Pilihan Lurah Gunungkidul, 11 Petahana Tersungkur
Pilur serentak Gunungkidul diikuti 91 calon dari 31 kalurahan. Sebanyak 11 lurah petahana gagal mempertahankan jabatannya.
Seorang warga melihat kondisi Sungai Besole yang berada di Kota Wonosari, Selasa (29/10/2019)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Gunungkidul mengeruk Kali Besole di Kecamatan Wonosari. Normalisasi dilakukan agar fungsi sungai normal sehingga banjir bisa diantisipasi.
Kepala Bidang Cipta Karya DPUPRKP Gunungkidul, Agus Subaryanto, mengatakan normalisasi dilakukan sejak beberapa waktu lalu. Total titik alur yang dikeruk sepanjang 200 meter. “Sudah berjalan dan kami targetkan selesai secepatnya,” kata Agus kepada wartawan, Selasa (29/10/2019).
Dia menjelaskan untuk normalisasi aliran sungai ini DPUPRKP Gunungkidul mengalokasikan anggaran swakelola sebesar Rp200 juta. Diharapkan dengan pengerukan ini maka sedimentasi Kali Besole berkurang sehingga bisa mengurangi potensi banjir di wilayah tersebut. “Normalisasi agar sedimentasi berkurang dan untuk memperluas penampang banjir sehingga aliran bisa lebih lancar,” tuturnya.
Agus menjelaskan selama ini pendangkalan di Kali Besole sudah akut. Akibatnya, saat musim penghujan air sering meluap. “Mudah-mudahan dengan pengerukan ini maka luapan air bisa dikurangi,” kata dia.
Anggota DPRD Gunungkidul, Anton Supriyadi, mengatakan normalisasi Kali Besole sudah disuarakan sejak lama. Pasalnya, kondisi sungai sudah memprihatinkan karena selain terpapar polusi juga mengalami sedimentasi yang parah. “Ya harus dinormalisasi agar alirannya kembali lancar,” katanya.
Menurut dia, kebersihan dan fungsi sungai yang membelah Kota Wonosari ini harus dijaga. Hal ini dikarenakan pada prosesnya sangat berpengaruh terhadap rencana Pemkab untuk meraih penghargaan Adipura. “Untuk menjaga kelestarian sungai tidak hanya menjadi kewajiban pemerintah. Masyarakat harus ikut berpartisipasi,” katanya.
Anton menjelaskan salah satu bentuk partisipasi warga adalah dengan tidak membuang limbah rumah tangga ke aliran sungai. “Kali Besole tercemar salah satunya karena adanya pembuangan limbah rumah tangga yang dilakukan warga,” tuturnya.
Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Gunungkidul, Aris Suryanto, mengatakan Kali Besole menjadi salah satu sungai yang tercemar di Gunungkidul. Menurut dia hal ini terjadi tidak lepas dari kebiasaan masyarakat yang membuang sampah sembarangan. “Ada enam sungai yang tercemar, salah satunya Kali Besole,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pilur serentak Gunungkidul diikuti 91 calon dari 31 kalurahan. Sebanyak 11 lurah petahana gagal mempertahankan jabatannya.
KPK menemukan sejumlah ATM dan rekening yang diduga digunakan untuk menampung setoran di lingkungan Kanwil BPN Jawa Timur.
Penyintas KDRT di Salatiga memilih bercerai demi anak setelah bertahun-tahun mengalami kekerasan dan kini bekerja di luar negeri.
Bus sekolah Gunungkidul kembali melayani antar jemput sejak 7 September setelah Pemkab menyiapkan tambahan anggaran Rp270 juta.
Cidro Asmoro tayang 8 Oktober di bioskop. Film ini membawa konsep Jawanisasi Modern dengan musik, drama dan komedi.
Menhub Dudy Purwagandhi menyebut aturan impor KRL merupakan kewenangan Kemendag dan KAI belum mengajukan usulan resmi.