Renovasi Stadion Mandala Krida Tertunda, DPRD DIY Ungkap Fakta Penting
DPRD DIY soroti dokumen renovasi Mandala Krida yang belum lengkap. MC-0 dan DED 2026 terancam tertunda.
Ketua Komisi A DPRD DIY, Eko Suwanto saat melakukan kunjungan di Museum Asia Afrika, Bandung, Jawa Barat, pada Jumat (12/12/2025). - Harian Jogja/ Ariq FajarJajaran Komisi A DPRD DIY saat melakukan kunjungan di Museum Asia Afrika, Bandung, Jawa Barat, pada Jumat (12/12/2025). - Harian Jogja/ Ariq Fajar
Harianjogja.com, JOGJA—Komisi A DPRD DIY menegaskan kembali semangat anti-penjajahan dan solidaritas global, termasuk dukungan bagi Palestina, melalui kunjungan ke Museum Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung, sebagai penguatan nilai sejarah dan Pancasila.
Kunjungan studi ke Museum Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung, Jawa Barat, dilakukan Jumat (12/12/2025).
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari rangkaian program Sinau Pancasila dan Sinau Sejarah yang selama ini dilaksanakan Komisi A DPRD DIY. Museum KAA dipilih sebagai lokasi pembelajaran karena menjadi saksi lahirnya solidaritas negara-negara Asia-Afrika pada 1955, termasuk dukungan terhadap Palestina.
“Perjuangan melawan penjajahan masih sangat relevan hari ini. Karena itu, kami punya komitmen menjaga Republik Indonesia sekaligus berjuang memakmurkan rakyat dan menjaga ketertiban dunia,” ujar Ketua Komisi A DPRD DIY, Eko Suwanto, Jumat (12/12/2025).
Serupa dengan Bandung, Eko Suwanto menegaskan bahwa Yogyakarta memiliki karakter sebagai rumah bagi berbagai bangsa. Oleh karena itu, nilai keberagaman menjadi landasan kuat untuk menyuarakan solidaritas global. Ia menekankan bahwa isu Palestina tidak bisa dilepaskan dari semangat Konferensi Asia Afrika.
“Jogja itu rumah dunia, bukan hanya rumah orang Jogja saja. Dari Jogja pula kita perjuangkan kemerdekaan Palestina karena itu bagian dari komitmen kita sebagai bangsa sejak Palestina hadir sebagai peninjau di KAA 1955,” kata Eko Suwanto.
Kepala Seksi Publikasi Promosi Nilai-nilai Konferensi Asia Afrika (PPNKAA), Christofus Katon, turut menjelaskan peran Presiden Indonesia saat itu, Soekarno, yang mempersatukan para pemimpin negara-negara Asia dan Afrika untuk menentang kolonialisme.
“Soekarno menjadi figur yang mempersatukan negara-negara Asia dan Afrika yang memiliki latar belakang berbeda, baik politik, ekonomi, maupun budaya, dengan visi bersama, yaitu anti-kolonialisme dan solidaritas global,” jelas Christofus Katon.
Semangat anti-kolonialisme juga tergambar dalam sejarah Gedung Societeit Concordia, yang menjadi cikal bakal Museum KAA. Pada awal pembangunannya, gedung tersebut digunakan sebagai tempat hiburan masyarakat kolonial Eropa di Bandung.
Namun, seiring dengan kemerdekaan Indonesia, gedung tersebut berganti nama menjadi Gedung Merdeka. Tempat itu kemudian menjadi saksi bisu perjuangan negara-negara dalam memperoleh kemerdekaan.
Adanya Konferensi Asia Afrika memberikan dampak signifikan. Banyak negara peserta KAA, terutama negara-negara Afrika, yang akhirnya berhasil meraih kemerdekaan setelah konferensi bersejarah di Bandung tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD DIY soroti dokumen renovasi Mandala Krida yang belum lengkap. MC-0 dan DED 2026 terancam tertunda.
Pengurusan SKKH di Sleman masih sepi jelang Iduladha 2026. DP3 tingkatkan pengawasan karena ancaman PMK masih ada.
Lima WNI ditahan Israel saat misi kemanusiaan ke Gaza. Pemerintah RI mendesak pembebasan dan perlindungan.
UMKM di RTP Bulak Tabak Kulonprogo mengeluh sepi pembeli saat musim haji 2026, dampak ekonomi dari embarkasi belum terasa.
Polda DIY lakukan asistensi kasus Shinta Komala di Sleman. Dua perkara diusut, polisi pastikan penanganan sesuai SOP.
DPRD DIY memastikan tidak ada pemberhentian guru non-ASN. Penugasan diperpanjang hingga 2026, kesejahteraan tetap dijaga.