri Baluwarti di Kotagede yang dinilai rawan bencana.

SEdangkan dua SAB rintisan, kata Hari, saat ini sudah dibentuk di dua SD yakni SD Kristen Kalam Kudus Kricak dan SD Kanisius Gayam Baciro. "Kami akan menyosialisasikan penambahan SAB tahun depan. Tapi kesadaran membangun sekolah aman bencana akan terus ditumbuhkan," katanya, Selasa (23/10/2018).

Kesiapan sekolah yang dibutuhkan untuk membentuk SAB adalah dengan cara membangun dan menumbuhkan kesadaran mitigasi bencana, termasuk keberlanjutan kegiatan simulasi bencana. Sekolah yang akan disasar program sekolah aman bencana adalah TK, SD dan SMP.

"Kalau setelah simulasi bencana tidak melakukan apa-apa ya sama saja. Makanya perlu ditumbuhkan kesadaran, komitmen dan pembiasan sekolah untuk terus melakukannya. Sosialisasi mitigasi bencana harus jadi kegiatan rutin sekolah untuk semua warga sekolah,” ucap Hari.

Menurut dia semua sekolah didorong untuk menyandang status sebagai sekolah aman bencana. Hanya hal itu tergantung dari kesiapan sekolah dan infstruktur yang perlu diperhatikan.

Saat ini, misalnya, belum semua bangunan sekolah dilengkapi dengan jalur evakuasi dan titik kumpul. "Padahal keberadaan jalur itu penting untuk meminimalisir korban bencana. Dari identifikasi kami baru beberapa sekolah saja yang punya titik kumpul dan jalur evakuasi,” katanya.

Dia menjelaskan keberadaan titik kumpul dan jalur evakuasi itu penting agar warga sekolah siap menghadapi bencana. Dalam satu kelas setidaknya ada sekitar 30 siswa, sehingga dibutuhkan kesepakatan bersama pintu mana yang digunakan untuk keluar dan msuk serta jalur evakuasi.

"Saat bencana gempa datang, kalau tidak ada jalur evakuasi dan titik kumpul, mereka bisa saling bertabrakan saat keluar ruangan. Harus ada kesepakatan mana pintu yang untuk keluar dan masuk,” katanya.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Jogja Edy Heri Suasana mengatakan sejauh ini sebenarnya sudah ada lebih dari tiga sekolah yang berstatus sebagai jika Sekolah Siaga Bencana (SSB). Namun yang bekerja sama dengan BPBD Jogja, diakui dua hanya ada di dua lokasi. "Sekolah-sekolah lainnya mengembangkan SSB dengan inisiatif masing-masing. Seperti memberikan pelatihan-pelatihan bagi para siswa," kata dia.

Pihaknya berharap sekolah-sekolah yang belum berstatus sebagai SAB/SSB bisa menginisiasi sendiri untuk membentuk SAB/SSB. "Jadi tidak perlu menunggu ada kerjasama dengan BPBD/BNPB, tapi bisa mengembangkan SSB dengan inisiasi sendiri. Kalau itu dilakukan diharapkan semua sekolah di Jogja dapat menjadi SAB/SSB," kata Edy.