Krimpying Gaplek, Camilan Khas Kulonprogo yang Kian Terpinggirkan

Suwoto, 35, menunjukkan krimpying yang sudah diolah untuk kemudian dijual di rumahnya di Dusun Bendungan Lor, Desa Bendungan, Kecamatan Wates, Kulonprogo, Jumat (9/11/2018). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
11 November 2018 15:15 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Di balik menjamurnya kuliner modern, tersemat satu makanan atau lebih tepatnya camilan yang kini masih bertahan di Kulonprogo bernama krimpying. Camilan tersebut memang tak sekondang geblek yang merupakan makanan khas Bumi Binangun. Namun camilan tradisional ini tetap menjadi primadona masyarakat meski eksistensinya mulai tergerus zaman lantaran para pembuatnya mulai berkurang.

Seperti para pembuat krimpying di Dusun Bendungan Lor, Desa Bendungan, Kecamatan Wates, Kulonprogo. Dari enam pembuat krimpying, kini hanya tersisa satu yang masih bertahan, yaitu produksi krimpying milik Jumikem, 70.

Kepada Harian Jogja, Jumikem mengaku sudah menjadi pembuat krimpying sejak puluhan tahun silam. Faktor usia membuatnya lupa tahun berapa dia memulai usaha. Tetapi dia memperkirakan sekitar 35 tahun lalu.

Diceritakan Jumikem, saat masa jaya makanan krimpying, banyak pembuat camilan berbahan baku ketela itu di Dusun Bendungan Lor. Namun seiring berkembangnya zaman, jumlahnya menyusut dan hanya menyisakan dirinya.

"Kalau dulu banyak, di dusun sini [Bendungan Lor], ada enam orang, tapi ya itu tadi lama kelamaan berkurang, mungkin karena sudah tak menjanjikan dan memilih cari mata pencaharian lain, sementara kalau saya ya daripada tidak ada kegiatan mending membuat krimpying saja," ujarnya saat ditemui Harian Jogja, Jumat (9/11/2018).

Krimpying buatan Jumikem berbahan tepung gaplek atau ketela pohon. Untuk membuat krimpying gaplek cukup menggunakan bahan tepung tapioka, tepung gaplek, serta bumbu berupa garam dan bawang putih. Bahan-bahan ini lantas diaduk agar menjadi adonan yang kental, untuk selanjutnya dikukus selama kurang lebih satu jam. Setelah dikukus dan dibuat bulatan-bulatan, adonan itu dijemur di bawah terik Matahari. "Lama penjemuran biasanya dua sampai tiga hari tergantung cuaca," kata Jumikem.

Adapun dalam pembuatannya, Jumikem masih menggunakan peralatan tradisional. Hanya satu alat saja yang modern, yakni sebuah penggilingan. Alat tersebut berguna untuk menggiling adonan krimpying agar tipis.

Anak Jumikem, Suwoto, 35, mengatakan dalam sehari dia beserta ibunya mampu memproduksi 15 kg krimpying. Camilan tersebut lantas di jual ke Pasar Bendungan yang berlokasi tak jauh dari rumahnya. "Beberapa di antaranya ada juga yang kami titipkan ke pedagang di luar pasar, per kilogramnya dihargai Rp16.000," beber pria yang akrab disapa Woto ini.

Menyoal upaya pelestarian krimpying di dusunnya, Woto mengaku sejauh ini belum ada instansi pemerintah yang turun tangan. "Sampai hari ini kami juga belum pernah mendapat bantuan baik itu alat ataupun pembinaan," ujarnya.

Woto berharap ke depan makanan tradisional ini bisa terus bertahan. Upaya pemerintah, menurutnya, diperlukan agar makanan ini tidak punah karena kalah dengan kuliner modern.