Kembul Sewu Dulur, Tradisi Kerukunan & Paseduluran yang Takkan Pernah Mati

Ratusan warga mengikuti tradisi kenduri di Bendung Kayangan dalam Festival Budaya Kembul Sewu Dulur 2018 di Desa Pendoworejo, Kecamatan Girimulyo, Rabu (7/11/2018). - Harian Jogja/Jalu rahman Dewantara
08 November 2018 13:15 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Dinas Pariwisata (Dispar) DIY bersama masyarakat Desa Pendoworejo, Kecamatan Girimulyo, menggelar Festival Budaya Kembul Sewu Dulur 2018 yang dipusatkan di Bendung Kayangan, desa setempat. Kegiatan yang digelar sejak Selasa (6/11/2018) hingga Rabu (7/11/2018) ini diharapkan bisa menjadi salah satu daya tarik wisata di Kulonprogo.

Kepala Seksi Objek Daya Tarik Wisata Dispar DIY, Wardoyo, mengatakan Festival Budaya Kembul Sewu Dulur 2018 yang penyelenggaraanya mendapat kucuran Dana Keistimewaan DIY ini berpotensi menjadi destinasi wisata budaya. Oleh karena itu Dispar mendorong kegiatan ini terus lestari sehingga mampu menarik minat wisatawan baik lokal maupun mancanegara. "Jika dikemas dengan baik seperti ini tentu sangat bagus untuk mendorong daya tarik wisatawan, dampaknya juga bisa langsung dirasakan masyarakat," ucap Wardoyo di sela-sela acara, Rabu.

Selain sebagai upaya menarik minat wisatawan, festival ini sekaligus menjadi langkah nyata melestarikan seni budaya sehingga tidak akan punah dimakan zaman. "Apa yang menjadi kekuatan masyarakat di sini yakni adanya tradisi Kembul Sewu Dulur tentu harus dijaga agar terus lestari," katanya.

Tradisi Kembul Sewu Dulur merupakan tradisi turun-temurun warga Desa Pendoworejo. Tradisi ini bermakna berkumpulnya sesama saudara warga Desa Pendoworejo, sekaligus bertujuan menyatukan masyarakat dan memberi rasa kebersamaan bagi banyak dusun di Pendoworejo di antaranya Dusun Gunturan, Njetis, Ngrancah, Kepek, Turusan, Tileng, Banaran, Kalingiwo, dan Krikil yang mendapatkan manfaat dari Bendung Kayangan.

Awalnya tradisi ini dilakukan secara sederhana berupa kenduri di rumah masing-masing kepala dusun. Namun berkat dukungan dari berbagai pihak baik budayawan, seniman dan masyarakat sekitar, upacara tradisi ini bisa dilaksanakan dengan skala lebih besar dan lebih meriah. Seperti tahun ini sejumlah pentas seni ditampilkan mulai dari jatilan, pergelaran wayang kulit, taichi on the river side, karnaval budaya, pentas tari dan lain sebagainya.

Salah satu penggagas tradisi ini hingga semeriah sekarang adalah Godod Sutejo, 65. Pria asal Kota Jogja ini mengatakan langkah mengemas tradisi yang awalnya sederhana hingga kini meriah tersebut bertujuan untuk menggaet wisatawan tanpa melepaskan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. "Sebenarnya tradisi ini sudah lama, tapi mulai benar-benar kami kemas menjadi bagus sejak 1990 an. Dulu masih sepi karena hanya warga sekitar yang datang, sekarang karena sudah dikemas dengan baik lambat laun mulai ramai," ujar Godod. Dia berharap dengan upaya ini maka bisa membawa dampak positif bagi masyarakat sekitar, salah satunya yakni memperbaiki perekonomian warga.

Salah satu sesepuh Desa Pendoworejo, Odho Sumarto, 76, membenarkan hal itu. Dia mengatakan jika dulunya tradisi Kembul Sewu Dulur hanya diikuti masyarakat desanya, sejak dikemas sedemikian rupa, masyarakat dari daerah lain pun turut meramaikan tradisi ini.

Upacara tradisi Kembul Sewu Dulur dimulai dengan kirab kelompok kesenian, pembawa sesaji dan kenduri, tamu undangan, dan masyarakat umum. Para peserta kirab bersamaan menuju ke lokasi bendungan dan berkumpul di pinggir sungai, kemudian kelompok-kelompok kesenian melakukan pentas seni di hadapan para tamu dan masyarakat umum.

Kesenian tradisional yang dipentaskan di kompleks bendungan ini umumnya adalah kuda lumping atau jatilan. Sesudah berpentas babak pertama mereka akan memandikan kuda-kuda lumpingnya ke sungai di bendungan tersebut. Ritual memandikan kuda lumping ini dinamakan Ngguyang Jaran. Ritual ini juga tidak lepas dari kisah masa lalu yangmenggambarkan aktivitas Mbah Bei Kayangan yang berpofesi sebagai pawang kuda milik Raja Majapahit, Prabu Brawijaya.

Setelah ritual memandikan kuda lumping acara dilanjutkan dengan kenduri Saparan. Berbagai menu sesaji dan makanan tradisional yang dibawa masyarakat dan sudah tertata rapi di pinggir sungai untuk dibagikan pada seluruh pengunjung setelah didoakan oleh pemangku adat. Di samping menunjukkan kebersamaan, Kembul Sewu Dulur atau makan bersama seribu saudara ini sekaligus sebagai simbol dari rasa syukur warga kepada Tuhan yang telah memberikan kemakmuran.

Wakil Bupati Kulonprogo, Sutedjo, yang hadir dalam festival tersebut mengatakan kegiatan ini memberi manfaat masyarakat untuk mencintai lingkungan. Selain itu juga berguna membakar semangat untuk bersama-sama membangun persatuan dan gotong royong. "Kami sangat mendukung dan mengapresiasi kegiatan seperti ini," ujar Sutedjo.