Kasus Kekerasan Anak di Gunungkidul Capai 50 hingga Juli
Kasus kekerasan anak di Gunungkidul mencapai 50 kasus hingga Juli 2026. Dinas Sosial P3A memperkuat upaya pencegahan di masyarakat dan sekolah.
Sukimin, salah seorang petani tembakau di Desa Bendung, Kecamatan Semin, menyirami tanaman tembakau di lahan miliknya, Selasa (16/7/2019).Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Petani tembakau di Gunungkidul berharap harga tembakau dapat terus stabil. Pasalnya, komoditas ini menjadi salah satu tumpuan hidup saat musim kemarau.
Ketua Asosiasi Petani Tembakau Gunungkidul, Sukimin, mengatakan saat ini petani tengah merawat tanaman tembakau. Di Gunungkidul ada beberapa sentra penanaman seperti di Desa Wareng, Kecamatan Wonosari dan Desa Bendung, Kecamatan Semin. “Kebetulan saya tanam di wilayah Desa Bendung dengan cakupan area penanaman tembakau seluas 12 hektare yang digarap 25 anggota kelompok,” kata Sukimin kepada Harian Jogja, Selasa (16/7/2019).
Menurut dia, tanaman tembakau menjadi salah satu tumpuan hidup para petani saat musim kemarau. Dari sisi hasil, ia tidak menampik pendapatan yang diperoleh lebih besar ketimbang tanaman padi atau tanaman pangan lainnya. “Tembakau bisa panen tiga sampai empat kali untuk sekali musim tanam,” katanya.
Disinggung mengenai harga, Sukimin belum bisa memastikan karena saat ini masih pemeliharaan. Namun jika berpatokan pada harga jual di masa panen tahun lalu, harga tembakau mencapai Rp80.000 per kilogram. Dia berharap pada masa panen nanti harga tembakau tetap stabil sehingga petani tetap mendapatkan untung. “Banyak petani yang menggantungkan asa dari hasil panen tembakau. Salah satunya untuk membiayai sekolah anak hingga tingkat perguruan tinggi. Jadi kami berharap harganya jangan anjlok,” katanya.
Menurut Sukimin, penjualan tembakau bisa dilakukan dengan dua cara. Pertama, daun tembakau dijual saat masih basah. Cara ini lebih cepat untuk mendapatkan uang, tapi dari sisi jumlah tidak banyak karena hanya dihargai sekitar Rp9.000 per kilogram. Kedua, memanen daun tembakau untuk kemudian dikeringkan baru dijual. Dari sisi proses, penjualan daun tembakau kering membutuhkan waktu karena petani harus menunggu dan rutin menjemur daun hingga kering. “Butuh waktu tapi dari sisi hasil daun tembakau kering lebih mahal,” katanya.
Hal senada diungkapkan oleh Yanto, petani tembakau lain di Desa Bendung. Menurut dia tanaman tembakau sangat membantu petani karena hasil yang didapatkan lebih besar ketimbang tanaman lainnya. “Prospek tanaman tembakau sangat bagus. Jadi kami berharap harganya bisa terus stabil,” katanya.
Untuk masa pemeliharaan Yanto mengaku apabila tanaman tumbuh dengan baik. Meski memasuki musim kemarau, tanaman tidak terganggu karena kebutuhan air untuk pemeliharaan tidak begitu banyak. “Justru kalau banyak air malah tidak baik untuk pertumbuhan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kasus kekerasan anak di Gunungkidul mencapai 50 kasus hingga Juli 2026. Dinas Sosial P3A memperkuat upaya pencegahan di masyarakat dan sekolah.
Subaru membentuk divisi khusus mobil sport untuk menghidupkan kembali DNA performa yang selama ini identik dengan WRX STI. Penggemar kini menanti gebrakan besar
Timnas Indonesia menghadapi Kamboja pada laga perdana Grup A Piala AFF 2026. John Herdman dan Nadeo Argawinata optimistis Garuda mampu membuka turnamen dengan k
Meta resmi meluncurkan Facebook Verified, fitur verifikasi akun gratis melalui video selfie. Simak cara mendapatkan lencana verifikasi dan perbedaannya dengan M
Survei Coursera 2026 menunjukkan 97 persen perusahaan di Indonesia kini lebih mengutamakan keterampilan dibanding ijazah dalam merekrut karyawan entry level.
Nissan Leaf Nismo resmi meluncur di Jepang dengan fokus pada handling dan desain sporty, bukan peningkatan tenaga. Cek spesifikasi lengkapnya!