Lebih dari 100.000 Orang di DIY Telah Disuntik Vaksin
Vaksinasi Covid-19 tahap kedua untuk kalangan lanjut usia dan pelayan publik di DIY masih berjalan. Hingga Jumat (19/3/2021), total penerima vaksin telah mencapai 97.583 jiwa.
Kepala DKP Kulonprogo, Sudarna menunjukkan kolam bundar berisi ikan di Kantor DKP Kulonprogo, Kecamatan Pengasih, Jumat (2/8/2019). /Harian Jogja-Jalu Rahman Dewantara.
Harianjogja.com, KULONPROGO— Produksi ikan budidaya di Kulonprogo mengalami penurunan pada triwulan ketiga 2019. Hal itu berdasarkan realisasi produksi per triwulan DKP Kulonprogo 2018. Adapun realisasi produksi pada tahun lalu di triwulan I mencapai 3.851 ton. Kemudian pada triwulan II turun jadi 3.577 ton. Penurunan cukup signifikan terjadi di triwulan III yang hanya 1.323 ton dan kembali naik di triwulan ke IV yakni 3.301 ton.
Kepala Bidang Pembudidayaan Ikan DKP Kulonprogo, Leo Handaka, mengatakan setiap tahun, triwulan ke III meliputi Juli, Agustus dan September, memang selalu yang paling rendah perihal jumlah produksi budidaya ikan. Penyebabnya yaitu faktor musim kemarau.
Berbeda dengan triwulan I (Januari, Februari, Maret), triwulan II (April, Mei, Juni) dan triwulan IV (Oktober, November, Desember), yang masih turun hujan meski intensitasnya tidak terlalu banyak, pada triwulan III malah sebaliknya. Di triwulan ini produksi ikan menurun karena pembudidaya dihadapkan dengan minimnya pasokan air untuk memenuhi kebutuhan kolam ikan.
"Jadi polanya itu sama setiap tahun, di triwulan pertama produksinya bisa sampai 300 persen dari total produksi satu tahun, kemudian triwulan dua turun jadi 55 persen, nanti di triwulan ke tiga terendah, hanya 15 persen, lalu naik lagi di triwulan terakhir," kata Leo di kantornya, Jumat (2/8/2019).
Di triwulan ini juga, ikan mudah terserang penyakit. Sebab, kemarau membikin perbedaan suhu yang signifikan, saat siang panas dan malam dingin, sehingga mempengaruhi daya tahan tubuh ikan. Jika pembudidaya tak segera melakukan antisipasi, bukan tidak mungkin, bakal banyak ikan yang mati.
"Biasanya kalau ada perubahan dua atau tiga drajat, menurunkan nafsu makan ikan, secara tidak langsung, daya tahan tubuhnya jadi lemah, kemudian mudah dimasuki parasit dan bakteri," paparnya.
Oleh karena itu, untuk mengantisipasi banyaknya ikan yang mati, pembudidaya diimbau membatasi jumlah benih yang ditebar dan mengatur jarak antar benih agar jangan terlalu dekat. Penggunaan kolam bundar dan pemasangan saluran pembuangan endapan di kolam atau biasa disebut sistem central drain, saat musim kemarau juga lebih diutamakan.
Kepala DKP Kulonprogo, Sudarna mengatakan dua cara tersebut menurutnya cukup ampuh untuk mengatasi penurunan produksi selama triwulan III. Kolam bundar misalnya, mampu mempertahankan volume air dalam kolam karena dasar kolam dilapisi terpal sehingga air tidak bersentuhan langsung dengan tanah. Dengan begini, air tidak menyerap dan volume terjaga.
"Ini sangat cocok ketika digunakan saat musim kemarau atau di tempat-tempat yang sulit air, untuk Kulonprogo sendiri memang belum banyak kelompok budidaya ikan yang menerapkan ini," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Vaksinasi Covid-19 tahap kedua untuk kalangan lanjut usia dan pelayan publik di DIY masih berjalan. Hingga Jumat (19/3/2021), total penerima vaksin telah mencapai 97.583 jiwa.
Pemerintah menyiapkan aturan KPR tenor 40 tahun agar cicilan rumah lebih ringan dan akses rumah murah semakin mudah dijangkau masyarakat.
Bahlil Lahadalia mengaku sudah menjelaskan aturan baru harga patokan mineral kepada investor dan Kedubes China di tengah kekhawatiran regulasi tambang.
DPRD DIY menyoroti indikator kinerja daerah yang baru 40 persen meski ekonomi DIY tumbuh dan angka kemiskinan menurun.
Maskapai penerbangan Eropa mulai memangkas penerbangan akibat lonjakan harga bahan bakar jet yang membuat sejumlah rute tidak lagi menguntungkan.
Meta menghadirkan fitur Incognito Chat AI di WhatsApp dengan teknologi Pemrosesan Privat untuk menjaga kerahasiaan percakapan pengguna.