Kapanewon di Gunungkidul Siapkan Dana Droping Air Hadapi Kemarau
Kapanewon di Gunungkidul menyiapkan anggaran droping air bersih menghadapi musim kemarau panjang 2026 yang diprediksi berlangsung tujuh bulan.
Salah satu titik longsor di Semin./Ist
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Hujan di wilayah Gunungkidul belum sepenuhnya turun dengan merata. Meski demikian, ancaman longsor khususnya bagi masyarakat di wilayah rawan mulai terlihat.
Kejadian longsor ini salah satunya terlihat pada talut sepajang lima meter dan tinggi lima meter ambrol di Dusun Pijenan, Pundungsari, Semin pada Jumat (6/12/2019) petang. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun diperkirakan kerugian mencapai jutaan rupiah.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki mengatakan, talut yang ambrol terjadi di perkarangan milik Muhaini. Perisitiwa ini terjadi dikarenakan hujan deras yang mengguyur wilayah Semin sejak Jumat sore. “Kerukasan hanya pada talut dan longsoran tidak sampai ke rumah,” katanya kepada Harianjogja.com, Sabtu (7/12/2019).
Menurut dia, dari sisi perkembangan cuaca, kondisi saat ini belum memasuki musim hujan. Hal ini dikarenakan masih pada tahap peralihan dari kemarau ke penghujan. Meski demikian, di masa pancaroba ini, potensi bencana harus tetap diwaspadai karena embusan angin kencang dan hujan deras dapat menimbulkan kerusakan seperti rumah ambruk maupun tanah longsor.
Untuk potensi rawan longsor terjadi di wilayah utara seperti Kecamatan Patuk, Gedangsari, Nglipar, Ngawen, Semin dan Ponjong. Edy pun berharap, masyarakat yang tinggal di zona rawan untuk berhati-hati dan waspada saat hujan turun dengan derasnya. “Antisipasi penting agar saat kejadian jumlah kerugian bisa ditekan,” katanya.
Edy menuturkan, di waktu yang hampir bersamaan dengan ambrolnya talut di Pundungsari, di daerah lain juga terjadi musibah lain. Sebagai contoh di wilayah Krambilsawit, Saptosari, warga harus merasakan pemadaman karena tiang listrik ambruk diterjang angin kencang.
Hal sama juga terlihat di Desa Beji, Ngawen. Akibat terjangan lisus, satu keluarga terpaksa mengungsi karena rumah yan ditinggali nyaris ambruk. “Total ada empat kejadian yang terjadi pada Jumat [kemarin]. Satu kejadian lagi adalah atap rumah rusak di wilayah Desa Natah, Ngilpar,” ungkapnya.
Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana, BPBD Gunungkidul Agus Wibowo Arifianto mengatakan, musiban ataupun bencana tidak bisa diprediksi kapan datangnya. Namun untuk antisipasi, BPBD terus melakukan mitigasi kebencaanaan. Hal ini dilakukan agar masyarakat mengetahui dan paham terkait dengan kesiapsiagaan kebencanaan. “Harapannya dengan sosialisasi masyarakat bisa tahu sehingga saat terjadi musibah kerugiannya bisa ditekan,” katanya.
Menurut dia, upaya sosialisasi kebencanaan tidak hanya dilakukan dengan pertemuan dengan masyarakat. Namun langkah nyata dari pencegahan dilakukan dengan memperluas jaringan desa tangguh bencana (Destana) di Gunungkidul.
“Memang belum menyasar ke seluruh wilayah, tapi BPBD akan terus memperluas jaringan destana. Untuk tahun depan sudah disiapkan enam paket pendirian destana baru,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kapanewon di Gunungkidul menyiapkan anggaran droping air bersih menghadapi musim kemarau panjang 2026 yang diprediksi berlangsung tujuh bulan.
Sembilan provinsi memperbolehkan bayar pajak kendaraan 2026 tanpa KTP pemilik lama untuk STNK tahunan kendaraan bekas.
Dishub Bantul menertibkan PKU dengan tagihan listrik membengkak hingga Rp1 juta per bulan di ratusan titik penerangan kampung.
OJK mencatat pembiayaan perbankan syariah tumbuh 9,82% menjadi Rp716,40 triliun hingga Maret 2026.
Prabowo menyebut 1.061 Koperasi Merah Putih berhasil dioperasikan dalam tujuh bulan untuk memperkuat ekonomi desa.
BPBD Temanggung memetakan 12 kecamatan rawan kekeringan pada musim kemarau 2026 dan menyiapkan distribusi air bersih.