Ini yang Bikin Perbaikan LPJU di Bantul Tak Maksimal

Ilustrasi perawatan LPJU - JIBI
07 November 2018 19:20 WIB Rahmat Jiwandono Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Sarana untuk memperbaiki lampu penerangan jalan umum (LPJU) yang dimiliki oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Bantul sangat minim. Salah satunya adalah mobil skylift yang biasa dipakai untuk memperbaiki LPJU.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Bantul, Aris Suharyanta mengatakan hingga kini pihaknya hanya memiliki satu unit mobil skylift. Padahal, kata dia, Dishub mewenangi perbaikan sekitar 5.000 LPJU se-Bantul. “Belum lagi target yang dipatok nanitnya ada 12.000 LPJU. Padahal teknisi dari kami cuma enam orang yang harus memperbaiki semua LPJU di Bantul,” kata Aris kepada Harian Jogja, Selasa (6/11).

Dia mengatakan harga mobil skylift memang tidak murah. Per unitnya, kata Aris, diperkirakan bisa mencapai Rp1 miliar.

Dengan jumlah mobil skylift yang hanya satu unit, dia tak menampik Dishub Bantul kerap dibikin kewalahan dalam merespons aduan warga terkait dengan kerusakan LPJU. Dalam sehari, dia mengaku selalu menerima setidaknya 2-3 aduan dari masyarakat. “Oleh karena itulah, kami sangat memerlukan tambahan mobil itu [mobil skylift]. Idealnya, kami butuh tiga unit [mobil skylift] dan 15 orang teknisi,” ucap dia.

Aris mengaku setiap tahunnya sudah mengajukan anggaran untuk pengadaan mobil skylift namun selalu mendapat penolakan. Pada 2017 lalu, kata dia, usulan satu unit mobil skylift dicoret, begitu pula pada akhir 2018.

Pada pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Dearah (APBD) 2019, dia mengaku sudah mengajukan usulan pengadaan dua unit mobil skylift. Dari hasil usulan itu, hanya satu unit yang diamini tim anggaran. “Padahal, idealnya itu tiga unit, masing-masing untuk wilayah Bantul timur, tengah, dan Bantul barat.”

Ketua Komisi C DPRD Bantul Wildan Nafis membenarkan jumlah mobil skylift yang dimiliki Pemkab Bantul saat ini memang sangat minim. Dishub maupun komisi pernah berulang kali mengusulkan penambahan mobil skylift. Hanya, usulan itu dicoret lantaran keuangan daerah terbatas. “Beberapa kali usulan diajukan selalu ditolak, karena memang anggaran daerah terbatas. Hal ini berimbas pada aktivitas pemeliharaan [LPJU] belum bisa maksimal,” katanya.