Makna Podhang Ngisep Sari, Ikon Gunungkidul yang Berkibar saat HUT RI
Podhang Ngisep Sari ikut berkibar di berbagai ruas jalan Gunungkidul menjelang HUT RI ke-81. Simak sejarah dan makna ikon resmi daerah ini.
Ilustrasi. /Antara Foto
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Alat pendeteksi gempa di Gunungkidul bakal ditambah. Rencananya bantuan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) ini akan dipasang di wilayah Kecamatan Panggang.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki, mengatakan saat ini alat pendeteksi gempa sudah terpasang di sejumlah wilayah. Selain terpasang di area Kantor BPBD, alat juga dipasang di kawasan Hutan Wanagama, di wilayah Kecamatan Gedangsari dan di Balai Desa Sidoharjo, Kecamatan Tepus.
Menurut dia, alat yang terpasang merupakan bantuan dari BMKG serta bantuan dari Jepang melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Rencananya, lokasi pemasangan ditambah dan titiknya berada di kawasan Polsek Panggang. “Kalau jadi dipasang maka ada lima alat pendeteksi gempa di seluruh wilayah Gunungkidul,” katanya kepada wartawan, akhir pekan kemarin.
Menurut dia, alat ini berfungsi mengetahui titik dan kekuatan aktivitas kegempaan. Edy mencontohkan alat yang terpasang di Kantor BPBD terdiri dari dua komponen. Satu unit dipasang di halaman BPBD yang tersambung dengan satu unit alat yang terdiri dari perangkat elektronik lengkap dengan monitor kecil terpasang di ruangan kerja kepala pelaksana BPBD.
“Alat ini semua saling terkoneksi dan datanya langsung terekam oleh BMKG, tapi kami juga bisa melihat berapa kekuatan gempa yang terjadi lewat monitor yang terpasang,” katanya.
Untuk antisipasi kebecanaan, BPBD Gunungkidul terus menyosialisasikan antisipasi bencana melalui program mitigasi, salah satunya dengan memperluas jaringan desa tangguh bencana. “Upaya mitigasi ini sangat penting agar dampak bencana bisa ditekan sekecil mungkin,” katanya.
Disinggung mengenai keberadaan early warning system (EWS) atau alat deteksi dini bencana baik longsor dan tsunami, Edy tidak menampik banyak alat yang rusak. Ia mencontohkan untuk EWS longsor terdapat di 30 titik, namun dari jumlah tersebut hanya tiga yang berfungsi. Hal yang sama juga terjadi pada EWS tsunami. Dari delapan alat yang terpasang di kawasan pantai, hanya satu yang masih bisa berfungsi. “Alat di Pantai Baron yang masih bisa berbunyi sirinenya. Kami sebenarnya sudah meminta pengganti ke BNPB, tapi belum ada tindak lanjut hingga sekarang,” katanya.
Anggota DPRD Gunungkidul, Supriyadi, berharap agar alat pencatat gempa ini dirawat sehingga dapat berfungsi secara normal. Menurut dia, peralatan seperti ini sangat membantu dalam upaya mitigasi bencana di Bumi Handayani. “Harus dijaga dan jangan sampai rusak,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Podhang Ngisep Sari ikut berkibar di berbagai ruas jalan Gunungkidul menjelang HUT RI ke-81. Simak sejarah dan makna ikon resmi daerah ini.
BMKG menetapkan status Siaga tsunami hingga 3 meter setelah gempa M7,7 mengguncang Nagekeo, NTT, Sabtu pagi.
Artis Celine Evangelista hadir dalam gelaran Jogja Fashion Week (JFW) 2026 dengan membagikan pengalaman dalam berbinis busana muslimah syar'i.
Penyalahgunaan narkoba dan psikotropika tidak hanya merusak kondisi fisik, tetapi juga dapat memicu kecanduan berat akibat perubahan sistem dopamin di otak
Merah Putih Malioboro 2026 digelar Sabtu 15 Agustus. Cek 8 titik penutupan dan pengalihan arus lalu lintas di Jogja.
Rosan Roeslani menyebut 110 investor dan family office Asia merespons positif pengembangan PFII yang tahap awalnya disiapkan di Jakarta.