Jangan hanya jadi Penonton, Produk UMKM Kulonprogo Harus Dipasarkan di NYIA

Produk batik dari UMKM di Manunggal Fair, Kulonprogo. - Harian Jogja/Nina Atmasari
06 November 2018 13:15 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGOProduk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Kulonprogo diharapkan bisa dipasarkan di New Yogyakarta International Airport (NYIA). Upaya ini bertujuan agar warga asli Bumi Binangun khususnya para pengusaha kecil tidak hanya menjadi penonton.

Harapan itu disampaikan Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo, dalam dialog dengan pelaku usaha bertema Menyikapi Keberadaan Bandara untuk Kesejahteraan Masyarakat di Ruang Adhikarta kompleks Pemkab Kulonprogo, Wates, Senin (5/11/2018).

"Gubernur DIY Sri Sultan HB X juga memiliki harapan yang sama, dan semoga nanti ada ruang bagi produk UMKM lokal Kulonprogo di NYIA agar pengusaha kecil bisa berkembang dengan keberadaan bandara baru ini," ucap Hasto.

Hasto mengatakan keberadaan bandara baru di luar dari fungsi teknisnya sebagai terminal penumpang pesawat dari seluruh penjuru Indonesia juga ditujukan untuk menyejahterakan masyarakat Kulonprogo. Dengan adanya NYIA, harapannya roda perekonomian masyarakat Bumi Binangun khususnya yang bergerak di UMKM terus berputar dan membaik seiring beroperasinya bandara tersebut mulai 2019.

"Produk Airku [air mineral asli Kulonprogo] juga harus ada di sana [NYIA], karena ini potensi lokal Kulonprogo, tetapi nanti tergantung dari hitung-hitungannya seperti apa dengan PT Angkasa Pura I," kata Hasto.

Manajer Proyek Bandara NYIA, Tauchit Purnomo Hadi, mengatakan pemberian ruang bagi produk lokal UMKM Kulonprogo di bandara baru bisa dilakukan. Nantinya bandara akan difungsikan sebagai etalase dari produk-produk lokal tersebut. "Contohnya kalau di Kulonprogo ada batik khasnya [geblek renteng], nanti bisa ditempatkan di etalase bandara, ini juga bertujuan mengenalkan produk tersebut ke masyarakat," ujarnya.

Hanya saja untuk saat ini jajarannya belum bisa memastikan detail luas dan harga yang akan dipatok kepada para pelaku UMKM yang ingin memasarkan produknya di bandara tersebut. Menurut Tauchit, hal itu masih butuh koordinasi dengan PT AP I.